Key Strategy: BI: Kenaikan surplus dagang pada Maret perkuat ketahanan eksternal

Bank Indonesia Apresiasi Peningkatan Surplus Neraca Perdagangan Maret 2026

Key Strategy – Dari Jakarta, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa peningkatan surplus neraca perdagangan pada bulan Maret 2026, mencapai angka 3,32 miliar dolar AS, menjadi pencapaian yang bermanfaat dalam memperkuat daya tahan eksternal perekonomian Indonesia. Kenaikan ini menunjukkan kemajuan positif dibandingkan dengan bulan sebelumnya, di mana surplus pada Februari 2026 hanya tercatat sebesar 1,27 miliar dolar AS. Dengan demikian, BI melihat bahwa kondisi perdagangan yang lebih baik berpotensi mendukung stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Data BPS: Surplus Maret Melebihi Bulan Sebelumnya

Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan pada Maret 2026 mengalami peningkatan signifikan. Capaian ini menunjukkan bahwa ekspor Indonesia pada periode tersebut berhasil mengatasi impor, menciptakan ketahanan lebih baik dalam transaksi internasional. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam pernyataannya di Jakarta, Senin, menyatakan bahwa kebijakan yang dijalankan oleh BI akan terus dioptimalkan untuk menjaga keseimbangan eksternal.

“Kebijakan yang diimplementasikan Bank Indonesia secara terus menerus berkoordinasi dengan pemerintah serta lembaga otoritas lain, sehingga mampu memperkuat ketahanan eksternal dan menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Ramdan Denny Prakoso.

Komposisi Surplus dan Defisit Neraca Perdagangan

Peningkatan surplus neraca perdagangan terutama didorong oleh surplus dari sektor non-minyak, yang mencapai 5,21 miliar dolar AS pada Maret 2026. Angka ini sejalan dengan kenaikan ekspor non-minyak yang mencapai 21,25 miliar dolar AS. BI menyoroti bahwa pertumbuhan ekspor di sektor ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan nilai ekspor berbasis sumber daya alam, seperti logam mulia, perhiasan, serta permata, serta komoditas mineral dan produk manufaktur.

Sementara itu, neraca perdagangan migas menunjukkan defisit yang meningkat. Pada Maret 2026, defisit ini mencapai 1,89 miliar dolar AS, dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Peningkatan defisit migas terjadi karena peningkatan impor migas yang lebih besar daripada kenaikan ekspor di sektor tersebut. Meskipun demikian, BI tetap optimis bahwa surplus non-migas dapat menyeimbangkan tekanan dari defisit migas.

Negara Tujuan Utama Ekspor Indonesia

Pada bulan Maret 2026, Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan India tetap menjadi tujuan utama untuk ekspor non-migas Indonesia. Ketiga pasar tersebut berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekspor, dengan total nilai yang mencapai sekitar 21,25 miliar dolar AS. BI menekankan bahwa keberlanjutan ekspor ke negara-negara tersebut sangat penting dalam menjaga keseimbangan neraca perdagangan nasional.

Di sisi lain, kenaikan ekspor non-migas juga mencerminkan peningkatan daya saing produk Indonesia di pasar global. Produk seperti besi dan baja, yang merupakan bagian dari sektor manufaktur, berhasil menarik minat pembeli internasional. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu memperluas pangsa pasar ekspor, sekaligus meningkatkan pendapatan devisa negara.

Pola Ekspor dan Impor: Dampak pada Neraca Perdagangan

Peningkatan ekspor non-migas pada Maret 2026 juga menunjukkan perbaikan dalam struktur perdagangan Indonesia. BI menyebutkan bahwa peningkatan ini berdampak langsung pada surplus neraca perdagangan, yang sebelumnya tergantung pada sektor-sektor tertentu. Dengan adanya pertumbuhan ekspor berbasis sumber daya alam, Indonesia bisa memperkuat posisi ekonomi di tengah tantangan global.

Berkaca pada tren impor, BI mencatat bahwa kenaikan impor migas menjadi faktor utama yang memengaruhi defisit neraca perdagangan. Namun, BI berupaya untuk mengimbangi hal ini melalui kebijakan stabilisasi ekonomi, seperti pengelolaan keuangan luar negeri dan peningkatan efisiensi produksi dalam negeri. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menekan defisit migas dan meningkatkan surplus secara keseluruhan.

Kebijakan BI untuk Memperkuat Ketahanan Eksternal

Kebijakan BI terus dilakukan secara sinergis dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas eksternal perekonomian. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa upaya ini tidak hanya fokus pada peningkatan surplus, tetapi juga pada pengendalian biaya impor serta penguatan nilai tukar rupiah. BI mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengurangi risiko ketergantungan pada impor yang berlebihan.

Menurut Ramdan Denny Prakoso, kinerja positif ekspor non-migas juga menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam meningkatkan pendapatan devisa. Hal ini berdampak positif pada kondisi keuangan negara, yang secara langsung memperkuat kepercayaan investor dan masyarakat internasional terhadap perekonomian Indonesia.

Kontribusi Sektoral dalam Peningkatan Surplus

Dalam menganalisis dinamika neraca perdagangan, BI menyoroti peran sektor non-migas sebagai penyangga utama pertumbuhan ekonomi. Penurunan defisit migas, meskipun masih terjadi, diimbangi oleh peningkatan surplus non-migas yang signifikan. Tren ini menunjukkan bahwa ekspor non-migas semakin menjadi sumber utama pendapatan devisa, yang menjadi daya tarik bagi perekonomian Indonesia.

Peningkatan ekspor berbasis sumber daya alam, seperti logam mulia dan permata, serta bahan bakar mineral, mencerminkan keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan kekayaan alamnya. Sebaliknya, peningkatan impor migas menunjukkan adanya kebutuhan akan bahan bakar dan komoditas lain yang diproduksi oleh negara-negara lain. BI memperkirakan bahwa keseimbangan ini akan terus diperhatikan dalam beberapa bulan ke depan.

Strategi Jangka Panjang untuk Keseimbangan Eksternal

BI berkomitmen untuk mendorong keseimbangan eksternal perekonomian melalui berbagai kebijakan yang terkoordinasi. Dalam keterangannya, Ramdan Denny Prakoso menyebutkan bahwa strategi ini mencakup penguatan sektor produksi dalam negeri, pengelolaan utang luar negeri yang efisien, serta peningkatan daya saing produk ekspor. Dengan demikian, BI tidak hanya fokus pada data jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka