Latest Program: Pertamina Hulu Indonesia catat produksi minyak 120 persen dari target

Pertamina Hulu Indonesia Capai Produksi Minyak 120 Persen dari Target

Latest Program – Penajam Paser Utara, Kalimantan – PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), yang beroperasi dalam Subholding Upstream PT Pertamina (Persero), mencatatkan hasil produksi yang memenuhi target tahunan pada triwulan pertama 2026. Dalam periode tersebut, perusahaan berhasil memproduksi 60,44 ribu barel minyak per hari (mbopd) dan 619 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd), masing-masing mencapai 120 persen dan 105 persen dari rencana produksi tahunan. Capaian tersebut, menurut Direktur Utama PHI, Sunaryanto, menjadi bukti komitmen perusahaan untuk memastikan kelanjutan produksi energi melalui inovasi dan peningkatan operasional.

Inovasi Teknologi Mendukung Target Nasional

Menurut Sunaryanto, upaya PHI untuk meningkatkan kapasitas produksi tidak hanya bergantung pada penggunaan teknologi, tetapi juga pada kolaborasi lintas fungsi dan sinergi yang dijalin dengan berbagai pihak. “Komitmen kami terhadap inovasi dan keandalan fasilitas menjadi elemen kunci dalam mencapai pertumbuhan produksi, yang sekaligus berkontribusi pada pencapaian target nasional dan ketahanan energi Indonesia,” jelasnya dalam keterangan pers yang diterima ANTARA di Penajam, Sabtu.

“Penerapan inovasi dan teknologi merupakan langkah strategis dalam menahan laju penurunan produksi, meningkatkan recovery rate, dan mempertahankan efisiensi lapangan migas yang telah masuk fase matang di Kalimantan,” tambah Sunaryanto.

Dalam upaya ini, PHI menggandeng berbagai anak perusahaan untuk menerapkan metode mutakhir yang sesuai dengan tantangan setiap lapangan. Salah satu contohnya adalah penggunaan metode High Pour Point Oil (HPPO) di Lapangan Handil, yang dioperasikan oleh PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Teknologi ini diterapkan untuk mengatasi masalah minyak berjenis lilin atau parafin tinggi yang cenderung membeku pada suhu operasi pipa. Dengan memasukkan pelarut khusus, minyak tetap cair, sehingga aliran produksi bisa dijaga optimal dan berkelanjutan.

Proyek Utama Meningkatkan Efisiensi Produksi

Program HPPO di Lapangan Handil juga memperlihatkan peningkatan produktivitas sebesar lima persen dibandingkan sebelum pelaksanaannya. Di samping itu, PHM berhasil mengoptimalkan produksi dari sumur emulsi di Lapangan Tunu melalui inovasi teknologi yang terus dikembangkan. Sementara itu, PHSS mengaplikasikan Permanent Coiled Tubing Gas Lift (PCTGL) pada sumur workover di Lapangan Louise, Samboja, dan Mutiara. Teknologi gas lift ini bekerja dengan memasukkan gas bertekanan ke dalam pipa sumur untuk mendorong aliran minyak ke permukaan.

“Inovasi ini tidak hanya meningkatkan produktivitas sumur, tetapi juga mendukung keberlanjutan produksi, terutama di lapangan yang mulai masuk fase usang,” ujar Sunaryanto.

Capaian produksi yang kuat juga didorong oleh PHKT melalui pengembangan sumur baru di Lapangan Kerindingan dan Lapangan Sapi, serta sumur sisipan di lepas pantai Kalimantan Timur. “Akselerasi produksi minyak terus berlangsung karena perusahaan memperhatikan kualitas operasi dan melakukan pemeliharaan rutin,” tambahnya.

Manajemen Keselamatan dan Kinerja Operasional

Di samping peningkatan produksi, PHI juga sukses menjaga kinerja keselamatan dengan mencatatkan nol fatalitas (zero fatality) sepanjang triwulan I 2026. Capaian ini didukung oleh 57,36 juta jam kerja selamat dan zero Lost Time Incident (LTI). Rekam jejak ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada output energi, tetapi juga pada perlindungan karyawan dan lingkungan.

