Meeting Results: Rekontekstualisasi Hardiknas: Perempuan berdaya, bangsa membaca

Rekontekstualisasi Hardiknas: Perempuan berdaya, bangsa membaca

Meeting Results – Hari Pendidikan Nasional menjadi kesempatan penting untuk melakukan evaluasi kolektif, terutama terkait keterjangkauan pendidikan yang diberikan kepada masyarakat terpencil. Apakah pendidikan nasional benar-benar menyentuh setiap lapisan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di ujung pulau terpencil? Selain itu, dalam upaya meningkatkan literasi, kita perlu mengetahui titik awal perbaikan yang dapat dilakukan. Pertanyaan seperti ini seharusnya diangkat setiap tahun, bukan untuk meratapi kesulitan, melainkan sebagai sarana untuk menyusun strategi perbaikan secara bertahap.

Forum Literasi Nasional: Suara dari NTT

Beberapa waktu lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengadakan acara bertajuk “Gelar Wicara” dengan tema “Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan untuk Meningkatkan Literasi.” Kegiatan ini tidak hanya sekadar upacara rutin, tetapi menjadi platform untuk menyuarakan pengalaman nyata para penggerak literasi di berbagai daerah. Tampaknya, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi sorotan karena menghasilkan cerita-cerita inspiratif yang menunjukkan kekuatan perempuan dalam membangun kesadaran baca.

“Buku bacaan berwarna dan bergambar adalah ‘barang mewah’ bagi anak-anak di daerah kami,” ujar Mindriyati Astiningsih Laka Lena, yang dikenal sebagai Bunda Literasi NTT periode 2025–2030.

Di tengah keberhasilan ekonomi dan transformasi digital yang dianggap sebagai simbol kemajuan, masih ada masyarakat yang belum pernah menyentuh buku cerita bergambar. Fakta ini memicu refleksi bersama tentang keterbatasan infrastruktur pendidikan dan perlunya inovasi yang lebih relevan. Pemimpin perempuan seperti Laka Lena tidak hanya menggambarkan tantangan, tetapi juga menunjukkan bagaimana literasi bisa ditingkatkan melalui keberanian dan kreativitas lokal.

Ekosistem Kolaboratif dalam Pembangunan Literasi

Kegiatan tersebut menciptakan ruang dialog yang melibatkan berbagai pihak, seperti Bunda Literasi, kepala sekolah, guru, taman bacaan, dan anggota Pokja Literasi. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat sinergi, tetapi juga membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari kecil. Contohnya, gerakan “Satu ASN, Satu Buku Layak Baca” dan pembagian Pojok Baca di setiap kunjungan kerja ke desa menjadi bukti konkret dari partisipasi aktif berbagai lini masyarakat. Selain itu, advokasi penggunaan dana BOS untuk memperoleh buku berkualitas yang telah dikurasi oleh Badan Bahasa juga menjadi langkah strategis.

Pelbagai inisiatif ini dijalankan dengan pendekatan yang lebih manusiawi, mengutamakan kebutuhan lokal dan mengakui peran perempuan sebagai penggerak utama. Bukan sekadar simbol, tetapi fakta bahwa ibu-ibu yang rajin mendongeng sebelum tidur memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan baca anak-anak. Peran mereka tidak terlepas dari keberhasilan peningkatan literasi di wilayah terpencil, bahkan ketika sumber daya terbatas.

Program INOVASI, yang merupakan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Australia, berperan sebagai jembatan antara keberhasilan di lapangan dan kebijakan nasional. Program ini menunjukkan bahwa kisah-kisah inspiratif dari masyarakat desa bisa diangkat ke level yang lebih tinggi, memberi ruang bagi kebijakan yang lebih adaptif. Fokus pada perempuan sebagai poros utama menggambarkan bahwa literasi bukan hanya soal akses ke sumber daya, tetapi juga soal perubahan mindset dan peran sosial.

Pelajaran dari NTT: Literasi di Bawah Ujung Pohon

NTT menjadi contoh bagus bagaimana literasi bisa berkembang di tengah kondisi yang tidak ideal. Meski terbatas dalam infrastruktur, masyarakat sini berhasil menciptakan kreativitas yang menginspirasi. Mindriyati Astiningsih Laka Lena, misalnya, menggambarkan betapa pentingnya peran perempuan dalam mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Dengan semangat inovatif, mereka menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, memastikan bahwa buku-buku tidak hanya menjadi simbol kemakmuran, tetapi juga alat perubahan.

Ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu terkait dengan sekolah-sekolah megah di kota. Justru, dari desa-desa kecil, masyarakat secara aktif menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih realistis dan berorientasi pada kebutuhan nyata. Kebijakan top-down yang seringkali terkesan abstrak diperkaya oleh kontribusi dari bawah, yang lebih jujur dan berdampak langsung. Dengan melibatkan perempuan dalam setiap tahap, Kemendikdasmen menunjukkan komitmen untuk menyamakan kesempatan dan mengakui bahwa perubahan bisa dimulai dari rumah tangga.

Hardiknas sebagai Momentum Penguatan Peran Perempuan

Dalam konteks ini, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bukan hanya hari kebanggaan institusi pendidikan, tetapi juga momentum untuk menegaskan bahwa perempuan adalah poros utama pembangunan literasi. Kebiasaan baca yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui peran ibu-ibu, seperti mendongeng atau mengajarkan membaca sejak kecil, menjadi fondasi yang kuat. Hal ini mengingatkan bahwa literasi tidak bisa dipisahkan dari kehadiran perempuan dalam kehidupan rumah tangga dan komunitas.

Dengan mengangkat perempuan sebagai subjek utama, Kemendikdasmen mengubah perspektif tradisional. Tidak lagi sekadar objek kebijakan, tetapi sebagai pihak yang memiliki kemampuan memimpin perubahan. Kita perlu melihat bahwa literasi bukan hanya tentang peningkatan kuantitas, tetapi juga kualitas, diukur dari partisipasi aktif masyarakat dalam proses belajar-mengajar. Pemangku kebijakan pun semakin terbuka untuk mendengarkan suara-suara dari lapisan terbawah, yang seringkali terabaikan.

Kegiatan seperti “Gelar Wicara” menjadi bukti bahwa pendidikan nasional bisa menjadi ruang untuk menyusun kebijakan yang lebih inklusif. Dengan memperkenalkan praktik baik dari NTT, kita diberi kesempatan untuk menilai kembali tantangan yang dihadapi daerah terpencil. Literasi, dalam konteks ini, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama. Masyarakat, terutama perempuan, menjadi bagian integral dari perubahan.

Hardiknas, yang sebelumnya sering dianggap sebagai hari perayaan, kini bisa menjadi sarana untuk merefleksikan kembali makna pendidikan. Dengan memprioritaskan peran perempuan, kita mampu menciptakan budaya baca yang lebih kuat dan berkelanjutan. Setiap buku yang dibaca, setiap cerita yang dihiasi oleh ibu-ibu, dan setiap inisiatif kecil yang dijalankan oleh masyarakat desa memiliki dampak besar. Melalui refleksi bersama, kita bisa memahami bahwa literasi adalah jembatan antara peningkatan kualitas hidup dan penguatan identitas bangsa.