Solving Problems: VIDA sebut keamanan identitas digital penting bagi ekosistem fintech
VIDA sebut keamanan identitas digital penting bagi ekosistem fintech
Solving Problems – Sebagai bagian dari upaya menjaga integritas teknologi keuangan digital, Niki Luhur, pendiri dan Group CEO PT Indonesia Digital Identity (VIDA), menekankan peran sentral dari infrastruktur identitas digital dalam menopang pertumbuhan industri fintech di Indonesia. Dalam sebuah pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu, ia menyoroti kenaikan signifikan ancaman siber yang saat ini mengintai berbagai layanan keuangan digital. Menurut Niki, kemajuan teknologi tidak hanya membawa peluang tetapi juga berpotensi memperbesar risiko penipuan, khususnya jika tidak diimbangi dengan perlindungan yang memadai.
Modus kejahatan digital semakin rumit
Niki menjelaskan bahwa taktik para pelaku kejahatan siber kini telah berkembang secara signifikan, bahkan mencakup strategi yang lebih canggih dibandingkan sebelumnya. “Scam kini tidak hanya berupa penipuan sederhana, tetapi mengalami variasi modus yang terus meningkat,” tutur Niki dalam keterangan resmi. Ia menambahkan bahwa pendidikan masyarakat tentang risiko kejahatan digital, meskipun penting, tidak cukup untuk mengatasi tantangan yang kini menghadang industri ini.
“Seperti pada abad pertengahan, ketika membangun sebuah kastil, sistem pertahanan dirancang berlapis untuk melindungi dari serangan musuh. Pendekatan serupa juga perlu diterapkan dalam membangun keamanan di industri fintech,” imbuh Niki.
Dengan adanya modus penipuan yang terus berubah, ia berpendapat bahwa pelaku fintech harus segera mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan kerugian yang bisa terjadi. Dalam konteks ini, penguatan sistem hukum serta infrastruktur keamanan digital menjadi kunci untuk memastikan perlindungan konsumen dan stabilitas ekosistem fintech.
Strategi keamanan multi-lapis diperlukan
Niki Luhur menekankan pentingnya penerapan strategi keamanan berlapis dalam menghadapi ancaman digital. Menurutnya, penggunaan teknologi yang terintegrasi dengan lima lapisan perlindungan simultan adalah jawaban efektif untuk mencegah serangan yang semakin rumit. Ia menyebutkan bahwa fitur “Beyond Liveness,” yang sedang dikembangkan VIDA, dirancang untuk membantu industri fintech mengidentifikasi kejahatan digital yang tidak lagi bisa diatasi oleh satu lapisan saja.
Fitur ini menggabungkan teknologi seperti analisis perilaku perangkat, pola jaringan, dan behavioral analytics secara real-time. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), sistem ini mampu menangkap indikator kecurangan yang tersembunyi, seperti pembuatan akun palsu atau penggunaan data yang tidak sah. Niki menilai bahwa penggunaan kombinasi ini akan meningkatkan standar keamanan dan mengurangi kemungkinan terjadinya kebocoran data.
Peran AI dalam mengoptimalkan perlindungan
Dalam menjelaskan keempat lapisan pengamanan yang dianjurkan, Niki Luhur menyebutkan bahwa verifikasi individu, verifikasi perangkat, verifikasi identitas, dan pemanfaatan kecerdasan buatan adalah elemen penting yang harus dipadukan. Ia menjelaskan bahwa setiap lapisan berfungsi sebagai penjaga tambahan, memastikan bahwa semua titik masuk ke sistem fintech dikontrol secara ketat.
Khususnya dalam verifikasi identitas, Niki menekankan bahwa teknologi AI dapat mempercepat proses pengenalan dan meninjau kelayakan pengguna, sekaligus mengurangi risiko penipuan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak memiliki izin. “Dengan menggabungkan lima lapisan verifikasi, sistem keamanan menjadi lebih kuat dan adaptif terhadap perubahan pola serangan,” ujarnya.
Pengembangan fitur untuk mendukung ekosistem fintech
VIDA juga berkomitmen untuk terus menghadirkan solusi identitas digital yang memenuhi standar global, serta mendapatkan sertifikasi dari pemerintah. Niki mengungkapkan bahwa pihaknya berencana mengembangkan fitur-fitur baru yang lebih canggih, termasuk penggunaan algoritma AI untuk menganalisis pola aktivitas pengguna secara proaktif. Teknologi ini diharapkan bisa membantu memperkuat perlindungan jutaan pengguna dan ratusan perusahaan di Indonesia, bahkan di tingkat internasional.
Dalam perspektif jangka panjang, Niki menilai bahwa keamanan digital identitas tidak hanya menjadi tanggung jawab teknis, tetapi juga politik. Ia berharap pemerintah dan sektor swasta dapat bekerja sama dalam membangun regulasi yang mendukung inovasi teknologi sambil menjaga keseimbangan antara kemudahan penggunaan dan perlindungan data. “Ekosistem fintech akan tumbuh lebih cepat jika keamanan digital menjadi prioritas utama,” pungkas Niki.
Potensi kontribusi VIDA bagi masa depan teknologi keuangan
Dengan pengembangan fitur “Beyond Liveness,” VIDA berharap mampu menjadi mitra strategis bagi berbagai platform fintech dalam menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks. Teknologi ini, menurut Niki, tidak hanya meningkatkan keandalan sistem tetapi juga memberikan kepercayaan kepada pengguna bahwa data pribadi mereka aman dari pencurian atau penggunaan yang tidak sah.
Menurut Niki, perluasan penggunaan identitas digital akan terus terjadi, terutama dengan munculnya layanan keuangan berbasis aplikasi dan platform digital. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa keamanan harus menjadi bagian dari desain awal setiap produk fintech, bukan sekadar penambahan setelah ada kejadian serangan. “Jika keamanan tidak diintegrasikan dari awal, risiko kebocoran data akan terus meningkat,” katanya.
Kemajuan teknologi seperti AI dan verifikasi berlapis diharapkan bisa memberikan dampak positif dalam menjaga kualitas layanan fintech. Niki Luhur menyatakan bahwa VIDA akan terus berupaya dalam memberikan solusi inovatif yang berbasis keamanan digital, guna menjamin kenyamanan dan kepercayaan pengguna di tengah persaingan yang ketat di industri ini. Dengan memadukan kecerdasan buatan dan sistem verifikasi yang ketat, VIDA bertujuan untuk menjadi pilar keamanan yang mendorong pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.
