Latest Program: Ekonom: Kenaikan BI-Rate jadikan aset rupiah lebih menarik

bank-indonesia-pertahankan-bi-rate-475-persen-2654157

Ekonom: Kenaikan BI-Rate Jadikan Aset Rupiah Lebih Menarik

Latest Program – Jakarta, Selasa – Menurut Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank, peningkatan suku bunga BI (Bank Indonesia) dalam jangka pendek diharapkan mampu memberikan dampak positif. Kebijakan tersebut, dijelaskan Josua, bisa membuat mata uang rupiah lebih diminati dan membantu mengurangi tekanan penjualan terhadap rupiah. “Dengan kenaikan suku bunga, BI mencoba memberikan sinyal kuat bahwa pelemahan rupiah tidak bisa ditangani hanya melalui operasi pasar valuta asing,” ujar Josua saat dihubungi ANTARA di Jakarta.

Langkah Defensif untuk Mengatasi Kerusakan

Menurut Josua, kebijakan BI-Rate ini sifatnya lebih sebagai langkah defensif, bertujuan mencegah kerusakan yang lebih besar terhadap nilai tukar rupiah. “Jika kekhawatiran investor tetap berlangsung, dampak penguatan rupiah mungkin hanya bersifat sementara,” tambahnya. Ia menekankan bahwa langkah ini merupakan tindakan yang perlu diambil saat rupiah mulai menembus level psikologis penting, di tengah tekanan global yang masih tinggi dan risiko kenaikan harga energi.

“Membiarkan rupiah terus melemah bisa memicu inflasi, mengurangi kepercayaan pasar, dan meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah serta sektor swasta,” ujar Josua.

Ia juga menyampaikan bahwa BI berharap kebijakan ini dapat menarik kembali aliran dana asing yang sebelumnya berhati-hati. “Kenaikan imbal hasil rupiah akan memperkuat daya tariknya, terutama jika ditambahkan dengan penurunan biaya lindung nilai, intervensi valuta asing yang terukur, dan perbaikan daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),” jelas Josua. Menurutnya, kebijakan BI-Rate harus didukung oleh komunikasi yang jelas dan konsisten, agar efektivitasnya dapat mencapai maksimal.

Kebutuhan Kredibilitas Fiskal dan Regulasi

Dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil, Josua menegaskan bahwa kredibilitas fiskal pemerintah menjadi kunci utama. “Jika sisi fiskal dan regulasi tidak memberikan persepsi positif kepada investor, BI akan terus dipaksa bekerja lebih keras dengan biaya stabilisasi yang meningkat,” kata Josua. Ia menyoroti perlunya pemerintah memperkuat kepercayaan pasar melalui kebijakan fiskal yang disiplin, belanja yang lebih selektif, kepastian regulasi, serta penguatan penerimaan negara.

“Perekonomian akan lebih stabil jika kenaikan suku bunga dibarengi dengan kredibilitas fiskal, kepastian kebijakan, dan reformasi yang meningkatkan iklim investasi,” ujar Josua.

Menurut Josua, kenaikan BI-Rate bukan solusi permanen, tetapi jembatan untuk memulihkan kepercayaan pasar. “Langkah ini perlu diimbangi dengan upaya jangka panjang dalam memperbaiki struktur perekonomian dan meningkatkan daya saing sektor riil,” tambahnya. Ia memperkirakan bahwa jika kebijakan ini berlangsung terlalu lama, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi bisa menjadi beban tambahan.

Perbandingan Dampak pada Sektor Ekonomi

Di sisi lain, Josua menyoroti bahwa kenaikan BI-Rate memiliki dua sisi. Di satu sisi, kebijakan ini dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengurangi kenaikan harga barang impor, serta melindungi daya beli masyarakat dari risiko inflasi. “Namun, di sisi lain, biaya dana perbankan berpotensi meningkat, bunga kredit sulit turun, dan dunia usaha akan lebih hati-hati dalam ekspansi,” ujar Josua.

