Pemkot Solo gelar lomba mural atasi vandalisme di Gereja Purbayan

Screenshot-2026-06-10-204915

Pemkot Solo Meluncurkan Kompetisi Seni Mural sebagai Upaya Memperkuat Budaya Lokal di Gereja Purbayan

Kontes Seni Mural Tepat Saat Perayaan Hari Kebudayaan Nasional

Pemkot Solo gelar lomba mural atasi – Pemerintah Kota Solo menghadirkan inisiatif seni kreatif dengan mengadakan lomba mural bertema “Harmony of Solo” di pagar Gereja Paroki Santo Antonius Padua Purbayan, pada 10 hingga 11 Juni 2026. Acara ini bertujuan meningkatkan nilai estetika tempat ibadah yang merupakan bagian dari situs cagar budaya tersebut, sekaligus memerangi tindakan vandalisme yang sering terjadi. Gereja Purbayan, yang berlokasi di Jalan Purbayan, menjadi saksi bisu perlawanan kota Solo terhadap kerusakan yang disebabkan oleh aksi vandalisme. Sejak beberapa tahun terakhir, bangunan gereja ini sering menjadi target penyerang yang merusak struktur luar dan dindingnya. Dengan adanya lomba mural, Pemkot Solo berharap mampu mengubah citra tempat ibadah tersebut menjadi simbol keindahan dan harmoni antar budaya. Lomba ini melibatkan sepuluh finalis yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka dipilih melalui seleksi ketat yang melibatkan para ahli seni dan warga setempat. Setiap peserta diminta menghadirkan karya yang mencerminkan identitas Solo serta keberagaman budaya di sekitarnya. “Kami ingin melibatkan kreativitas masyarakat untuk merenovasi penampilan gereja ini sekaligus menggantikan tindakan merusak dengan inisiatif positif,” kata Denik Apriyani, salah satu penyelenggara lomba, dalam wawancara terpisah.

Acara ini digelar sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Kebudayaan Nasional yang diadakan oleh Pemkot Solo. Tanggal 10 hingga 11 Juni dipilih sebagai waktu pelaksanaan karena menandai kembalinya kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya. Dalam kesempatan ini, para peserta diberikan ruang untuk menggambarkan narasi kehidupan religius dan sejarah gereja melalui karya seni mereka.

Mural yang dihasilkan akan menjadi bagian dari dekorasi permanen di pagar gereja, menggantikan area yang sebelumnya terkena kerusakan. Selain itu, acara ini juga diharapkan menjadi media edukasi bagi warga sekitar mengenai pentingnya melindungi warisan budaya. “Vandalisme sering kali terjadi karena kurangnya kesadaran, maka dengan karya seni, kami mencoba membangkitkan rasa bangga dan kepedulian terhadap tempat ini,” tambah Rizky Bagus Dhermawan, salah satu anggota tim penyelenggara.

Kehadiran lomba ini juga memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas seni lokal. Gereja Purbayan, yang berdiri sejak abad ke-18, menjadi pusat kegiatan budaya dan sosial bagi warga Solo. Kerusakan yang terjadi selama ini tidak hanya mengganggu estetika, tetapi juga membahayakan struktur bangunan yang sudah tua. Melalui mural, Pemkot Solo berharap menciptakan lingkungan yang lebih aman dan bernuansa artistik.

Murid-murid sekolah seni dari berbagai daerah seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung ikut serta dalam kompetisi ini. Mereka diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi tema keharmonisan yang diusung, termasuk hubungan antara keagamaan dan kehidupan sehari-hari. “Karya ini tidak hanya tentang estetika, tetapi juga tentang cerita,” ujar Arsy Fitriady, salah satu peserta yang berhasil masuk babak final.

Pelaksanaan lomba mural di pagar gereja ini sejalan dengan upaya Pemkot Solo dalam memperkenalkan inovasi seni ke kawasan sejarah. Selain itu, acara ini juga menjadi ajang promosi pariwisata kota Solo, karena Gereja Purbayan adalah salah satu tempat yang paling terkenal di Kota Bengawan. Karya seni yang terpilih akan dipajang selama sebulan, dan sebagian besar dana dari acara ini dialokasikan untuk perawatan gereja.

Menurut Denik Apriyani, proses seleksi mural melibatkan evaluasi terhadap teknik, kreativitas, dan relevansi dengan tema keharmonisan. “Kami mencari karya yang tidak hanya indah, tetapi juga mampu menyampaikan pesan sosial dan budaya,” jelasnya. Setiap peserta diberi waktu tiga hari untuk menyelesaikan karya mereka, dengan bantuan tim teknis yang siap memberikan panduan.

Kontes ini juga memberikan ruang bagi warga Solo untuk berpartisipasi secara aktif dalam pelestarian budaya. “Dengan mengganti area yang rusak dengan mural, kami berharap masyarakat merasa lebih terlibat dalam menjaga keindahan gereja,” tambah Rizky Bagus Dhermawan. Selain itu, lomba ini menjadi wadah bagi seniman muda untuk menunjukkan bakat mereka di tengah tantangan yang dihadapi oleh kota bersejarah ini.

Di sisi lain, Arsy Fitriady menyebutkan bahwa pelaksanaan lomba ini juga memperkuat identitas budaya Solo. “Harmoni tidak hanya tentang keselarasan, tetapi juga tentang keragaman yang tetap saling menghargai,” katanya. Dalam beberapa minggu terakhir, tim penyelenggara sudah melakukan persiapan intensif, termasuk pembersihan area yang rusak dan pemasangan bahan baku seni untuk mendukung karya peserta.

Para peserta lomba juga diberikan pelatihan khusus mengenai teknik pembuatan mural, agar karya mereka memenuhi standar kualitas yang diharapkan. Acara ini diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana seni bisa menjadi alat untuk mengatasi masalah sosial. “Kami ingin membuktikan bahwa seni bukan hanya hiburan, tetapi juga perangkat untuk menyampaikan pesan pemulihan dan penghormatan,” ucap Denik.

Dengan adanya lomba mural ini, Pemkot Solo menunjukkan komitmen terhadap pelestarian kebudayaan sekaligus meningkatkan daya tarik wisatawan. Gereja Purbayan yang terkenal dengan arsitektur klasiknya akan menjadi lebih menarik, sekaligus menjadi saksi bisu perubahan positif di kota yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa.

“Pemkot Solo menggelar lomba mural bertema Harmony of Solo di pagar Gereja Paroki Santo Antonius Padua Purbayan, Solo, pada 10 hingga 11 Juni 2026. Lomba ini menjadi respons atas aksi vandalisme yang kerap merusak pagar gereja cagar budaya tersebut. Sepuluh finalis dari berbagai daerah turut ambil bagian.”

Kontes ini juga memberikan ruang bagi warga Solo untuk berpartisipasi secara aktif dalam pelestarian budaya. “Dengan mengganti area yang rusak dengan mural, kami berharap masyarakat merasa lebih terlibat dalam menjaga keindahan gereja,” tambah Rizky Bagus Dhermawan.

Pelaksanaan lomba mural di pagar gereja ini sejalan dengan upaya Pemkot Solo dalam memperkenalkan inovasi seni ke kawasan sejarah. Selain itu, acara ini menjadi ajang promosi pariwisata kota Solo, karena Gereja Purbayan adalah salah satu tempat yang paling terkenal di Kota Bengawan. Karya seni