Special Plan: Vino G Bastian cerita pemeran berkebutuhan khusus di film Tanah Runtuh
Vino G Bastian cerita pemeran berkebutuhan khusus di film Tanah Runtuh
Special Plan – Dalam sebuah konferensi pers pra-tayang film “Tanah Runtuh” di Jakarta, Kamis (13/06/2026), aktor Vino G Bastian memberikan wawancara tentang peran yang diperankan oleh Ridho Khaliq, seorang penyandang Down Syndrome. Menurut Vino, keterlibatan Ridho dalam film tersebut tidak hanya menjadi bagian dari cerita, tetapi juga menjadi semangat bagi tim produksi. “Ringgo ini justru memberi energi besar, karena bukan sekadar dijadikan sebagai objek untuk keuntungan komersial, tapi sebagai bagian dari narasi yang lebih mendalam,” jelas Vino. Ia menekankan bahwa kehadiran Ridho dalam film ini tidak dirancang untuk memperlihatkan keistimewaan atau kesempurnaan, melainkan untuk menampilkan kehidupan seorang anak dengan keterbatasan tertentu secara alami dan humanis.
“Sama sekali enggak [sebagai objek komersial]. Film ini justru tertolong sekali karena keberadaan Ringgo. Kehadirannya membuka mata kita bahwa mereka patut diberdayakan dengan sebaik-baiknya,” kata Vino.
Vino juga menyampaikan bahwa pengalaman riset di sebuah yayasan yang menaungi penyandang berkebutuhan khusus membuatnya menyadari kebutuhan akan kesetaraan. “Mereka tidak menginginkan perlakuan istimewa yang membedakan, tetapi kesempatan yang sama untuk menunjukkan potensi mereka,” tutur aktor berusia 26 tahun itu. Ia menilai bahwa masih banyak penyandang kebutuhan khusus yang belum memiliki akses untuk mengekspresikan diri atau menempuh perjalanan hidup yang bermakna. Menurutnya, keberadaan Ridho dalam film ini menjadi titik awal untuk memperkenalkan perspektif baru tentang pemberdayaan dan penghargaan terhadap berbagai keunikan manusia.
Mendalami Dunia Pemeran Berkebutuhan Khusus
Sebagai bagian dari proses pembuatan film, Vino mengungkap bahwa ia memperoleh wawasan dari Ridho tentang pengalaman sehari-hari seorang anak dengan Down Syndrome. “Kita sering kali terjebak dalam stereotip, tapi melalui pertemuan langsung dengan Ridho, kita lebih memahami bagaimana ia menghadapi dunia ini dengan kekuatan dan keinginan yang luar biasa,” ujarnya. Vino menyebut bahwa ini menjadi pembelajaran penting baginya, terutama tentang bagaimana perspektif pemeran berkebutuhan khusus bisa mengubah sudut pandang pembuat cerita.
Dalam film “Tanah Runtuh,” Ridho memerankan karakter Ringgo, yang hidup dalam kondisi ketidakpastian di tengah konflik keluarga. Diceritakan bahwa Ringgo dan Kai, yang diperankan oleh Yoan, terpisah dari ibu mereka selama perjalanan yang penuh tantangan. Dalam keadaan sulit, Kai berusaha menemukan ibu kandungnya sambil menempuh berbagai perjalanan di pengungsian, sementara Ringgo menjadi pusat perhatian karena keberadaannya yang tidak terduga. Vino menjelaskan bahwa karakter Idham, yang diperankan olehnya, awalnya hanya bertugas mengelola konflik di wilayah tersebut, tetapi lambat laun, hubungan antara Idham dan kedua anak ini berkembang menjadi sesuatu yang lebih personal.
“Justru keberadaan Ridho ini membuka mata kita bahwa mereka patut diberdayakan dengan sebaik-baiknya,” lanjut Vino, menambahkan bahwa ini bukan hanya tentang kesetaraan, tetapi juga tentang menggambarkan kehidupan nyata dengan realitas yang lebih tajam.