Kelancaran produksi gas juga berkontribusi signifikan terhadap pencapaian target tahunan. Hal ini terwujud melalui onstream platform kedua dan ketiga dari Proyek Sisi Nubi AOI, yang dikelola PHM sejak akhir Februari dan Maret 2026. Dukungan tambahan diperoleh dari kegiatan perawatan sumur di Lapangan Tunu (PHM), Lapangan Santan (PHKT), serta Lapangan Nilam dan Mutiara (PHSS). Proses ini membantu menjaga stabilitas produksi gas sekaligus memastikan keandalan fasilitas.

Strategi Terpadu dalam Operasional Hulu Migas

PHI mengelola operasi hulu migas Regional-3 Kalimantan, yang mencakup Zona-8, Zona-9, dan Zona-10. Seluruh aktivitas ini dilakukan melalui anak perusahaan dan afiliasi yang bekerja sama dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Dengan strategi terpadu, perusahaan memastikan koordinasi yang baik antara berbagai unit, baik dalam eksplorasi maupun eksploitasi.

Salah satu langkah penting dalam mencapai target produksi adalah program pemeliharaan, perbaikan, dan reaktivasi sumur. Tindakan ini dilakukan untuk memperpanjang usia operasional lapangan migas dan meningkatkan efisiensi produksi. Dalam konteks ini, PHM mengeksekusi Program Handil Rejuvenation yang memberikan dampak positif terhadap kinerja sumur. Sementara itu, PHSS juga terus berinovasi dalam peningkatan produktivitas sumur melalui teknologi gas lift yang dipadukan dengan metode lain.

Kemitraan dengan SKK Migas memainkan peran kritis dalam memastikan kesuksesan operasi hulu migas. Institusi ini membantu menjaga kestabilan produksi dengan memberikan dukungan teknis dan sumber daya yang dibutuhkan. “Kerja sama dengan SKK Migas menjadi fondasi untuk menjaga konsistensi produksi dan mencapai tujuan strategis perusahaan,” kata Sunaryanto.

Dengan berbagai inisiatif yang dijalankan, PHI menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga keberlanjutan energi nasional. Produksi yang di atas target tahunan bukan hanya mencerminkan kinerja operasional yang optimal, tetapi juga kesiapan perusahaan dalam menghadapi tantangan global terkait ketersediaan energi. Harapan besar juga diarahkan pada inovasi masa depan yang bisa meningkatkan kapasitas produksi lebih jauh lagi.

Kelancaran Proyek dan Kontribusi Lokal

Produksi minyak dan gas yang tinggi di triwulan I 2026 memberikan bukti nyata bahwa program-proyek utama PHI berjalan sesuai rencana. Penajam Paser Utara, sebagai pusat operasional, menjadi salah satu area yang berkontribusi signifikan. Di sini, kegiatan eksploitasi dan pemeliharaan sumur tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga mendukung peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.

Sunaryanto menegaskan bahwa PHI terus memperkuat ekosistem hulu migas dengan memadukan inovasi, teknologi, dan manajemen operasional. “Kegiatan seperti pengeboran sumur sisipan, perbaikan fasilitas, serta penerapan teknologi baru menjadi bagian integral dari strategi kami,” tuturnya. Tantangan utama yang dihadapi oleh lapangan matang seperti Lapangan Handil dan Mutiara berhasil diatasi melalui pendekatan yang terukur dan berbasis data.

Pertamina Hulu Indonesia juga menyoroti pentingnya inisiatif lokal dalam memperkuat pasokan energi nasional. Proyek-proyek di Kalimantan tidak hanya berdampak pada produksi, tetapi juga pada perekonomian regional dan keterlibatan masyarakat. Dengan mencapai target produksi yang tinggi, PHI membuka peluang untuk menjaga kestabilan pasokan energi di tengah dinamika global.

Upaya mempertahankan kinerja yang optimal di PHI juga dilakukan melalui pelatihan dan penguatan sumber daya manusia. Karyawan diberikan fasilitas pelatihan terkini untuk mengikuti perkembangan