Pemkot Batu optimalkan green house cegah pertanian terdampak bediding
Pemkot Batu Optimalkan Green House untuk Cegah Dampak Bediding pada Pertanian
Pemkot Batu optimalkan green house cegah – Batu, Jawa Timur (ANTARA) – Upaya Pemerintah Kota Batu dalam memperkuat sektor pertanian semakin intensif dengan memaksimalkan penggunaan green house. Langkah ini bertujuan melindungi produktivitas budidaya sayuran dan bunga hias dari ancaman fenomena bediding, yaitu kondisi suhu dingin yang sering terjadi saat musim kemarau. Dengan menggunakan green house, petani diharapkan dapat mengurangi risiko kerusakan tanaman akibat cuaca ekstrem yang bisa mengganggu pertumbuhan tanaman.
Fenomena Bediding dan Dampak pada Pertanian
Fenomena bediding, yang biasanya terjadi di daerah dataran tinggi, menimbulkan ancaman berupa embus es. Embus es ini dikenal mampu merusak tanaman sayur dan bunga, sehingga memerlukan perlindungan khusus. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Hendry Suseno, menjelaskan bahwa green house menjadi solusi strategis untuk mengatasi perubahan cuaca tersebut.
“Kami memiliki sejumlah green house yang sudah disediakan untuk dipakai oleh kelompok tani. Sarana ini lebih aman karena memungkinkan pengendalian suhu dan kondisi tanaman secara optimal,” ujar Hendry di Kota Batu, Minggu.
Dalam upaya mengantisipasi dampak bediding, Pemkot Batu juga berkoordinasi dengan penyuluh pertanian dan tenaga pendamping di berbagai desa serta kelurahan. Langkah ini dilakukan untuk menyampaikan informasi tentang perubahan cuaca serta langkah pencegahan yang bisa diambil oleh petani.
Capaian Produksi Pertanian di Kota Batu
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, terdapat 42 green house yang telah dibangun di Kota Batu. Dari jumlah tersebut, 38 titik sudah dimanfaatkan oleh kelompok tani, sementara empat lainnya masih dalam proses penggunaan. Hendry menuturkan, sayuran dan bunga hias adalah komoditas unggulan Kota Batu yang berperan penting dalam perekonomian lokal.
Dalam triwulan pertama tahun 2026, hasil panen sayuran seperti sawi putih dan wortel mencatatkan angka signifikan. Sawi putih menghasilkan 28.790,73 kuintal, sedangkan wortel mencapai 22.705,39 kuintal. Selain itu, produksi kentang, bawang daun, kembang kol, kubis, dan bawang merah juga berkontribusi besar. Angka-angka tersebut menunjukkan keberhasilan program pertanian daerah dalam menjaga ketersediaan pasokan.
Pengelolaan Sumber Daya Produksi Pertanian
Pemkot Batu terus mengupayakan pengelolaan sumber daya produksi pertanian, termasuk distribusi pestisida kepada kelompok tani. Hendry mengungkapkan, meskipun kondisi ekonomi memaksa pemerintah melakukan efisiensi anggaran, kegiatan rutin seperti pemberian pestisida tetap dianggarkan karena memberikan manfaat jangka panjang.
“Meski saat ini ada efisiensi, prinsip penunjang pertanian tetap dijaga. Dengan pestisida, petani bisa lebih efektif mengatasi hama atau penyakit yang muncul akibat perubahan cuaca,” tambah Hendry.
Koordinasi dengan penyuluh pertanian tidak hanya sebatas penyampaian informasi. Tim lapangan juga aktif menyalurkan teknik budidaya yang lebih modern, termasuk penggunaan green house. Hendry menjelaskan, perubahan musim bisa memicu munculnya penyakit yang sulit diprediksi, seperti virus atau bakteri. Dengan adanya green house, risiko tersebut dapat diminimalkan.
Strategi Penyuluhan dan Penguatan Pertanian
Dalam menyosialisasikan dampak bediding, Pemkot Batu memprioritaskan pendekatan partisipatif. Kelompok tani menjadi mitra utama dalam mengelola informasi dan mengadopsi langkah pencegahan. Hendry menyebutkan, ada sekitar 290 kelompok tani di seluruh Kota Batu yang sudah menjadi target sosialisasi.
Menurut Hendry, penyaluran informasi melalui tim lapangan diharapkan membangun kesadaran petani tentang kebutuhan adaptasi terhadap fenomena cuaca ekstrem. “Ketika cuaca berubah, banyak penyakit yang muncul. Dengan green house, petani bisa lebih siap menghadapinya,” ujarnya.
Penyuluhan dan Kesiapan Petani
Program penyuluhan ini tidak hanya berfokus pada cuaca, tetapi juga mencakup teknik budidaya yang lebih efisien. Hendry menekankan pentingnya kesinambungan pelatihan bagi para petani, terutama dalam mengelola green house. “Kami berupaya memastikan mereka paham cara mengoptimalkan sarana ini untuk meningkatkan hasil panen,” tutur Hendry.
Dinas Pertanian juga terus memantau kondisi pertanian secara berkala. Hendry menyebutkan, monitoring ini penting untuk menilai kesiapan petani menghadapi perubahan iklim. “Dengan data real-time dari BMKG, kami bisa memperkirakan perubahan cuaca lebih awal dan memberi rekomendasi kepada petani,” katanya.
Potensi Dampak dan Langkah Mitigasi
Fenomena bediding tidak hanya mengancam produksi, tetapi juga berpotensi mengurangi kualitas hasil pertanian. Dengan penggunaan green house, kondisi tanah dan air bisa dijaga agar tetap stabil, bahkan di tengah keterbatasan pasokan air saat musim kemarau. Hendry berharap, kelompok tani bisa memanfaatkan sarana ini secara maksimal.
Menurut BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, bediding sering terjadi di daerah dengan ketinggian di atas 1.000 meter. Fenomena ini bisa menyebabkan suhu turun drastis, yang berdampak pada kecepatan pertumbuhan tanaman. “Dengan green house, suhu bisa diatur sehingga tanaman tidak mengalami stres,” jelas Hendry.
Upaya Meningkatkan Ketahanan Pangan
Kelompok tani yang terlibat dalam program ini diharapkan bisa menjadi pilar ketahanan pangan Kota Batu. Dengan teknologi green house, petani tidak hanya bisa meningkatkan hasil panen, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada cuaca alami. Hendry menegaskan bahwa pemerintah terus mendukung pengembangan pertanian secara berkelanjutan.
Dalam jangka panjang, penggunaan green house di Kota Batu diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sektor pertanian, baik dalam jumlah maupun kualitas. Hendry menyampaikan, langkah ini juga bertujuan mengurangi risiko gagal panen yang sering terjadi akibat cuaca ekstrem.
Keberhasilan program ini tergantung pada keterlibatan aktif para petani. Dengan bimbingan pemerintah dan penyuluh, mereka bisa mengoptimalkan penggunaan green house untuk menjaga ketersediaan komoditas unggulan. Hendry berharap, seluruh kelompok tani se-Kota Batu bisa menjadi contoh dalam adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim.
