Kapolda Papua Tengah ajak kolaborasi kelola kawasan Carstensz
Daftar Isi
Puncak Carstensz dan Ambisi Pariwisata Papua Tengah: Kapolda Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
Bisadonasi.com – Pengibaran Sang Merah Putih di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut pada Kamis bukan sekadar seremoni peringatan kemerdekaan. Bagi Brigadir Jenderal Polisi Jeremias Rontini, Kapolda Papua Tengah, momen di puncak tertinggi Asia Tenggara itu menjadi panggung untuk menyampaikan pesan strategis: kawasan Carstensz harus dikelola secara kolaboratif agar menjadi destinasi wisata yang aman, profesional, dan berdaya guna ekonomi bagi masyarakat setempat.
Setelah memimpin upacara pengibaran bendera di Puncak Carstensz, Papua Tengah, Jeremias langsung menyerukan kerja sama antara Pemerintah Provinsi Papua Tengah, pemerintah kabupaten di sekitar kawasan, masyarakat adat, dan pelaku usaha swasta. Ia menegaskan bahwa tanpa sinergi lintas sektor, potensi luar biasa yang dimiliki kawasan pegunungan ini tidak akan pernah tergarap secara optimal.
“Ini sebuah kebanggaan bagi saya pribadi karena ini kali kedua. Tahun 2013 lalu saya lakukan hal yang sama sebagai Kapolres Mimika saat itu,” kata Jeremias.
Dimensi Ekonomi dan Kontribusi PAD
Jeremias menyoroti bahwa pengelolaan kawasan Carstensz secara profesional akan membuka ruang bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. Ia menyebut secara eksplisit lima kabupaten yang secara geografis berdekatan dengan kawasan pegunungan tersebut: Mimika, Intan Jaya, Puncak, Paniai, dan Deiyai. Kelima daerah ini, menurutnya, memiliki kepentingan langsung dalam memastikan bahwa aktivitas pariwisata tidak hanya menjadi tontonan, tetapi benar-benar mengalirkan manfaat ekonomi ke kantong-kantong masyarakat lokal.
“Mari kita kolaborasi untuk mengelola kawasan pariwisata ini menjadi kawasan yang menghasilkan bagi masyarakat Provinsi Papua Tengah,” ajaknya.
Konteks geografis memperkuat urgensi ajakan tersebut. Kabupaten Mimika, yang berjarak paling dekat dari kawasan Carstensz, diposisikan oleh Jeremias sebagai penerima manfaat utama dari pengembangan wisata. Hal ini berarti infrastruktur akses, layanan keamanan, dan pengelolaan limbah wisata akan menjadi tanggung jawab bersama yang tidak bisa dibebankan pada satu entitas saja.
Lingkungan dan Habitat: Garis Batas yang Tidak Bisa Dikompromikan
Di samping kalkulasi ekonomi, Jeremias menempatkan kelestarian ekosistem pegunungan sebagai syarat mutlak. Ia menekankan pentingnya mengembalikan habitat asli tumbuhan yang tumbuh di sekitar kawasan. Bagi kawasan setinggi hampir 4.900 mdpl, setiap intervensi manusia—baik berupa jalur pendakian, fasilitas akomodasi, maupun aktivitas komersial—harus dirancang agar tidak merusak keseimbangan ekologis yang telah terbentuk selama ribuan tahun.
“Kita sama-sama menjaga kawasan ini, lingkungan ini, khususnya dari sisi bagaimana kita kembalikan habitat, habitat asli tumbuhan yang ada di sekitar sini,” ungkap dia.
Kawasan pegunungan Carstensz, yang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Schwaner di Papua, menyimpan keanekaragaman hayati yang belum sepenuhnya terpetakan secara ilmiah. Tekanan dari aktivitas wisata yang tidak terkendali dapat mempercepat degradasi vegetasi alpine dan mengganggu siklus hidrologi yang menopang aliran sungai-sungai besar di wilayah Papua Tengah. Oleh karena itu, penekanan Jeremias pada restorasi habitat bukan sekadar retorika lingkungan, melainkan prasyarat teknis agar kawasan tetap layak dikunjungi dalam jangka panjang.
Daya Tarik Alam dan Budaya sebagai Aset Wisata
Jeremias mengidentifikasi tiga pilar daya tarik kawasan: keindahan panorama alam, formasi batuan yang unik, serta kehadiran masyarakat adat dengan budaya dan pakaian tradisional mereka. Kombinasi ketiganya menjadikan Carstensz bukan sekadar tujuan pendakian teknis, melainkan pengalaman budaya-alam yang sulit ditandingi oleh destinasi lain di kawasan Asia Tenggara.
Pengembangan potensi ini, menurutnya, menuntut partisipasi aktif masyarakat adat sebagai pemilik sah ruang budaya. Tanpa pengakuan dan pelibatan mereka dalam perencanaan, wisata berisiko berubah menjadi eksploitasi visual yang mengabaikan martabat komunitas lokal.
Komitmen Bersama: Kebersihan, Keamanan, dan Kedaulatan
Menutup pesannya, Jeremias menyerukan tanggung jawab kolektif—pemerintah, swasta, masyarakat adat, dan warga setempat—untuk menjaga kebersihan, keamanan, dan kelestarian kawasan. Ia mengaitkan upaya tersebut langsung dengan kepentingan negara: setiap rupiah yang dihasilkan dari pariwisata yang tertata rapi pada akhirnya menjadi kontribusi bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Mari sama-sama kita jaga lingkungan ini. Kita jaga kawasan ini sama-sama, jaga kebersihannya, jaga habitat yang hidup di atas tanah ini sehingga bisa sama-sama memberikan kontribusi bagi lingkungan, bagi masyarakat, dan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Harapan akhir yang disampaikan Jeremias adalah agar kawasan Carstensz berkembang menjadi destinasi yang aman dan kondusif bagi wisatawan. Dengan posisi strategis sebagai puncak tertinggi di Asia Tenggara dan kedekatan geografis dengan Kabupaten Mimika, kawasan ini memiliki peluang nyata untuk menjadi ikon pariwisata Papua Tengah—asalkan kolaborasi yang ia serukan benar-benar diwujudkan dalam kebijakan, anggaran, dan tindakan nyata di lapangan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kapolda Papua Tengah ajak kolaborasi kelola?
Kapolda Papua Tengah ajak kolaborasi kelola is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kapolda Papua Tengah ajak kolaborasi kelola matter?
Kapolda Papua Tengah ajak kolaborasi kelola matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.