New Policy: EHG perkuat ekosistem kesehatan berkelanjutan
EHG tingkatkan ekosistem layanan kesehatan berkelanjutan
New Policy – Jakarta – Edelweiss Healthcare Group (EHG) mengadakan acara Edelweiss Excellence Award 2026 guna mengapresiasi mitra perusahaan asuransi. Upaya ini bertujuan memperkuat sistem layanan kesehatan yang berkelanjutan serta meningkatkan produktivitas pekerja di Indonesia. “Penganugerahan ini merupakan bentuk penghargaan resmi EHG kepada mitra yang memberikan kontribusi penting dalam membangun ekosistem layanan kesehatan berkelanjutan,” ujar CEO EHG, dr. Budi Setiawan Djamhoer, di Jakarta, pada hari Minggu. Ia menambahkan bahwa penghargaan tersebut bukan hanya simbolisasi, melainkan pengakuan atas peran strategis mitra dalam meningkatkan kualitas layanan medis.
Perspektif jangka panjang dari EHG
Dalam wawancara terpisah, dr. Budi Setiawan Djamhoer menegaskan bahwa ekosistem perlindungan tenaga kerja merupakan fondasi kritis dalam menciptakan masyarakat yang lebih produktif. “Kesehatan pekerja adalah prioritas utama dalam pembangunan nasional,” jelasnya. Di tingkat holding, EHG terus mengoptimalkan proses pelayanan dengan mempercepat waktu turnaround, memudahkan akses cashless, serta mengintegrasikan sistem teknologi informasi (TI) untuk memastikan pertukaran data antarmitra lebih efisien. Ini merupakan langkah untuk meningkatkan kecepatan dan kualitas layanan kesehatan secara keseluruhan.
“Ekosistem perlindungan ketenagakerjaan menjadi landasan penting dalam membangun masyarakat produktif,” kata dr. Budi Setiawan Djamhoer.
Sebagai bagian dari komitmen ini, EHG memastikan bahwa seluruh proses administrasi telah terdokumentasi secara rapi dan transparan. Hal ini memungkinkan pihaknya untuk memberikan pertanggungjawaban atas setiap aktivitas saat diperlukan audit atau evaluasi. “Kita harus bersama-sama memperkuat komitmen meningkatkan produktivitas kesehatan pekerja, karena tenaga kerja sehat merupakan aset utama kemajuan bangsa,” tambahnya.
Perkembangan pasar asuransi kesehatan Indonesia
Di sisi lain, Board Member EHG, Muhammad Fajrin Rasyid, mengungkapkan proyeksi pertumbuhan pasar asuransi kesehatan Indonesia yang diprediksi mencapai tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 7,48 persen pada 2026. Angka ini lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil sekitar 5 persen per tahun. “Faktor utama yang mendukung pertumbuhan ini meliputi perluasan cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), meningkatnya permintaan dari segmen kelas menengah, serta hadirnya pola asuransi mikro melalui platform dompet digital,” terangnya.
Dalam konteks anggaran, dana kesehatan nasional pada tahun 2026 mencapai Rp244 triliun, naik 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Peningkatan anggaran ini menjadi indikator kuat tentang komitmen pemerintah terhadap sektor kesehatan,” kata Fajrin Rasyid. Angka ini menunjukkan bahwa pemerintah semakin mengakui pentingnya investasi dalam layanan kesehatan sebagai bagian dari pengembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Tantangan inflasi medis dan dampaknya
Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dr. Emira E. Oepangat, inflasi di sektor kesehatan Indonesia mencapai hampir dua kali lipat dari inflasi global. “Tingkat inflasi medis saat ini sangat signifikan, sehingga memengaruhi kenaikan premi asuransi per polis hingga 43,01 persen pada tahun 2024,” jelasnya. Kenaikan ini diakibatkan oleh kebijakan ‘repricing’ besar-besaran untuk menyesuaikan dengan lonjakan rasio klaim yang terjadi.
“Inflasi medis Indonesia saat ini hampir dua kali lipat inflasi global,” kata dr. Emira E. Oepangat.
Oepangat menyoroti bahwa kondisi ini berpotensi mempercepat risiko keluarga berpenghasilan rendah terkena kemiskinan, terutama jika mereka tidak memiliki akses ke layanan asuransi kesehatan yang layak. “Naiknya biaya kesehatan yang signifikan bisa menguras daya beli masyarakat, sehingga memperkuat kebutuhan perlindungan asuransi,” tambahnya. Dia juga mengingatkan bahwa perlu adanya inovasi dalam penyediaan layanan kesehatan agar masyarakat luas dapat terjangkau.
Selain itu, EHG terus berupaya meningkatkan standar layanan medis secara etis tanpa kompromi terhadap praktik penggunaan layanan kesehatan secara berlebihan. “Kita harus menjaga integritas layanan medis agar tetap memenuhi kebutuhan pekerja sekaligus mengoptimalkan penggunaan sumber daya,” lanjut dr. Budi Setiawan Djamhoer. Dengan pendekatan ini, EHG bertujuan memastikan bahwa setiap langkah yang diambil memberikan manfaat maksimal kepada masyarakat.
Pertumbuhan industri asuransi kesehatan di Indonesia juga mencerminkan kebutuhan akan akses yang lebih luas ke layanan kesehatan berkualitas. “Kenaikan CAGR pasar asuransi kesehatan menjadi bukti bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya perlindungan kesehatan,” ujar Fajrin Rasyid. Di samping itu, inisiatif micro-insurance melalui dompet digital diharapkan dapat membantu masyarakat menengah ke bawah mengakses layanan kesehatan tanpa mengorbankan kebutuhan pokok.
EHG melalui acara Edelweiss Excellence Award 2026 menunjukkan komitmen untuk menciptakan ekosistem kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. “Kita harus terus bergerak bersama menghadapi tantangan inflasi dan mengubahnya menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas layanan,” kata dr. Budi Setiawan Djamhoer. Dengan penguatan ekosistem ini, EHG berharap dapat berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
