Pelatih PSS Sleman apresiasi penampilan timnya di babak kedua

Pelatih PSS Sleman Apresiasi Penampilan Timnya di Babak Kedua

Pelatih PSS Sleman apresiasi penampilan timnya – Yogyakarta – Pertandingan final Pegadaian Championship 2025/2026 antara PSS Sleman dan Garudayaksa berlangsung sengit di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada hari Sabtu. Meski awalnya mengalami kesulitan, tim PSS berhasil memperlihatkan perubahan drastis di paruh kedua pertandingan. Hasil akhir laga berkesudah dengan skor 2-2, sebelum memasuki babak adu penalti. Sayangnya, meskipun dua gol yang dicetak di babak kedua membawa mereka ke babak tambahan waktu, PSS akhirnya kalah dengan skor 3-4 setelah Tocantins gagal mencetak gol di fase penalti.

Kesulitan di Babak Pertama

Di babak pertama, PSS Sleman terlihat kurang optimal. Kekuatan Garudayaksa dalam menguasai bola membuat PSS sulit membangun serangan. Dua gol yang dicetak tuan rumah—Alfin Kelilauw pada menit ke-23 dan Everton Nascimento melalui penalti di menit ke-31—memperbesar tekanan pada PSS. Penampilan tim tamu di awal pertandingan dinilai kurang memadai oleh pelatih mereka, Ansyari Lubis. “Kita kurang fokus di babak pertama, sehingga Garudayaksa bisa memperoleh dominasi besar. Tapi kekacauan itu justru membawa dampak positif karena memotivasi kami untuk berubah di babak kedua,” jelas Ansyari setelah pertandingan usai.

Babak pertama menjadi momen berat bagi PSS Sleman. Banyak faktor yang memengaruhi kinerja mereka, seperti keterbatasan strategi, komunikasi yang kurang lancar, dan ketidakstabilan mental. Tocantins, yang menjadi penyerang utama, tidak bisa menunjukkan performa terbaik di fase tersebut. Sementara itu, Garudayaksa tampil agresif dengan memanfaatkan kesempatan yang ada. Kemenangan 2-0 di babak pertama menggarisbawahi keunggulan tim tuan rumah, meski PSS tidak berputus asa.

Perubahan Drastis di Babak Kedua

Babak kedua mengubah segalanya. PSS Sleman tampil lebih termotivasi, dengan serangan yang lebih intens dan permainan yang lebih terarah. Dua gol yang berhasil dicetak oleh Gustavo Tocantins pada menit ke-61 dan 90+3 menjadi penentu perubahan suasana. Kedua gol tersebut tidak hanya menyamakan kedudukan, tetapi juga membawa laga ke babak tambahan waktu. “Paruh kedua, kita lebih terbuka dan berani mengambil risiko. Tim bermain lebih koordinasi, dan kami bisa menunjukkan kekuatan yang sebenarnya,” tambah Ansyari dalam wawancara pasca-pertandingan.

Perubahan performa PSS di babak kedua disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, penyesuaian strategi pelatih yang lebih fokus pada serangan cepat. Kedua, masuknya Irvan Mofu di menit ke-45 mengubah dinamika permainan. Pemain yang sebelumnya duduk di bangku cadangan ini memberikan kontribusi signifikan dalam menambah kecepatan serangan tim. “Mofu sangat penting di paruh kedua, karena ia mampu mengisi ruang kosong yang ada dan memberikan kepercayaan kepada pemain lain,” ujar pelatih berusia 55 tahun itu.

“Kita menyoroti di bawah pertama kita sedikit kehilangan fokus hingga Garudayaksa bisa mengambil permainan dengan sangat baik. Tetapi di bawah kedua kita bermain sangat luar biasa, kita bisa menyamakan kedudukan,”

Penampilan luar biasa di paruh kedua membuat Ansyari puas dengan kinerja tim. Meski akhirnya kalah di babak penalti, ia menganggap hasil ini sebagai bukti keberhasilan perubahan. “Kami tidak menyangkal bahwa kekalahan itu mengecewakan, tetapi permainan dalam dua babak berbeda jauh. Ini membuktikan bahwa PSS bisa beradaptasi dengan situasi yang sulit,” tambahnya.

