Key Strategy: Kemenkes: 63,5 persen lansia peserta CKG menderita hipertensi

Kemenkes: 63,5 persen lansia peserta CKG menderita hipertensi

Key Strategy – Jakarta – Hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa dari 6,8 juta lansia yang mengikuti skrining kesehatan, sebanyak 4,36 juta orang atau 63,5 persen menderita hipertensi. Angka ini menunjukkan betapa besar tekanan yang dihadapi pihak berwenang dalam menangani kondisi medis ini, terutama di tengah kenaikan populasi lansia dan perubahan pola hidup masyarakat. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengungkapkan bahwa masalah hipertensi tidak hanya menjadi tantangan klinis, tetapi juga berpotensi mengganggu kemandirian dan kualitas hidup lansia.

Hipertensi: Permasalahan Global yang Masih Berat Diatasi

Menurut Imran, hipertensi menjadi penyakit yang sangat umum di dunia, dengan estimasi 1,4 miliar orang mengidap kondisi ini. Namun, hanya sekitar 25 persen dari jumlah tersebut yang mampu mengendalikan tekanan darah secara efektif. Faktor-faktor seperti penuaan populasi dan migrasi ke kota memperparah beban ini, terutama di negara dengan tingkat pendapatan rendah dan menengah. Di sana, akses ke layanan kesehatan terbatas dan kesadaran tentang manajemen hipertensi masih rendah, sehingga risiko komplikasi meningkat.

“Hipertensi pada lansia memiliki dampak serius baik secara medis maupun sosial. Tekanan darah tinggi berpotensi memicu stroke, penyakit jantung iskemik, gagal jantung, dan penyakit ginjal kronik. Selain itu, ada bukti yang menghubungkan kondisi ini dengan penurunan fungsi kognitif serta kebutuhan perawatan yang lebih lama,” ujarnya.

Dalam praktiknya, Imran menjelaskan bahwa tingkat kejadian hipertensi yang tinggi pada lansia sering kali berdampingan dengan masalah gerak yang signifikan. Hal ini menyebabkan kondisi medis menjadi lebih kompleks, tidak hanya membebani individu, tetapi juga keluarga serta sistem kesehatan secara keseluruhan. Karena itu, upaya pencegahan tidak cukup berhenti pada pemberian obat, melainkan harus mencakup pendekatan yang lebih holistik.

Pencegahan dan Pengendalian: Pendekatan yang Perlu Disatukan

Pendekatan terpadu yang dianjurkan Imran melibatkan berbagai aspek, seperti rehabilitasi, dukungan dari pengasuh (caregiver), dan skema pendanaan untuk melindungi lansia miskin. Ia menekankan bahwa intervensi yang tepat dimulai sejak dini akan lebih efektif, dengan skrining tekanan darah rutin sejak usia 18 tahun dan pemeriksaan khusus tahunan bagi lansia. “Kontrol hipertensi memerlukan perubahan gaya hidup, termasuk mengurangi konsumsi garam, berolahraga secara teratur, dan menjaga pola makan sehat,” jelasnya.

“Upaya pencegahan terbaik adalah dengan deteksi dini melalui skrining rutin, diikuti manajemen yang tepat. Intervensi seperti membatasi garam hingga 5 gram per hari, aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu, dan menghindari rokok serta alkohol sangat berpengaruh dalam mengurangi risiko,” tambahnya.

Imran juga menyebutkan bahwa peran layanan kesehatan primer sangat kritis dalam mencegah komplikasi hipertensi. Deteksi dini di tingkat dasar dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kondisi berat seperti stroke atau CKD. Namun, pendekatan untuk lansia perlu disesuaikan, dengan fokus pada pengawasan organ-organ yang rentan dan peningkatan fungsi tubuh secara keseluruhan.

Model Pentahelix: Kolaborasi untuk Membangun Solusi

Menurut Imran, solusi yang efektif memerlukan kerja sama dari berbagai pihak dalam model pentahelix. Pemangku kebijakan, fasilitas kesehatan, akademisi, dunia usaha, serta media dan masyarakat harus berperan aktif. Pemerintah, misalnya, dianjurkan membuat kebijakan yang mendukung pengurangan garam dan penggunaan label nutrisi yang jelas. Di sisi lain, institusi kesehatan perlu memperkuat layanan primer dan memudahkan jalur rujukan untuk pasien lansia.

“Kolaborasi lintas sektor sangat penting. Dunia usaha dapat mengembangkan produk yang ramah lansia, sementara media dan masyarakat berperan dalam menyebarkan kesadaran tentang pentingnya pencegahan dan deteksi dini,” kata Imran.

Imran menegaskan bahwa momentum Hari Hipertensi 2026 harus dimanfaatkan untuk mempercepat cakupan skrining kesehatan, meningkatkan keberhasilan cascade of care (tindakan terus-menerus dalam perawatan), serta mengintegrasikan layanan rehabilitasi dan bantuan sosial. Dengan kombinasi pencegahan populasi, penguatan layanan kesehatan, dan perlindungan sosial, ia yakin hipertensi bisa dikelola secara efektif, sehingga lansia tetap dapat menjalani kehidupan mandiri dan layak.

Angka 63,5 persen pada peserta CKG memberikan gambaran bahwa hipertensi adalah masalah utama di kalangan lansia. Tingkat kontrol tekanan darah yang rendah berarti banyak dari mereka belum menerima perawatan optimal. Dengan adanya skrining rutin, program ini diharapkan dapat menemukan kasus-kasus yang terlewat dan membantu masyarakat dalam mengambil langkah-langkah pencegahan sejak dini. Selain itu, data ini menjadi dasar untuk memperbaiki kebijakan kesehatan dan meningkatkan kualitas layanan kepada lansia.

Imran juga menyoroti bahwa penurunan fungsi kognitif yang terkait dengan hipertensi jangka panjang bisa memperparah beban bagi keluarga pengasuh. Dengan menggabungkan strategi medis dan sosial, program ini diharapkan tidak hanya menurunkan risiko komplikasi, tetapi juga memastikan lansia tetap berperan aktif dalam kehidupan mereka. Pemerintah, sebagai pelaku utama, harus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan sistem yang lebih responsif dan inklusif.

Penyakit hipertensi, meski sering dianggap sebagai masalah usia tua, sebenarnya bisa terjadi pada segala usia. Namun, lansia lebih rentan terhadap dampaknya karena sistem tubuh yang melemah dan kebiasaan hidup yang berubah. Dengan adanya skrining secara berkala dan peningkatan kesadaran, Kemenkes optimis bahwa langkah-langkah ini bisa memberikan dampak jangka panjang pada kesehatan masyarakat dan memperkuat sistem layanan kesehatan nasional.

Kemajuan dalam pengelolaan hipertensi tidak hanya mengurangi beban ekonomi keluarga, tetapi juga membantu sistem kesehatan nasional dari tuntutan yang terus meningkat. Dengan pendekatan holistik, pencegahan dan pengendalian hipertensi bisa menjadi bagian dari upaya menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan berkelanjutan. Kemenkes berharap program CKG menjadi titik awal untuk transformasi ini, baik dalam level individu maupun sistem.