Key Discussion: Peneliti sebut perubahan iklim tekan ekonomi kelompok rentan
Peneliti Sebut Perubahan Iklim Tekan Ekonomi Kelompok Rentan
Key Discussion – Makassar, Rabu (23 Mei 2024) – Peneliti Program Kolaborasi untuk Pengetahuan, Inovasi, dan Kemitraan (KONEKSI) mengungkapkan bahwa dampak perubahan iklim terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap kelompok rentan, seperti perempuan, penyandang disabilitas, dan lansia. Penelitian ini menyoroti bagaimana fenomena iklim yang semakin ekstrem mengganggu kehidupan ekonomi masyarakat pesisir serta sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung perekonomian di daerah-daerah rawan bencana.
Kolaborasi Riset KONEKSI dan Institusi Pendidikan
Program KONEKSI, yang merupakan kolaborasi riset antara pemerintah Indonesia dan Australia, melibatkan kampus besar seperti Monash University Australia, Monash University Indonesia, dan Universitas Hasanuddin. Selain itu, lembaga-lembaga berbasis komunitas serta mitra strategis di Indonesia Timur turut ambil bagian dalam penelitian ini. Riset yang dilaksanakan di Makassar, Maros, Gowa, Kupang, dan Lombok bertujuan memperkuat ketahanan iklim melalui pengembangan model ekonomi alternatif yang bisa diakses oleh masyarakat yang rentan.
Sebagai bentuk keberlanjutan, para peneliti menghasilkan Model Ketahanan Iklim Berkelanjutan melalui Pelibatan Komunitas (MoFCREC). Model ini dirancang untuk memberikan solusi konkret bagi kelompok rentan, yang sering kali mengalami kesulitan menghadapi perubahan lingkungan dan kondisi ekonomi. Dengan pendekatan partisipatif, program ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat untuk beradaptasi serta membangun ekonomi yang lebih stabil di tengah ketidakpastian iklim.
Pejabat Peneliti: Dampak Terbesar pada Pemenuhan Kebutuhan Pokok
Dr. Welmince Djulete, salah satu peneliti dari Kupang, mengungkapkan bahwa perubahan iklim bukan hanya mengubah pola cuaca, tetapi juga merusak mata pencaharian utama masyarakat. “Ketidakstabilan iklim membuat hasil tangkapan nelayan serta hasil panen petani menurun drastis,” katanya dalam workshop dan diskusi panel di Makassar. Hal ini menimbulkan konsekuensi berantai, seperti pengurangan pendapatan keluarga, peningkatan angka kemiskinan, dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok.
Berdasarkan penelitian tersebut, kelompok rentan menghadapi hambatan tambahan dalam mengakses pembiayaan. “Perempuan, penyandang disabilitas, dan lansia sering kali dianggap tidak memenuhi syarat untuk kredit karena stigma yang melekat pada mereka,” jelas Welmince. Stigma ini menyebabkan kekurangan modal yang menghambat usaha alternatif, sehingga mendorong mereka mencari pinjaman dari lembaga keuangan non-formal yang memiliki bunga lebih tinggi.
“Fenomena ini memicu penurunan kuantitas serta kualitas hasil tangkapan nelayan dan hasil panen, yang berujung pada depresi ekonomi di tingkat keluarga,” ujar Welmince.
Dalam upaya mengatasi masalah ini, program KONEKSI mengusung pendekatan inklusif dengan melibatkan lembaga keuangan formal dan koperasi. Diskusi panel memperkenalkan skema pendampingan yang tepat serta mekanisme pembiayaan yang lebih ramah bagi kelompok rentan. Para peneliti mengharapkan dengan program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), masyarakat terdampak bisa mendapatkan akses modal yang aman, terjangkau, dan berbiaya rendah.
