Key Discussion: Rupiah melemah seiring berhentinya negosiasi AS-Iran

Rupiah Melemah karena Kemandekan Perundingan AS-Iran

Key Discussion – Rupiah mengalami pelemahan pada Rabu pagi sebesar 32 poin atau 0,19 persen, mencapai Rp17.275 per dolar AS dari penutupan hari sebelumnya di Rp17.243. Penguatan dolar AS terjadi setelah perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran terhenti, menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan hal ini dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Rabu. Menurut Josua, keterhambatan perundingan berdampak signifikan pada nilai tukar rupiah, terutama karena mengurangi harapan stabilisasi harga minyak yang sebelumnya didorong oleh proses negosiasi.

Kehawatiran Inflasi Global Meningkat

Perundingan antara AS dan Iran yang terhenti telah menyebabkan kenaikan harga minyak yang terus berlanjut sejak sesi Asia pada hari Selasa (28/4). Peningkatan harga energi ini memicu kekhawatiran akan inflasi global, yang secara langsung memengaruhi kinerja mata uang Asia, termasuk rupiah. “Ketegangan politik yang berlangsung menjelma menjadi faktor tekanan untuk mata uang, terutama karena efek dari naiknya harga minyak,” jelas Josua dalam wawancara tersebut. Menurut analis, tekanan ini berpotensi mengubah kebijakan moneter bank sentral AS, yang secara tak langsung memengaruhi dinamika nilai tukar rupiah.

“Harga minyak terus meningkat sejak sesi Asia hari Selasa (28/4), didorong oleh mandeknya negosiasi perdamaian antara AS dan Iran. Akibatnya, kekhawatiran terhadap inflasi global semakin meningkat, sehingga menekan mata uang Asia, termasuk rupiah,” ujar Josua Pardede.

Iran Tawarkan Proposal Baru untuk Selat Hormuz

Iran telah menyampaikan proposal baru pada pekan ini untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting pengangkutan minyak. Namun, pihak-pihak di Washington cenderung skeptis terhadap tawaran tersebut, mengingat proposal Iran mengandung penundaan pembicaraan mengenai aktivitas nuklirnya. Presiden AS, Donald Trump, mengecam proposal terbaru Iran yang bertujuan menyelesaikan perang, karena dianggap kurang memadai dalam mencapai kesepakatan jangka panjang.

Sumber dari Iran mengungkapkan bahwa proposal yang ditawarkan Teheran tidak langsung menyentuh isu nuklir, melainkan fokus pada penyelesaian konflik saat ini. “Program nuklir Iran dijadwalkan dibahas setelah permusuhan berakhir dan sengketa pelayaran di Teluk diselesaikan,” kata sumber tersebut. Hal ini menimbulkan kecemasan di kalangan investor, karena kelanjutan konflik bisa memperpanjang tekanan pada harga minyak dan pasar keuangan.

Ketegangan Geopolitik Berdampak pada Kebijakan Ekonomi

Ketegangan antara AS dan Iran yang belum terselesaikan telah memicu perubahan dramatis dalam harga komoditas, terutama minyak. Penutupan Selat Hormuz menjadi pemicu utama, yang berdampak pada pasokan global dan harga energi. Situasi ini meningkatkan ekspektasi tentang kenaikan inflasi, sehingga mendorong bank sentral AS untuk lebih hati-hati dalam menentukan kebijakan moneter. Josua menekankan bahwa ketidakpastian dari perundingan perdamaian menjadi faktor utama yang menyebabkan stagnasi rupiah.

“Semalam, UAE mengumumkan keputusannya untuk keluar dari OPEC dan OPEC+, yang menambah kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan geopolitik,” kata Josua Pardede.

Keputusan Uni Emirat Arab (UAE) untuk menarik diri dari OPEC dan OPEC+ berlaku efektif mulai 1 Mei 2026. Tindakan ini memberi tekanan tambahan pada pasokan minyak global, karena UAE adalah salah satu produsen minyak penting. Kesepakatan ini memperkuat ketakutan bahwa kebijakan ekspor minyak akan berubah, memengaruhi harga global dan permintaan mata uang Asia.

Perspektif Jangka Pendek dan Panjang

Berdasarkan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp17.200 hingga Rp17.325 per dolar AS. Josua menyatakan bahwa pergerakan rupiah tergantung pada dinamika perundingan antara AS dan Iran, serta keputusan politik lain yang berdampak langsung pada pasar. “Dengan ketidakpastian yang terus berlangsung, investor lebih cenderung mengalihkan modal ke mata uang yang dianggap lebih stabil,” katanya.

Kebijakan moneter The Fed diperkirakan akan lebih agresif dalam mengatasi inflasi, yang berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan rupiah. Namun, faktor-faktor eksternal seperti kebijakan negara-negara lain dalam organisasi energi atau kembalinya kepercayaan terhadap negosiasi perdamaian bisa menjadi penyelamat untuk pasar keuangan. Josua menambahkan bahwa harga minyak yang tinggi juga memperparah tekanan terhadap rupiah, karena menimbulkan inflasi di sektor domestik.

Menurut ekonom, sementara ketegangan dengan Iran bisa memperpanjang dampak negatif terhadap rupiah, kebijakan domestik seperti kenaikan bunga atau inflasi yang mengakibatkan tekanan terhadap daya beli masyarakat juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. “Dolar AS akan terus menjadi pilihan utama investor, terutama dalam situasi ketidakpastian global,” tambah Josua. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tetap rentan terhadap perubahan kebijakan luar negeri, meskipun pemerintah telah berupaya memperkuat stabilitas keuangan dalam beberapa tahun terakhir.

Kebutuhan Stabilitas dalam Perundingan Global

Perundingan antara AS dan Iran merupakan faktor kunci dalam menentukan harga minyak global, yang secara langsung berdampak pada ekonomi Indonesia. Josua menyoroti bahwa penyelesaian konflik ini akan menjadi kebutuhan utama bagi investor, karena mengurangi risiko tekanan pada pasar keuangan. “Kesepakatan yang diperoleh antara kedua pihak bisa mengurangi ketidakpastian dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” katanya. Namun, sampai saat ini, proses negosiasi masih terhambat, sehingga membuat rupiah tetap terpantau.

Di sisi lain, keputusan UAE untuk keluar dari OPEC dan OPEC+ juga menjadi perhatian utama. Langkah ini memicu perdebatan tentang peran organisasi energi dalam menentukan harga minyak. Sementara itu, Indonesia masih mengandalkan ekspor minyak sebagai sektor pendapatan utama, sehingga fluktuasi harga energi bisa memengaruhi perekonomian. Dengan demikian, dinamika rupiah tidak hanya tergantung pada perundingan AS-Iran, tetapi juga pada kebijakan luar negeri yang terkait dengan pasokan global.

Kondisi pasar keuangan saat ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia membutuhkan penstabilan lebih lanjut, terutama dalam menghadapi tekanan inflasi yang makin tinggi. Rupiah diperkirakan akan terus bergerak dalam kisaran yang dinyatakan oleh Josua, namun jangka waktu dan tingkat pelemahan bisa berubah tergantung pada perkembangan perundingan dan kebijakan moneter internasional. Dengan semua faktor tersebut, kestabilan ekonomi Indonesia masih menjadi fokus utama dalam kondisi global yang dinamis.