Topics Covered: KBRI Bern dorong kerja sama ekonomi digital Indonesia-Swiss
KBRI Bern Dorong Kerja Sama Ekonomi Digital Indonesia-Swiss
Topics Covered – Kantor Perwakilan RI di Bern, Swiss, aktif menggalang kerja sama dalam bidang ekonomi digital antara Indonesia dan Swiss. Acara yang menjadi fokusnya, yaitu “Indonesia-Swiss Business Forum Series 2026 on Digital Economy: Enhancing Collaboration in the Fastest Emerging Market,” diselenggarakan pada Kamis (25/6) di Zug, Swiss. Kegiatan ini digelar bersama sejumlah mitra lokal untuk memperkuat potensi ekonomi digital Indonesia dan mendorong pertukaran ide dengan para pelaku industri digital di Swiss.
Duta Besar Indonesia di Bern, Ngurah Swajaya, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekosistem digital di Indonesia semakin pesat, dengan AI berperan penting dalam memacu perkembangan berbagai sektor ke depan. Menurutnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia mencapai hampir 180 miliar dolar AS pada 2030. “Ini adalah waktu yang tepat bagi inovator Swiss dan Indonesia untuk berinteraksi dan berkolaborasi,” ujarnya dalam pernyataan resmi KBRI Bern, Sabtu.
Potensi Kolaborasi dan Perkembangan Industri
Ngurah menekankan bahwa Indonesia memiliki pasar digital terbesar di ASEAN, yang berpotensi diintegrasikan dengan inovasi Swiss. “Kita perlu menggabungkan kekuatan digital kedua negara untuk menghasilkan solusi yang lebih berkualitas,” katanya. Forum ini digelar di Kanton Zug, yang diakui sebagai pusat kripto dan blockchain terbesar Eropa. Lokasi ini menjadi simbol keberhasilan kolaborasi antara teknologi Swiss dan kekuatan pasar Indonesia.
“Kegiatan ini mempertemukan kekuatan ekonomi digital kedua negara yang saling melengkapi… bahkan dilakukan di pusat kripto dan blockchain terbesar Eropa di Kanton Zug, Swiss,” ujar Ngurah Swajaya.
Menurut Ngurah, kolaborasi antara Indonesia dan Swiss masih bisa ditingkatkan, terutama dalam bidang infrastruktur digital, keuangan digital, dan kecerdasan buatan (AI). Ia mengatakan, ekonomi digital kedua negara belum dimanfaatkan secara optimal karena interaksi antar pelaku industri masih terbatas. “Forum ini bertujuan mempererat hubungan bilateral melalui dialog yang konstruktif,” tambahnya.
Peluang Kemitraan untuk Masa Depan
Salah satu topik utama yang dibahas adalah pelatihan tenaga kerja digital. Nongsa Digital Park, yang berlokasi di Batam, mengusulkan program pelatihan berstandar Swiss untuk membantu perusahaan-perusahaan Swiss yang ingin beroperasi di Indonesia. Chief Business Officer Nongsa Digital Park, Marco Bardelli, menjelaskan bahwa dengan standar pelatihan yang diterapkan, perusahaan Swiss dapat lebih mudah menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar lokal.
“Penerapannya bisa mencakup bidang produksi fisik maupun segala hal yang berkaitan dengan fintech,” ujar Marco Bardelli.
Dalam forum tersebut, juga diangkat isu terkini seperti “Fintech, Blockchain, dan Masa Depan Perbankan” serta “AI dan Inovasi Digital.” Silvia Thalmann-Gut, Direktur Kerja Sama Ekonomi Kanton Zug, menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga riset sangat penting untuk menetapkan kebijakan yang mendukung iklim investasi dan meningkatkan kepercayaan pelaku bisnis. “Kemitraan yang terjalin secara aktif akan menjadi fondasi untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” katanya.
