Key Discussion: Airlangga berharap Himbara tak terlalu cepat menaikkan bunga kredit
Airlangga Ingatkan Himbara Jangan Terlalu Cepat Naikkan Bunga Kredit
Key Discussion – Dalam Key Discussion terkini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan harapan agar Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) tidak langsung menaikkan bunga kredit setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen. Penyesuaian bunga oleh Himbara terjadi dalam tempo satu bulan setelah BI melakukan dua kenaikan berturut-turut, masing-masing 50 dan 25 basis poin (bps), pada 19-20 Mei serta 9 Juni 2026. Airlangga menekankan pentingnya keteraturan dalam mengambil keputusan bunga perbankan, terutama di tengah perubahan dinamika pasar.
Analisis Dinamika Pasar dan Langkah Himbara
Berikutnya, dalam Key Discussion yang sama, Airlangga menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan memiliki dampak signifikan terhadap bunga kredit. Meski transmisi kebijakan BI-Rate sudah terjadi, ia mengharapkan Himbara tidak terlalu cepat mengambil langkah penyesuaian bunga, agar tidak mengganggu akses kredit masyarakat. “Kita perlu menyesuaikan secara bertahap, agar pertumbuhan kredit tetap stabil,” ujarnya. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan inflasi.
“Kalau kita lihat dari sisi suku bunga jangka panjang, sampai saat ini belum ada kebutuhan signifikan untuk menaikkan bunga secara besar-besaran,” kata Teguh Sulistyono, kepala divisi likuiditas dan pendanaan Bank Rakyat Indonesia (BRI), dalam bincang bersama media di Jakarta, Kamis. Ia menambahkan bahwa BRI, sebagai salah satu anggota Himbara, mempertimbangkan kebutuhan pertumbuhan kredit jangka panjang sebelum mengambil keputusan.
Kenaikan BI-Rate 100 bps dalam sebulan terakhir memang memberikan tekanan terhadap pasar keuangan. Namun, Airlangga mengingatkan bahwa Himbara harus mengimbangi kebijakan bunga dengan aspek daya beli masyarakat dan kepercayaan investor. “Key Discussion terkini menunjukkan bahwa kenaikan bunga acuan adalah bagian dari upaya menekan inflasi, tetapi jangan sampai menghambat pertumbuhan kredit,” jelasnya.
Himbara, yang terdiri dari Bank BRI, Bank BTN, dan Bank Mandiri, dikenal memiliki kebijakan bunga yang lebih stabil dibandingkan bank swasta. Meski demikian, keputusan mereka tetap dipengaruhi oleh dinamika pasar dan kondisi perekonomian. Dalam Key Discussion, Airlangga menyatakan bahwa Himbara bisa menyesuaikan bunga kredit secara bertahap, agar tidak merugikan sektor produktif dan keuangan mikro.
Sebagai contoh, Teguh Sulistyono dari BRI menegaskan bahwa suku bunga deposito 1 bulan saat ini sebesar 4,26 persen, sementara bunga kredit mencapai 8,72 persen. Angka ini mencerminkan tekanan dari kenaikan BI-Rate, tetapi BRI masih menunggu indikator yang lebih jelas sebelum menaikkan bunga. “Dalam Key Discussion, kita melihat bahwa penyesuaian bunga perlu dijaga agar tidak terlalu drastis,” tambahnya.
Kenaikan bunga acuan juga berdampak pada biaya pinjaman masyarakat dan bisnis. Airlangga menyoroti bahwa pemerintah terus memantau efek dari kebijakan BI terhadap pertumbuhan kredit dan inflasi. “Key Discussion terkini menggarisbawahi kebutuhan keseimbangan antara mengendalikan inflasi dan menjaga kestabilan pasar,” kata menteri tersebut. Ia menegaskan bahwa kenaikan bunga harus didasari analisis yang matang, bukan hanya reaksi instan terhadap kebijakan BI.
