Meeting Results: PII temui Sekjen Kemenlu untuk persiapan agenda diplomasi keinsinyuran

PII Bertemu dengan Sekjen Kemenlu untuk Persiapan Agenda Diplomasi Teknik

Meeting Results – Jakarta – Dalam upaya mempersiapkan sejumlah program diplomasi bidang teknik, perwakilan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) melakukan pertemuan dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, Denny Abdi, di Jakarta. Kehadiran delegasi PII dalam pertemuan tersebut bertujuan untuk mengkoordinasikan langkah-langkah strategis yang akan diambil dalam beberapa waktu ke depan. Deputi Ketua Umum PII Bidang Kerja Sama Keinsinyuran Internasional, Andre Mulpyana, menjelaskan bahwa salah satu isu yang dibahas adalah rencana partisipasi PII dalam acara ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO) Mid-Term Meeting di Yangon, Myanmar, pada 28–30 Juni 2026. Pertemuan ini dianggap penting untuk memastikan PII dapat berkontribusi secara optimal dalam upaya meningkatkan kemitraan teknis antar-negara ASEAN.

Persiapan Kunjungan ke Myanmar

Andre Mulpyana menjelaskan bahwa tim PII mengajukan pertanyaan mengenai keamanan Myanmar, khususnya di Kota Yangon, agar dapat melakukan kunjungan yang aman. “PII menginginkan informasi mengenai kondisi keamanan di Myanmar agar dapat hadir dalam pertemuan AFEO Mid-Term yang diundang oleh organisasi tersebut,” katanya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu. Menurut Andre, permintaan informasi ini muncul karena adanya berita yang menyebutkan adanya ketidakstabilan di beberapa wilayah Myanmar. Oleh sebab itu, PII meminta bantuan Kemenlu untuk mengevaluasi risiko dan menyiapkan langkah pencegahan.

“Kami ingin meminta informasi mengenai keamanan Myanmar untuk dikunjungi terkait dengan undangan dari AFEO agar PII menghadiri pertemuan AFEO Mid-Term di Yangon, Myanmar, pada 28–30 Juni,” ujar Andre dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Dalam respons cepat, Kemenlu langsung menghubungi Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Republik Indonesia di Yangon, Myanmar, Novan Ivanhoe Soleh, melalui panggilan video. Novan menjelaskan bahwa situasi di Kota Yangon relatif aman, meski terdapat laporan media asing yang memperbesar persepsi tentang ketegangan di Myanmar. “Laporan dari Pak Novan Saleh menyatakan kondisi Myanmar, khususnya di Yangon, dalam keadaan stabil untuk dikunjungi. Namun, sering kali media internasional mempublikasikan informasi yang tidak sepenuhnya akurat mengenai keadaan wilayah tersebut,” tambah Andre.

Pertemuan Lain Membahas Konferensi CAFEO di Bandung

Di samping pembahasan tentang AFEO, pertemuan antara PII dengan Kemenlu juga melibatkan diskusi terkait agenda Conference of ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) yang akan diadakan di Bandung, Jawa Barat, pada 20–22 Oktober 2026. CAFEO dianggap sebagai platform kunci untuk memperkuat kolaborasi teknis antar-negara anggota ASEAN, serta memberikan ruang bagi perwakilan PII untuk berbagi pengalaman dan inovasi teknik Indonesia.

Novan Ivanhoe Soleh, KUAI KBRI Yangon, menjelaskan bahwa hasil investigasinya menunjukkan bahwa kota tersebut tetap layak dikunjungi, meski terdapat perbedaan narasi antara media lokal dan internasional. “Meski ada kegembiraan di beberapa daerah, Kota Yangon tetap aman untuk dijadikan lokasi pertemuan,” kata Novan. Ia menambahkan bahwa situasi di sana dapat dikelola dengan baik melalui pengawasan lokal dan persiapan yang matang.

Perspektif Ilham Akbar Habibie tentang CAFEO

Ketua Umum PII, Ilham Akbar Habibie, mengungkapkan bahwa konferensi CAFEO tahun ini akan menjadi momen penting bagi keanggotaan insinyur Indonesia dalam ASEAN. “CAFEO di Bandung juga akan menampilkan berbagai showcase (ruang pamer, red.) industri teknik nasional kepada para tokoh insinyur dari negara-negara anggota ASEAN,” katanya. Acara tersebut diharapkan mampu menjadi wadah untuk berbagi pengetahuan, mengeksplorasi inovasi, serta mempererat jaringan kerja sama di bidang teknik.

Ilham menjelaskan bahwa keikutsertaan PII dalam CAFEO tidak hanya tentang representasi, tetapi juga untuk memperkuat kemitraan strategis dengan organisasi teknik lain di kawasan. “Kami ingin menunjukkan komitmen Indonesia dalam memajukan industri teknik di ASEAN, sekaligus menjajaki peluang kolaborasi yang lebih luas,” tambahnya. Dalam konteks diplomasi keinsinyuran, acara ini akan menjadi penghubung antara komunitas teknik Indonesia dengan negara-negara tetangga, termasuk dalam bidang pendidikan, kebijakan, dan pengembangan infrastruktur.

Peran Kemenlu dalam Pendampingan Diplomasi Teknik

Pertemuan PII dengan Kemenlu menunjukkan peran aktif pemerintah dalam mendukung upaya organisasi teknik dalam menghadapi dinamika internasional. Denny Abdi menyatakan bahwa Kemenlu siap memberikan dukungan untuk menjaga keamanan delegasi PII, terutama dalam menghadapi situasi yang tidak terduga di luar negeri. “Dukungan ini diberikan agar kegiatan keinsinyuran Indonesia dapat berjalan lancar, baik dalam menghadiri acara internasional maupun dalam menjalin kerja sama dengan pihak lain,” katanya.

Menurut Denny, kehadiran PII dalam forum seperti AFEO dan CAFEO berdampak signifikan pada peningkatan kredibilitas dan visibilitas Indonesia dalam bidang teknik. “PII memainkan peran kunci dalam memperkuat jaringan profesional dan menyampaikan suara teknik Indonesia di tingkat regional,” ujarnya. Kemenlu juga menyoroti pentingnya komunikasi terus-menerus antara organisasi teknik dan lembaga pemerintah untuk menjaga konsistensi dalam menjalankan agenda diplomatik.

Persiapan untuk Masa Depan

Pertemuan ini juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kemungkinan kerja sama keinsinyuran di masa depan. Andre Mulpyana menekankan bahwa PII ingin memastikan bahwa setiap agenda yang dijalani selalu didukung oleh pihak berwenang, terutama dalam menghadapi tantangan yang mungkin muncul. “Kami percaya bahwa dengan persiapan yang matang, PII dapat berkontribusi maksimal dalam menciptakan kemitraan yang bermanfaat untuk pengembangan teknologi dan infrastruktur di Asia Tenggara,” katanya.

Ilham Akbar Habibie menambahkan bahwa PII berharap pertemuan-pertemuan seperti ini dapat menjadi jembatan antara organisasi teknik dan pemerintah untuk menghadapi perubahan global. “Dengan mendukung kegiatan keinsinyuran, Kemenlu membantu membangun kerja sama yang lebih kuat antara Indonesia dan negara-n