Kasus Kekerasan dan Kebutuhan Hidup
Di sisi lain, Rosmiati Sain dari LBH APIK Sulawesi Selatan mengingatkan bahwa tekanan ekonomi akibat perubahan iklim bisa memicu masalah sosial baru. “Ketidakmampuan menghasilkan pendapatan memicu utang yang berkelanjutan, terutama di kalangan keluarga yang membutuhkan dana darurat,” katanya. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga meningkatkan risiko kekerasan dalam rumah tangga dan kasus hukum.
“Akibat tidak mampu membayar utang tepat waktu, masalah domestik ini kerap berujung pada ranah pidana, seperti laporan penipuan, penggelapan, hingga meningkatnya kasus pencurian karena desakan kebutuhan hidup,” tambah Rosmiati.
Menurut Rosmiati, penurunan hasil pertanian dan perikanan berdampak langsung pada pemasukan keluarga. Perempuan, yang sering memainkan peran utama dalam pengelolaan rumah tangga, lebih rentan terhadap tekanan ekonomi. Selain itu, penyandang disabilitas mengalami kesulitan mengakses sumber daya karena kurangnya perhatian terhadap kebutuhan spesifik mereka. “Mereka tidak hanya menghadapi perubahan lingkungan, tetapi juga hambatan struktural dalam meraih keuntungan ekonomi,” jelasnya.
Rekomendasi untuk Masa Depan
Sebagai tindak lanjut, tim peneliti menyusun buku saku berisi strategi adaptasi dan rencana aksi mandiri untuk kelompok rentan. Buku ini menyasar 54 halaman dan dirancang agar mudah dipahami oleh masyarakat sekaligus menjadi panduan bagi pemerintah daerah. Hasil riset juga diselaraskan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan agenda nasional, dengan harapan bisa menjadi bahan referensi dalam penyusunan kebijakan pembangunan.
Welmince menekankan bahwa penganggaran yang lebih inklusif adalah kunci untuk mengurangi risiko ekonomi kelompok rentan. Ia menyarankan bahwa pemerintah perlu memberikan dukungan finansial berupa insentif khusus atau program kredit yang tidak hanya mempertimbangkan usaha, tetapi juga faktor sosial seperti kondisi keluarga. “Saya yakin, dengan pola pembiayaan yang lebih inklusif, masyarakat rentan bisa meningkatkan kesejahteraan secara bertahap,” ujarnya.
Sementara itu, Rosmiati mengingatkan perlunya kesadaran masyarakat tentang dampak jangka panjang perubahan iklim. “Pemahaman yang baik tentang risiko ekonomi akan membantu keluarga mengelola sumber daya secara lebih efisien,” katanya. Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga pemerintah, organisasi lokal, dan lembaga keuangan dalam membangun sistem pembiayaan yang lebih adil.
Keterlibatan Komunitas dalam Pemulihan Ekonomi
Salah satu aspek penting dalam program KONEKSI adalah keterlibatan langsung komunitas. Peneliti mempercayakan masyarakat untuk menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan, sehingga solusi yang diusulkan lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. “Keterlibatan komunitas tidak hanya meningkatkan efektivitas program, tetapi juga membangun kepercayaan dan tanggung jawab bersama,” kata Welmince.
Contohnya, dalam daerah pesisir, para peneliti bekerja sama dengan nelayan untuk mengembangkan teknik budidaya alternatif seperti kultur laut atau usaha kreatif berbasis bahan alami. Di sisi pertanian, mereka menyusun rencana diversifikasi tanaman yang tahan terhadap cuaca ekstrem. Kedua pendekatan ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada sektor yang rentan terhadap perubahan iklim.
Dalam konteks ini, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan harus diintegrasikan dengan kebijakan lingkungan. Welmince menegaskan bahwa penelitian ini bukan hanya membahas dampak, tetapi juga bagaimana masyarakat bisa beradaptasi dengan lebih baik. “Kita perlu memastikan bahwa setiap anggota komunitas, termasuk yang paling rentan, memiliki akses yang adil terhadap sumber daya ekonomi,” jelasnya.
