New Policy: AS uji coba “drone” tangani insiden penembakan di sekolah

AS uji coba “drone” tangani insiden penembakan di sekolah

Perusahaan keamanan pengembang teknologi pesawat nirawak optimis terapkan sistem di lebih banyak sekolah

New Policy – Sebuah inisiatif inovatif sedang diuji coba di sejumlah negara bagian Amerika Serikat, yang menawarkan solusi baru untuk menghadapi ancaman penembakan di lingkungan sekolah. Berdasarkan laporan media, program ini menggunakan pesawat tanpa awak, atau drone, yang dilengkapi alat non-mematikan seperti sirene, lampu strobe, dan semprotan merica. Tujuannya adalah untuk melumpuhkan pelaku kejahatan tanpa menyebabkan korban jiwa. Proyek percontohan ini dilakukan oleh perusahaan sistem keamanan bernama Campus Guardian Angel, yang berupaya mengintegrasikan teknologi modern ke dalam kebijakan keselamatan sekolah.

Program uji coba ini akan berlangsung selama setahun, dengan anggaran sekitar 8 dolar AS (Rp139 ribu) per siswa. Jumlah biaya tersebut dihitung berdasarkan penggunaan drone yang dikendalikan dari jarak jauh, melalui sistem kamera yang telah dipasang di lingkungan sekolah. Keunggulan dari metode ini adalah kemampuan drone untuk beroperasi secara real-time, sehingga petugas keamanan dapat merespons insiden secara cepat tanpa perlu berada di lokasi secara langsung. Dalam proses uji coba, drone akan bertindak sebagai alat deteksi dini dan pengendali situasi, memberikan peluang untuk mencegah kekerasan sebelum terjadi.

Dua negara bagian yang sudah menyetujui program ini adalah Florida dan Georgia. Di Florida, dana sebesar 557.000 dolar AS (Rp9,6 milyar) dialokasikan untuk menerapkan sistem ini di tiga wilayah, yaitu Broward, Leon, dan Volusia County. Deltona High School menjadi sekolah pertama yang akan menguji coba teknologi ini. Sementara itu, Georgia memberikan anggaran 550.000 dolar AS (Rp9,5 milyar) untuk menyebarluaskan program serupa ke lima sekolah menengah atas yang akan ditentukan nanti. Proses persetujuan anggaran di negara bagian tersebut terjadi dalam waktu 120 hari, menunjukkan komitmen tinggi terhadap inisiatif ini.

CEO Campus Guardian Angel, Justin Marston, menjelaskan bahwa proyek ini tidak hanya menjadi langkah keamanan, tetapi juga representasi dari pergeseran paradigma dalam menghadapi ancaman di lingkungan pendidikan. “Dengan drone, kita bisa mengantisipasi bahaya sebelum melukai atau membunuh seseorang,” katanya dalam wawancara dengan The Center Square. Ia menambahkan bahwa teknologi ini tidak hanya mengurangi risiko kecelakaan, tetapi juga memperkuat kewaspadaan di sepanjang hari di sekolah.

“Georgia bergerak dari tahap pembicaraan awal hingga pendanaan program percontohan melalui legislatif hanya dalam waktu sekitar 120 hari,” ujar Marston.

Marston juga menyatakan bahwa minat terhadap teknologi serupa mulai meningkat di negara bagian lain, termasuk Texas yang diperkirakan akan mengadopsi sistem ini tahun depan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan keamanan berbasis drone mulai mendapatkan pengakuan luas, terutama setelah sejumlah insiden penembakan di sekolah menimbulkan kekhawatiran publik. Di AS, jumlah kasus penembakan di sekolah telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sehingga mendorong pengambilan kebijakan yang lebih proaktif.

Salah satu keunggulan sistem ini adalah kemampuannya untuk mengenali bahaya dari jarak jauh. Drone dapat memantau lingkungan sekitar, mengirimkan sinyal ke kontrol pusat, dan kemudian mengambil tindakan sesuai protokol. Sistem ini juga dirancang untuk tidak mengganggu aktivitas belajar mengajar, karena alat yang digunakan tidak menyerang langsung ke manusia. Selain itu, drone dapat digunakan sebagai alat komunikasi, membantu petugas keamanan untuk mengkoordinasikan respons secara efisien.

