Dokter: Adiksi nikotin pada vape dorong remaja beralih ke rokok

Dokter: Adiksi Nikotin pada Vape Mendorong Remaja Berpindah ke Rokok

Kecanduan Nikotin sebagai Pemicu Perpindahan

Dewan Eksekutif Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR menyatakan bahwa penggunaan vape oleh remaja berpotensi memicu adiksi nikotin, yang selanjutnya dapat mendorong mereka beralih ke rokok konvensional. Menurutnya, meski vape dianggap sebagai alternatif yang lebih modern, kandungan nikotin dalam produk tersebut tetap menghasilkan efek ketergantungan. “Sebanyak 79,5 persen pengguna vape mengalami kecanduan, sehingga cenderung terus menggunakannya,” tutur Agus.

Kasus Gangguan Kesehatan pada Pengguna Vape

Agus, yang juga Guru Besar di Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), menjelaskan bahwa dalam praktik klinis, ia mulai menemukan beberapa kasus gangguan kesehatan yang terkait dengan penggunaan vape. Beberapa kondisi yang sering muncul antara lain pneumonia, asma, serta pneumotoraks atau paru-paru bocor. “Beberapa kasus juga mengalami cedera paru akut atau EVALI, yang bisa menyebabkan kesulitan bernapas berat hingga memerlukan perawatan intensif,” tambahnya.

Pengaruh Budaya dan Lingkungan

Dalam wawancara dengan ANTARA, Agus menegaskan bahwa fenomena ini lebih sering terjadi di kalangan usia muda yang awalnya mencoba vape karena pengaruh gaya hidup dan lingkungan sekitar. “Remaja menganggap vape sebagai bagian dari gaya hidup modern, sehingga mudah terpapar dan tertarik mencoba,” ujarnya. Ia menyoroti bahwa tingkat nikotin pada vape tidak selalu cukup memenuhi kebutuhan pengguna yang sudah terbiasa, sehingga memaksa mereka mencari sumber nikotin lain, seperti rokok tradisional.

Vape Bukan Jaminan untuk Berhenti Merokok

Menurut Agus, kondisi ini membuktikan bahwa vape tidak selalu berfungsi sebagai alat bantu berhenti merokok. Justru, produk tersebut bisa menjadi pintu masuk ke penggunaan produk tembakau lainnya. “Dalam praktiknya, sekitar 40 hingga 50 persen pengguna menjadi dual user, mengombinasikan penggunaan vape dan rokok konvensional,” katanya. Ia menekankan bahwa kebiasaan ini berisiko tinggi karena bisa mengakar sejak dini dan meningkatkan kemungkinan ketergantungan di masa depan.