Menteri: Belum ada laporan kampus rusak signifikan akibat gempa Palu

1000673463-1

Pembaruan dari Kementerian

Menteri – Kota Jakarta, Rabu – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengungkapkan bahwa sampai saat ini, pihaknya belum menerima laporan mengenai kerusakan signifikan pada institusi pendidikan tinggi akibat gempa yang mengguncang Palu pada Selasa (16/6). Menurut informasi yang diperoleh, kondisi kampus secara umum masih dalam keadaan aman, dengan hanya laporan kecil mengenai retakan pada dinding bangunan.

“Dari laporan sementara yang kami terima, belum ada laporan kerusakan serius pada bangunan kampus yang disebabkan oleh gempa,” ujar Yuliarto saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar perguruan tinggi melaporkan bahwa infrastruktur mereka berada dalam kondisi baik, meskipun terdapat retakan minor di beberapa bagian bangunan. Meski begitu, beberapa institusi pendidikan telah mencatat adanya dampak terbatas, seperti kerusakan peralatan laboratorium dan komputer akibat jatuhnya benda-benda selama guncangan, plafon ruangan yang hancur di lokasi tertentu, serta retakan pada dinding, lantai, dan struktur bangunan.

Analisis Gempa oleh BMKG

Data Seismologi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan laporan bahwa pusat gempa tektonik berkekuatan 6,7 terletak pada koordinat 1,13 derajat lintang selatan dan 120,23 derajat bujur timur. Gempa tersebut berada di sekitar 42 kilometer arah tenggara Kota Palu, yang berdampak pada beberapa wilayah Kabupaten Poso dan Parigi Moutong.

“Getaran gempa dapat dirasakan oleh masyarakat di sejumlah daerah di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong,” jelas BMKG dalam pemutakhiran data terkini.

Seiring waktu, BMKG mencatat bahwa instrumen seismograf telah mendeteksi aktivitas gempa susulan sebanyak 118 kali, dengan tren magnitudo yang terus menurun. Meski gempa susulan terjadi secara berkala, intensitasnya tidak menyebabkan kerusakan serius di sebagian besar wilayah.

Stabilitas Bangunan Kampus

Menurut laporan dari Kampus Universitas Tadulako (Untad) Palu, beberapa bangunan mengalami kerusakan akibat guncangan gempa. Data awal yang dihimpun oleh universitas menunjukkan bahwa retakan dinding, lepasnya material pelapis, kerusakan plafon, serta pecahnya kaca adalah dampak yang tercatat. Beberapa struktur, seperti Auditorium Untad, dilaporkan mengalami kerusakan pada plafon bagian tertentu dan gangguan pada fasilitas videotron.

“Meskipun terjadi kerusakan, tidak ada laporan mengenai gangguan serius yang menghambat operasional kampus secara keseluruhan,” tambah Yuliarto.

Kerusakan di Fasilitas Kampus

Perguruan Tinggi dan Instalasi Khusus

Di sisi lain, RS Untad juga melaporkan adanya retakan pada bagian-bagian non struktural bangunan. Sejumlah ruangan di rumah sakit tersebut mengalami kerusakan akibat guncangan, meskipun tidak memengaruhi stabilitas keseluruhan bangunan. Selain itu, Fakultas Teknik di Untad mengalami kehancuran plafon di beberapa titik, sementara Gelanggang Mahasiswa dilaporkan mengalami retakan pada sejumlah bagian bangunan yang masih dalam penelitian lanjutan.

“Kerusakan terjadi pada bangunan yang sebelumnya telah direhabilitasi dan direkonstruksi pasca-bencana gempa, tsunami, serta likuefaksi tahun 2018,” terang sumber dari universitas tersebut.

Kesiapan Kampus

Kementerian Pendidikan Tinggi terus memantau kondisi kampus di Palu, dengan fokus pada keberlanjutan operasional akademik. Meski beberapa bangunan mengalami kerusakan, para pengelola kampus masih berupaya memperbaiki fasilitas tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar. “Kami memastikan bahwa kampus tetap dapat beroperasi normal setelah evaluasi lanjutan,” kata Yuliarto.

Kerusakan yang tercatat menunjukkan bahwa bangunan yang telah direkonstruksi tetap memiliki daya tahan cukup baik, tetapi beberapa bagian memerlukan perbaikan lebih lanjut. Pihak universitas menyatakan bahwa seluruh bangunan akan diperiksa secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada risiko keamanan yang mengancam mahasiswa atau staf.

Kemungkinan Dampak Jangka Panjang

Dalam menghadapi gempa susulan yang terus terjadi, Kementerian Pendidikan Tinggi mengingatkan bahwa kampus-kampus di Palu perlu bersiap untuk memantau kondisi infrastruktur secara rutin. Meski tidak ada laporan kerusakan berat saat ini, potensi ketergantungan pada struktur bangunan yang sudah diubah atau diperbaiki sebelumnya perlu diperhatikan.

“Kami masih menunggu hasil evaluasi lebih lanjut untuk menentukan tingkat kerusakan yang pasti. Dengan demikian, upaya pemulihan akan dilakukan sesuai dengan prioritas,” ungkap Yuliarto.

Kabupaten Poso dan Parigi Moutong, yang juga merasakan getaran gempa, perlu memperkuat pengawasan terhadap bangunan sekolah dan fasilitas umum lainnya. BMKG menyebutkan bahwa jumlah gempa susulan telah mencapai 118 kali sejak Rabu siang, dengan kekuatan yang terus berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa gelombang gempa masih dalam proses pendinginan, namun tingkat kekuatannya tidak mengarah pada kerusakan besar.

Dalam rangka mencegah risiko di masa depan, para pejabat terkait akan melakukan pemeriksaan terhadap struktur bangunan yang terkena dampak gempa. “Kami yakin bahwa sistem kampus tidak akan mengalami gangguan serius jika langkah-langkah perbaikan dipercepat,” kata Yuliarto. Selain itu, penelitian lebih lanjut juga akan dilakukan untuk menilai apakah ada perubahan pada stabilitas tanah yang dapat memengaruhi kemungkinan gempa susulan di masa mendatang.

Langkah-Langkah Pemulihan

Pihak kementerian dan universitas berkomitmen untuk melakukan tindakan cepat dalam mengatasi kerusakan yang terjadi. Tim inspeksi telah diterjunkan untuk mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan mendesak. “Kami akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk memastikan bahwa seluruh fasilitas kampus siap digunakan kembali dalam waktu singkat,” lanjut Yuliarto.

Sejumlah pihak juga mengingatkan bahwa pendidikan tinggi di Palu tetap menjadi prioritas nasional, dan setiap upaya untuk menjaga ketersediaan layanan pendidikan harus diutamakan. Dengan adanya kerusakan minor, langkah-langkah pencegahan dan perbaikan akan dilakukan secara bertahap, sehingga tidak mengganggu proses belajar mengajar.

BMKG mengimbau masyarakat di sekitar zona gempa untuk tetap waspada, meskipun intensitas getaran telah berkurang. Pemant