Program ini menggabungkan teknologi otomatis dengan pendekatan manusiawi. Meskipun drone bekerja secara independen, mereka tetap dikoordinasikan oleh petugas yang terlatih. Hal ini memastikan bahwa tindakan yang diambil tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran. Marston menegaskan bahwa sistem ini bertujuan untuk menjadi bagian dari strategi keamanan jangka panjang, bukan solusi jangka pendek. “Kami berharap teknologi ini bisa beradaptasi dengan kebutuhan masing-masing sekolah,” kata dia.

Kebijakan keamanan ini juga berdampak pada biaya operasional. Dengan biaya sekitar 8 dolar AS per siswa, program ini tergolong terjangkau dibandingkan sistem keamanan tradisional yang memerlukan anggota polisi atau personel lain untuk berpatroli. Namun, anggaran tersebut bisa berubah tergantung pada jumlah siswa dan kompleksitas kebutuhan sekolah. Marston menyatakan bahwa perusahaan sedang mengevaluasi potensi pengembangan lebih lanjut, termasuk pemakaian drone dengan sensor lain seperti deteksi suara atau pergerakan.

Di sisi lain, sejumlah negara bagian sedang mempertimbangkan penggunaan drone untuk keamanan sekolah. Misalnya, beberapa wilayah di California dan Illinois telah mengajukan rancangan anggaran untuk proyek serupa. Marston mengatakan bahwa tantangan terbesar adalah menyesuaikan teknologi dengan kondisi lokal, termasuk perbedaan kebijakan antar wilayah dan tingkat kebutuhan masyarakat. “Kami harus memastikan bahwa drone bisa bekerja secara efektif di berbagai lingkungan, baik di kota maupun daerah pedesaan,” ujarnya.

Kebijakan ini juga menjadi respons terhadap kecemasan publik terhadap keamanan sekolah. Dengan adanya drone, pelaku penembakan tidak lagi bisa bertindak tanpa diketahui, karena sistem pemantauan bisa mendeteksi keberadaan mereka secara awal. Di samping itu, teknologi ini bisa digunakan untuk menangani situasi darurat lainnya, seperti kebakaran atau bencana alam. Marston berharap program ini bisa menjadi contoh bagi negara bagian lain yang ingin meningkatkan perlindungan terhadap siswa.

Program percontohan ini juga memberikan peluang untuk menguji kinerja drone dalam kondisi nyata. Sejumlah sekolah telah memperbolehkan penggunaan drone selama jam pelajaran, dengan persetujuan dari komite keamanan dan orang tua. Selama uji coba, petugas akan mengamati efektivitas sistem, termasuk respons waktu dan kemampuan drone untuk mengendalikan situasi. Selain itu, sistem ini juga diharapkan bisa membantu mengurangi stres psikologis para siswa, karena kehadiran drone memberikan rasa aman tambahan.

Sementara itu, teknologi drone ini tidak hanya digunakan untuk menangani insiden penembakan, tetapi juga bisa menjadi bagian dari sistem keamanan lain. Misalnya, di beberapa sekolah, drone dipasang untuk memantau keberadaan siswa di luar ruangan, seperti di taman atau lapangan. Dengan cara ini, kejahatan seperti pencurian atau pengacauan bisa dicegah lebih awal. Marston menambahkan bahwa perusahaan sedang mengeksplorasi kemungkinan integrasi teknologi dengan sistem keamanan lain, seperti CCTV dan alat deteksi senjata.

Program ini juga memperlihatkan bagaimana teknologi bisa menjadi alat untuk meningkatkan keselamatan masyarakat. Dengan penggunaan drone, negara bagian tidak hanya berinvestasi dalam infrastruktur, tetapi juga dalam inovasi yang bisa mengubah cara berpikir tentang keamanan. Marston menekankan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. “Kami membutuhkan dukungan dari semua pihak agar teknologi ini bisa berjalan optimal,” katanya.

Dalam jangka panjang, sistem drone diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada kekuatan manusia. Selain itu, biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan dengan armada personel keamanan tradisional menjadikan program ini sebagai alternatif yang layak dipertimbangkan. Marston menyatakan bahwa perusahaan sedang berupaya untuk membuat teknologi ini lebih canggih, termasuk penggunaan AI untuk menganalisis data secara otomatis.

Keberhasilan program uji coba ini akan menjadi tolok ukur untuk pengembangan lebih lanjut. Jika