“Sektor yang rentan terhadap perubahan suku bunga, seperti properti, otomotif, pembiayaan konsumsi, dan usaha yang banyak mengandalkan pinjaman jangka pendek, akan merasakan tekanan lebih awal,” kata Josua.

Josua menegaskan bahwa kebijakan ini membantu menjaga keseimbangan ekonomi, tetapi jika tidak disertai dengan reformasi struktural, risiko terhadap pertumbuhan bisa meningkat. “Sektor keuangan dan bisnis perlu beradaptasi dengan kebijakan moneter yang lebih ketat, sementara pemerintah harus memastikan kebijakan fiskal tetap terjaga,” jelasnya. Ia berharap kebijakan BI-Rate menjadi bagian dari upaya menyeluruh dalam menstabilkan perekonomian.

Harapan untuk Stabilisasi Jangka Panjang

Josua menambahkan bahwa meski langkah BI-Rate bermanfaat, keberhasilan jangka panjang tergantung pada komunikasi kebijakan yang transparan dan disiplin APBN yang konsisten. “Pemerintah harus memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil memiliki dampak positif, baik dalam hal stabilitas nilai tukar maupun pertumbuhan ekonomi,” ujar Josua. Ia juga menyebutkan bahwa kepercayaan pasar akan meningkat jika ada kepastian terkait kebijakan moneter dan fiskal, serta adanya reformasi yang mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

“Stabilisasi rupiah hanya akan bersifat sementara jika kredibilitas fiskal, kepastian kebijakan, dan reformasi iklim investasi tidak diperbaiki secara bersamaan,” jelas Josua.

Kenaikan BI-Rate, menurut Josua, juga mendorong kembali arus dana asing ke pasar Indonesia. “Dengan imbal hasil rupiah yang lebih menarik, investor asing bisa kembali mengalirkan dana, sekaligus memperkuat nilai tukar mata uang lokal,” ujarnya. Namun, ia menekankan bahwa efektivitas kebijakan ini bergantung pada kombinasi antara langkah BI dan komitmen pemerintah untuk memperbaiki lingkungan bisnis.

Josua menyimpulkan bahwa kenaikan BI-Rate merupakan langkah yang rasional dan perlu diambil, tetapi harus dilihat sebagai bagian dari strategi jangka panjang. “BI harus menjadi penopang yang konsisten, sementara pemerintah harus menjadi penggerak utama dalam reformasi ekonomi,” jelasnya. Ia berharap, dengan kombinasi kebijakan yang tepat, rupiah dapat mencapai stabilitas yang lebih tahan lama, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pasar global.

Dalam konteks global, tekanan terhadap rupiah terus berlangsung akibat ketidakpastian ekonomi internasional dan volatilitas harga komoditas. “Sementara itu, sektor keuangan perlu beradaptasi dengan kondisi pasar yang berubah, dengan tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan,” ujar Josua. Ia yakin, langkah BI-Rate akan menjadi fondasi penting untuk membangun kepercayaan pasar, terutama dalam memperkuat daya tarik aset rupiah di tengah lingkungan ekonomi yang tidak pasti.

Kenaikan suku bunga juga diperkirakan memengaruhi perilaku investor, terutama yang memilih investasi dalam aset rupiah. “Dengan imbal hasil yang lebih menarik, investor bisa lebih tenang, sekaligus mendorong perbaikan kepercayaan terhadap mata uang lokal,” jelas Josua. Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan ini perlu diiringi oleh kebijakan moneter yang disiplin dan pengelolaan ekonomi yang stabil, agar dampaknya bisa bertahan dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Saat ini, BI-Rate menjadi salah satu alat utama dalam menghadapi tekanan rupiah. Josua menilai langkah ini perlu dipertimbangkan secara hati-hati, karena bisa memberikan dampak signifikan terhadap sektor-sektor yang rentan terhadap per