Vino juga menyoroti bagaimana film ini menggambarkan perjuangan seorang anak penyandang kebutuhan khusus dalam mencari identitas dan harapan. “Kami mencoba menampilkan bagaimana mereka menghadapi rasa takut yang tidak sepenuhnya mereka pahami, tetapi tetap bertahan dengan semangat dan kekuatan,” katanya. Menurutnya, pemeran berkebutuhan khusus dalam film ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga menjadi bagian aktif dari alur cerita, sehingga menghasilkan kisah yang lebih mendalam dan menyentuh.
Proses Pembuatan dan Tema Film
Sebagai bagian dari pengalaman produksi, Vino mengungkap bahwa proses memerankan karakter Idham membutuhkan adaptasi yang signifikan. “Kami tidak hanya menggambarkan konflik, tetapi juga menghadirkan kisah tentang tanggung jawab, kepedulian, dan hubungan yang tumbuh secara alami. Ini adalah cerita yang tidak hanya tentang kehidupan pribadi, tetapi juga tentang keberagaman yang ada di masyarakat,” tuturnya. Vino menekankan bahwa film ini dirancang untuk memicu refleksi penonton tentang bagaimana seseorang dengan kebutuhan khusus bisa membangun hubungan yang berarti, meskipun dalam kondisi yang berat.
Vino juga menyoroti peran Yoan sebagai Kai, yang memiliki kemampuan unik dalam menghadapi tantangan. “Kami mencoba mengeksplorasi bagaimana Kai memimpin perjalanan ini, baik dalam segi emosional maupun fisik. Peran Yoan tidak hanya menghadirkan kekuatan, tetapi juga kerentanan yang nyata,” katanya. Dalam wawancara, Vino menekankan bahwa film ini adalah bentuk pengakuan terhadap pengorbanan dan perjuangan para penyandang kebutuhan khusus, yang sering kali dianggap sebagai bagian dari cerita sekunder.
“Mudah-mudahan lewat film ini kita semua terbuka hati dan pikiran. Jadi jangan diputarbalikkan bahwa keberadaan Ridho ini menjadi senjata komersial, karena dari awal kita enggak pernah berpikir seperti itu. Kehadirannya justru membuka mata kita bahwa mereka layak diberdayakan,” tutur Vino.
Di sisi lain, Vino mengungkapkan bahwa pembuatan film ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan perspektif baru tentang kehidupan penyandang berkebutuhan khusus. “Kami tidak hanya ingin menampilkan mereka dalam suasana yang berbeda, tetapi juga menunjukkan bahwa mereka mampu menciptakan kisah yang sama hebatnya dengan orang lain,” katanya. Dengan memasukkan Ridho Khaliq sebagai Ringgo, Vino berharap film ini bisa menjadi ajang untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap inklusi dan perlakuan yang lebih adil terhadap penyandang kebutuhan khusus.
Film “Tanah Runtuh” akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 25 Juni 2026, dan akan diperankan oleh sejumlah aktor ternama, termasuk Yoan, Sigi Wimala, Jenda Munthe, dan Tike Priatnakusumah. Vino menyebut bahwa film ini tidak hanya menjadi kisah tentang konflik, tetapi juga tentang kekuatan manusia dalam menghadapi ketidakpastian. “Kami ingin menunjukkan bahwa keberadaan Ridho ini adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar penonton yang terpukau,” pungkasnya.
Dengan memasukkan karakter berkebutuhan khusus ke dalam cerita utama, Vino menganggap ini sebagai langkah penting untuk mengubah persepsi masyarakat tentang kelompok ini. “Mereka bukan hanya ditampilkan sebagai subjek, tetapi juga menjadi bagian dari alur yang menentukan arah keseluruhan film. Ini adalah cerita yang membuktikan bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan,” katanya. Dalam penutupannya, Vino menegaskan bahwa film ini tidak hanya tentang perjuangan individu, tetapi juga tentang kepedulian kolektif terhadap pemberdayaan yang lebih luas.