Strategi Substitusi dan Komentar Terkait

Dalam jumpa pers pasca-pertandingan, Ansyari juga menjelaskan alasan ia memasukkan Irvan Mofu menggantikan Terens Puhiri. Menurutnya, substitusi ini menjadi kunci untuk meningkatkan intensitas serangan PSS. “Masuknya Mofu memperkuat kecepatan tim di lini depan, sehingga kami bisa mengancam pertahanan Garudayaksa lebih sering. Meski ia tidak mencetak gol, kontribusinya sangat berarti untuk mengubah arus pertandingan,” papar pelatih asal Medan tersebut.

Penampilan Tocantins di babak kedua menjadi sorotan. Ia dianggap sebagai pahlawan yang mampu memperbaiki ketertinggalan tim. Namun, ketika di babak penalti ia gagal menyelesaikan tendangan, itu menjadi kekecewaan bagi seluruh pemain. “Tocantins sudah memberikan yang terbaik di babak kedua, tapi sepak bola tidak selalu bisa diukur hanya dari satu momen. Kehadirannya memberi dorongan besar bagi tim, meski hasil akhir tidak bisa diubah,” tutur Ansyari.

“Tapi itulah hasil dari pertandingan adu penalti, semuanya hanya bisa kita anggap itu banyak faktor ya. Jadi selamat buat Garudayaksa yang bisa menjadi juara, terutama ini partai final yang saya kira cukup bagus untuk kita lihat dan kita tonton,”

Sebelumnya, Ansyari mengakui bahwa kegagalan di babak pertama membuat tim lebih tertekan. Namun, di paruh kedua, mereka mampu bangkit dan menunjukkan kepercayaan diri. “Keberhasilan di babak kedua adalah hasil dari kerja keras seluruh pemain. Kami tidak menyerah meski harus menghadapi situasi sulit,” jelasnya. Ia juga menyebut bahwa pertandingan final menjadi momen bersejarah bagi PSS Sleman, karena mampu menciptakan pertandingan yang memperlihatkan progres signifikan.

Konsekuensi Promosi dan Degradasi

Di luar pertandingan final, keberhasilan Adhyaksa menjuarai babak play off melawan Persipura Jayapura dengan skor 1-0 memberi dampak besar. Tim yang memenangkan pertandingan tersebut akan naik ke kasta tertinggi, sementara tiga tim lainnya yang turun kasta termasuk PSBS Biak dan Semen Padang. Kehadiran Adhyaksa di liga utama menjadi pengecekan untuk PSS Sleman, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu tim kuat di kasta kedua.

PSS Sleman, yang sempat tertinggal di babak pertama, menjadi salah satu dari tiga tim yang dikeluarkan dari kasta tertinggi. Meski kalah di final, mereka tetap menunjukkan kemampuan untuk berjuang hingga akhir. “Kami sudah memberikan yang terbaik, dan ini adalah pertandingan yang memperlihatkan bagaimana tim bisa berkembang dalam waktu singkat,” pungkas Ansyari. Ia pun memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pemain, baik yang bermain di babak pertama maupun kedua.

Sebagai tim yang telah memperoleh pengalaman melalui babak final, PSS Sleman diharapkan bisa terus berkembang. Meski kalah, keberhasilan mereka di paruh kedua menjadi jaminan bagi kemajuan di masa depan. Sementara itu, Garudayaksa yang meraih juara keempat kalinya dalam sejarah turnamen ini dianggap layak mendapatkan penghargaan karena permainan yang konsisten sepanjang pertandingan.

Dengan adanya promosi Adhyaksa, liga utama akan melihat perubahan kompetisi. Tiga tim yang turun kasta menciptakan peluang bagi tim-tim