Key Discussion: DPR dalami pengembangan pariwisata KEK Kura Kura Bali

DPR Dalami Pengembangan Pariwisata KEK Kura Kura Bali

Key Discussion – Denpasar, Senin (15 Mei 2024) – Komisi VII DPR RI terus memperdalam studi tentang potensi pengembangan pariwisata di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali. Tujuan utama dari kunjungan kerja ini, menurut Ketua Tim yang hadir, adalah memahami konsep dan tujuan pengembangan KEK tersebut secara menyeluruh. “Kami ingin mengetahui bagaimana visi mereka dalam mengembangkan kawasan ini, apakah hanya fokus pada aspek ekonomi atau juga mencakup dampak sosial dan lingkungan,” jelas Evita Nursanty, yang mewakili anggota dewan. Dalam pemeriksaan ini, Evita menekankan pentingnya keselarasan antara investasi dan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Isu Lingkungan dan Budaya Lokal

Selama proses studi, beberapa masalah muncul yang dinilai perlu menjadi perhatian serius. Komisi VII fokus pada dua aspek utama: keberlanjutan lingkungan dan pelestarian budaya. Terkait lingkungan, dewan mengkhawatirkan praktik tukar guling lahan KEK yang dinilai berpotensi mengurangi ruang hijau. Selain itu, isu penguburan mangrove di area sekitar serta kumpulkan sampah di TPA Suwung, yang berada di jalur masuk kawasan, menjadi sorotan. “Sampah yang menumpuk di sana masih menjadi masalah, meski sudah ada upaya pengendalian dari pemerintah daerah,” tambah Evita. Ia juga menyoroti pengembangan marina yang mempercepat pemanfaatan lahan reklamasi, sebagian besar mencapai 300 hektare dari total 498 hektare KEK.

“Semua proses yang kita lakukan mengikuti regulasi, tapi tantangan teknis lebih banyak tentang persepsi masyarakat. Kami harus menjawabnya,” ujar Tantowi Yahya, Presiden Komisaris PT Bali Turtle Island Development (BTID), saat menjelaskan langkah perusahaan dalam pengembangan kawasan tersebut.

Evita menekankan bahwa pengembangan KEK Kura Kura Bali tidak boleh hanya menjadi proyek ekonomi semata. “Kami ingin memastikan bahwa keberhasilan ini bisa memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat Bali, bukan hanya sekadar menarik investasi,” katanya. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga ekosistem lokal, terutama dalam menghadapi masalah pemanasan global dan kerusakan lingkungan yang semakin mengemuka. Dengan demikian, Komisi VII berharap KEK ini bisa menjadi contoh keberlanjutan pariwisata yang bisa dicontoh oleh kawasan lain di Indonesia.

Komitmen Pemda dan Regulasi KEK

Dalam pembahasan, Evita menyebut bahwa pemerintah daerah telah memulai upaya mengendalikan masalah sampah dan melibatkan masyarakat dalam proses pengembangan. “Sampai saat ini, pemda sedang membahas suplai air karena luas lahan reklamasi yang signifikan, sekitar 300 hektare, memerlukan sistem pengelolaan yang matang,” jelasnya. Ia juga mengingatkan bahwa transparansi dalam penggunaan lahan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Selain itu, Evita menyinggung tentang keberlanjutan dalam penggunaan lahan KEK. “Kita harus memastikan bahwa tukar guling lahan dilakukan secara adil, tidak hanya merugikan lingkungan tetapi juga masyarakat sekitar,” katanya. Ia menambahkan bahwa pengembangan marina, yang menjadi salah satu infrastruktur prioritas, perlu didampingi oleh kebijakan yang mengedepankan keberlanjutan. “Marina tidak hanya menguntungkan industri pariwisata, tapi juga memperkuat identitas budaya lokal Bali,” ujar Evita.

Di sisi lain, Tantowi Yahya mengakui bahwa keberlanjutan lingkungan adalah fokus utama PT BTID dalam pengembangan KEK Kura Kura Bali. “Kami telah mengikuti berbagai regulasi, termasuk undang-undang dan peraturan terkait pembangunan dan pengelolaan lingkungan hidup,” katanya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan proyek ini bergantung pada keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah. “Persepsi masyarakat tentang proyek ini perlu diubah, agar mereka melihatnya sebagai peluang bukan ancaman,” lanjut Tantowi.

Potensi Ekonomi dan Peluang Kerja

Menurut Tantowi, pengembangan marina menjadi penting karena Indonesia masih keterlambatan dibandingkan negara tetangga seperti Singapura dan Thailand yang telah banyak membangun infrastruktur marina. “Marina bukan hanya untuk menarik wisatawan, tapi juga memperkuat keterhubungan ekonomi antar daerah,” jelasnya. Ia menjelaskan bahwa marina akan menjadi titik kumpul aktivitas ekonomi, termasuk wisata bawah air, olahraga air, dan bisnis kuliner. “Dengan marina, kami berharap banyak warga lokal bisa diberi kesempatan kerja,” ujarnya.

Komisi VII juga menyatakan bahwa KEK Kura Kura Bali memiliki peluang besar untuk menjadi kawasan pariwisata terpadu yang mampu menarik minat wisatawan nasional dan internasional. “Kita harus memastikan bahwa semua aspek pengembangan ini selaras, termasuk pendidikan masyarakat dan perlindungan keanekaragaman hayati,” katanya. Evita menambahkan bahwa langkah-langkah seperti penghijauan, peningkatan infrastruktur, dan penyuluhan lingkungan harus diintegrasikan ke dalam rencana pengembangan. “Pariwisata yang berkualitas tidak bisa dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan dan keterlibatan masyarakat,” ujar Evita.

Menurut Tantowi, proyek ini juga dirancang untuk memperkuat pengelolaan sumber daya alam dan ekonomi lokal. “Kami berharap penggunaan lahan reklamasi bisa memberi manfaat kepada masyarakat, seperti meningkatkan akses air bersih dan memperluas ruang hijau,” katanya. Ia juga menekankan bahwa seluruh proses pengembangan KEK Kura Kura Bali telah melewati evaluasi ekspertis dan kompeten, agar tidak merusak ekosistem di sekitarnya. “Selama 5 tahun terakhir, kami sudah melakukan beberapa langkah untuk menjamin keberlanjutan,” jelasnya.

Salah satu isu yang paling menonjol adalah penguburan mangrove. Evita menyatakan bahwa mangrove adalah bagian penting dari ekosistem pesisir Bali, yang bisa menjadi penghalang abrasi dan penyerap karbon. “Kami ingin memastikan bahwa penguburan mangrove ini tidak mengurangi fungsi ekologisnya, tetapi justru diperbaiki,” katanya. Dalam konteks ini, pemerintah daerah dan PT BTID diharapkan bisa bermitra untuk menemukan solusi yang seimbang.

Kunjungan kerja Komisi VII juga membahas peran KEK Kura Kura Bali dalam mendorong pariwisata berkelanjutan. “KEK ini bisa menjadi model yang baik, selama pengembangannya berorientasi pada ekonomi dan lingkungan secara seimbang,” ujar Evita. Ia berharap masyarakat Bali bisa mendapatkan manfaat langsung dari proyek ini, seperti peningkatan pendapatan dan akses ke fasilitas layanan wisata. “Kami percaya bahwa pengembangan KEK ini bisa menjadi aset berharga untuk masyarakat dan lingkungan,” pungkasnya.

Tantowi Yahya menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan KEK Kura Kura Bali akan bergantung pada konsistensi komitmen pengelolaan yang