Hukum

Wamenkopolkam: Indonesia memasuki tahun keempat zero attact terorisme

Foto : Sari Rahman - bisadonasi.com
Daftar Isi
  1. Empat Tahun Tanpa Serangan Teror: Indonesia Dipanggil Menjaga Kewaspadaan di Tengah Ketenangan
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Empat Tahun Tanpa Serangan Teror: Indonesia Dipanggil Menjaga Kewaspadaan di Tengah Ketenangan

Bisadonasi.com – Di tengah suasana khidmat peringatan Hari Peringatan dan Penghormatan Internasional untuk Para Korban Terorisme Tahun 2026 yang digelar di Jakarta pada hari Jumat, satu pesan tegas bergema dari panggung negara: Indonesia telah melewati tiga tahun penuh tanpa satu pun aksi terorisme yang tercatat, dan kini melangkah memasuki tahun keempat kondisi tersebut. Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Lodewijk F. Paulus, menyampaikan pernyataan itu di hadapan hadirin yang memadati ruang acara, menegaskan bahwa ketenangan yang dinikmati masyarakat bukan sesuatu yang boleh dianggap sebagai keniscayaan permanen.

Makna “Zero Attack” dalam Konteks Sejarah Terorisme Nusantara

Istilah “zero attack” merujuk pada kondisi di mana tidak terjadi satu pun serangan terorisme atau aksi kekerasan berbasis ideologi ekstrem di wilayah manapun dalam rentang waktu tertentu. Bagi Indonesia, pencapaian ini memiliki bobot sejarah yang sangat berat. Sepanjang dua dekade terakhir, negeri ini berulang kali diuji oleh gelombang teror yang merenggut ratusan nyawa warga sipil. Pemboman di Bali pada tahun 2004 dan 2005, serangan di Surabaya tahun 2016, penembakan di Markas Besar Polri tahun 2018, hingga ledakan di tiga gereja Jakarta pada Januari 2019—semuanya menjadi pengingat bahwa ancaman terorisme bukan sekadar ancaman teoretis, melainkan pengalaman kolektif yang masih segar dalam ingatan publik.

Masuknya Indonesia ke tahun keempat tanpa serangan berarti bahwa sejak sekitar pertengahan 2022, tidak ada satu pun insiden yang memenuhi definisi aksi terorisme sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Kondisi ini bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari kerja panjang aparat keamanan, koordinasi lintas lembaga, serta upaya deradikasi yang dijalankan secara berkelanjutan oleh berbagai pemangku kepentingan.

Pesan Kewaspadaan dari Puncak Peringatan

Di hadapan para korban, keluarga korban, dan pejabat negara yang hadir dalam acara peringatan internasional tersebut, Lodewijk F. Paulus menyampaikan ajakan agar masyarakat tidak mengendurkan perhatian terhadap potensi ancaman. Ia menekankan bahwa kewaspadaan nasional merupakan fondasi yang harus dijaga secara kolektif, bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum.

“Mari kita terus jaga kewaspadaan nasional terhadap aksi terorisme. Alhamdulillah, zero attack ini sudah masuk tahun keempat. Ini yang terus kita jaga.”

Pernyataan tersebut mengandung dua lapis pesan sekaligus. Pertama, pengakuan bahwa pencapaian empat tahun tanpa serangan adalah hasil yang patut disyukuri dan dirayakan secara nasional. Kedua, peringatan bahwa ketenangan bukan berarti ancaman telah lenyap. Pola sejarah menunjukkan bahwa jeda panjang antara satu gelombang teror dan gelombang berikutnya sering kali menjadi masa di mana organisasi-organisasi kecil menyusun ulang strategi, merekrut anggota baru, dan mencari celah untuk kembali beroperasi.

Dimensi Internasional dan Peran Indonesia

Acara peringatan yang menjadi panggung pernyataan tersebut sejatinya merupakan bagian dari komitmen global yang diadopsi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Setiap tahun, dunia memperingati korban terorisme sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat bahwa terorisme adalah musuh bersama umat manusia. Indonesia, sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode tertentu, memiliki posisi strategis dalam forum-forum multilateral yang membahas pemberantasan terorisme.

Di tingkat kawasan, Indonesia aktif dalam kerangka kerja sama ASEAN untuk penanganan terorisme, termasuk pertukaran informasi intelijen, pelatihan bersama aparat keamanan, serta harmonisasi regulasi antar negara anggota. Keberhasilan menjaga kondisi “zero attack” di dalam negeri turut memperkuat kredibilitas Indonesia sebagai mitra yang andal dalam arsitektur keamanan kawasan Asia Tenggara.

Apa yang Diperlukan untuk Mempertahankan Status Ini

Mempertahankan kondisi tanpa serangan teror selama tahun-tahun berikutnya menuntut beberapa hal konkret. Pertama, penguatan kapasitas deteksi dini di tingkat komunitas, di mana warga berperan sebagai mata dan telinga pertama sebelum ancaman berkembang menjadi aksi. Kedua, keberlanjutan program pembinaan dan deradikasi bagi mantan narapidana terorisme serta keluarga mereka, agar siklus radikalisasi tidak terulang. Ketiga, sinergi antara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, kepolisian, TNI, dan pemerintah daerah dalam pemantauan wilayah-wilayah yang secara historis rawan. Keempat, literasi publik yang memadai agar masyarakat mampu membedakan antara perbedaan pandangan dan ancaman nyata, sehingga tidak terjadi kepanikan berlebihan maupun kecerobohan yang membuka ruang bagi provokasi.

Empat tahun tanpa serangan adalah pencapaian yang layak dibanggakan. Namun, sebagaimana diingatkan oleh Lodewijk F. Paulus dalam pidatonya di Jakarta, kebanggaan itu hanya memiliki makna jika disertai kesiapsiagaan. Ketenangan yang dijaga dengan mata terbuka akan bertahan; ketenangan yang dijaga dengan mata tertutup hanya menunggu waktu untuk diuji kembali.

Frequently Asked Questions

What is Wamenkopolkam?

Wamenkopolkam is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Wamenkopolkam matter?

Wamenkopolkam matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Sari Rahman - bisadonasi.com

Sari Rahman - bisadonasi.com

Sari Rahman adalah penulis yang aktif mengangkat isu-isu kemanusiaan, khususnya terkait perempuan dan anak. Ia memiliki pengalaman bekerja sama dengan berbagai komunitas sosial dalam program pemberdayaan masyarakat.

Melalui tulisannya, Sari ingin menginspirasi lebih banyak orang untuk peduli dan berkontribusi dalam menciptakan perubahan.