Kondisi Ekonomi dan Inovasi Teknologi
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di London, IGP Wira Kusuma, menjelaskan bahwa kondisi ekonomi makro Indonesia tetap stabil meski menghadapi tantangan global. Ia juga menyoroti perkembangan inovasi sistem pembayaran digital, termasuk penggunaan QRIS yang semakin meluas di kawasan Asia. “Indonesia memiliki fondasi kuat untuk mengembangkan ekonomi digital, dan perlu dukungan dari mitra internasional,” ujarnya.
Forum ini adalah bagian dari rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Swiss. Acara ini mempertemukan puluhan CEO perusahaan digital, praktisi, akademisi, dan pembuat kebijakan dari kedua negara. Diskusi berlangsung dalam beberapa sesi, yang diharapkan bisa menghasilkan rencana kerja sama konkret. “Kita perlu mengidentifikasi prioritas kolaborasi untuk menghadapi pasar yang dinamis,” kata Ngurah Swajaya.
Peluang kemitraan dalam pengembangan teknologi digital menjadi tema utama. Ngurah menyatakan, kerja sama strategis antara kedua negara bisa memperkuat kedaulatan digital dan memperluas peluang ekspor serta investasi. “Digital economy akan menjadi penentu utama dalam pertumbuhan ekonomi global, dan Indonesia-Swiss perlu bersinergi untuk memanfaatkan peluang ini,” imbuhnya.
Kantor Perwakilan RI di Bern juga menyatakan, forum bisnis tahunan ini bertujuan memperkenalkan potensi Indonesia kepada masyarakat internasional, khususnya Liechtenstein. “Swiss dan Liechtenstein memiliki keunggulan yang bisa saling melengkapi dalam bidang ekonomi digital,” kata Ngurah. Ia menambahkan, acara ini menjadi platform untuk membangun hubungan bisnis yang berkelanjutan dan menghasilkan inovasi baru.
Kerja Sama untuk Masa Depan Ekonomi
Kelompok peserta forum terdiri dari perwakilan pemerintah, pengusaha, dan lembaga pendidikan dari kedua negara. Mereka mendiskusikan berbagai aspek, seperti kebijakan regulasi, pengembangan infrastruktur digital, dan standarisasi teknologi. “Kolaborasi ini akan membuka akses lebih luas ke pasar global,” ujar salah satu peserta.
Ngurah Swajaya menekankan bahwa ekonomi digital tidak hanya menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengubah cara orang berinteraksi, bertransaksi, dan mengelola aset. “Kita perlu menyusun strategi yang terpadu untuk memastikan keberlanjutan kolaborasi ini,” katanya. Ia berharap, hasil dari forum akan menjadi dasar bagi pertemuan bilateral lainnya dalam waktu dekat.
Menurut Silvia Thalmann-Gut, Kanton Zug terus berupaya menciptakan lingkungan yang mendukung inovasi digital. “Inisiatif seperti forum ini akan memperkuat kerja sama antar pihak yang relevan,” ujarnya. Dengan mendekatkan sektor publik dan swasta, Swiss berharap bisa menjadi mitra strategis Indonesia dalam menghadapi perubahan teknologi global.
Forum ini juga menyoroti pentingnya pendidikan digital dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja. Marco Bardelli menambahkan, pelatihan yang ditawarkan Nongsa Digital Park bisa menjadi pintu masuk bagi Swiss untuk memperluas kehadiran di Indonesia. “Program ini membantu perusahaan memahami dinamika pasar lokal dan meningkatkan efisiensi operasional,” ujarnya.
Dengan pengembangan ekonomi digital, Indonesia dan Swiss berpotensi menjadi model kerja sama yang sukses. Kedua negara bisa memanfaatkan keunggulan masing-masing dalam sektor teknologi dan pasar. “Kolaborasi ini adalah langkah penting untuk menciptakan ekosistem yang lebih kuat dan inovatif,” pungkas Ngurah Swajaya. Ia berharap, hasil forum ini bisa menjadi dasar bagi kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan di masa depan.
