Special Plan: Pakar nilai RI harus jadi penggerak agenda kerja sama Asia-Eropa
Pakar Nilai RI Harus Jadi Penggerak Agenda Kerja Sama Asia-Eropa
Special Plan – Jakarta, Jumat – Profesor hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, mengungkapkan bahwa Indonesia perlu melakukan inisiatif lebih ambisius agar bukan hanya berperan sebagai penghubung, tetapi juga sebagai pelaku utama dalam memimpin kerja sama antara Asia dan Eropa. Menurutnya, negara ini harus mampu mengambil peran yang lebih proaktif, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Tantangan Global yang Menjadi Fokus Utama
Rezasyah menekankan bahwa keberhasilan kerja sama Asia-Eropa tergantung pada kemampuan Indonesia memahami dan menghadapi isu-isu strategis yang akan mengemuka pada dekade mendatang. “Salah satu tantangan utama adalah perubahan iklim, yang memaksa negara-negara untuk mencari solusi dalam mengelola sumber daya energi terbarukan dan bahan-bahan langka secara lebih efisien,” ujarnya saat diwawancara ANTARA di Jakarta, Jumat (tanggal). Ia menambahkan bahwa selain isu lingkungan, kompetisi dalam menciptakan inovasi teknologi juga menjadi faktor kritis yang perlu diperhatikan.
“Peluang untuk membangun kerja sama yang berkelanjutan membutuhkan komitmen kuat dari Indonesia, karena saat ini dunia menghadapi dua paradoks utama: kebutuhan energi yang meningkat seiring pertumbuhan populasi, dan persaingan sumber daya yang semakin ketat akibat perubahan iklim,” kata Rezasyah.
Peran ASEAN dalam Menguatkan Koordinasi
Dalam rangka mempercepat progres kerja sama Asia-Eropa, Rezasyah menyarankan bahwa Indonesia harus memperkuat peran ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang stabil. “Kepemimpinan ASEAN dalam menawarkan tata kelola yang baik adalah kunci untuk menggerakkan kerja sama yang lebih luas, terutama di bidang ekonomi digital dan pengembangan berkelanjutan,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa keterlibatan aktif Indonesia dalam forum multilateral bisa menjadi batu loncatan untuk menarik perhatian negara-negara Eropa.
“Indonesia perlu memastikan bahwa seluruh agenda pembangunan di ASEAN selaras dengan upaya menciptakan lingkungan keamanan yang kondusif. Ini adalah dua aspek yang saling terkait, karena stabilitas politik dan ekonomi menjadi dasar bagi kolaborasi internasional,” tambah Rezasyah.
Strategi Indonesia untuk Menjadi Pusat Perkembangan
Menurut Rezasyah, posisi Indonesia sebagai ‘jembatan’ antara Asia dan Eropa bisa dioptimalkan melalui strategi yang lebih terarah. “Dengan luas wilayah yang mencakup banyak pulau dan jaringan pelabuhan serta bandara yang luas, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi penghubung strategis antar dua benua,” katanya. Ia menekankan bahwa keberhasilan ini bergantung pada kemampuan Indonesia untuk menunjukkan kinerja yang konsisten di tingkat internasional.
“Jika Indonesia mampu memenuhi standar kinerja yang lebih tinggi, maka perannya dalam ASEM akan lebih signifikan. Negara ini harus mengambil inisiatif yang proaktif, bukan hanya mengikuti, tetapi juga mengarahkan arah pembicaraan,” ujarnya.
Rezasyah juga menyebutkan bahwa peran Indonesia dalam ASEM harus lebih bersifat memimpin, bukan sekadar berpartisipasi. “Indonesia harus meyakinkan negara-negara Eropa bahwa komitmen dalam implementasi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific bukan hanya sebagai kebijakan, tetapi juga sebagai tindakan nyata yang berdampak jangka panjang,” kata dia. Ia menambahkan bahwa koordinasi antar negara dalam menghadapi isu global seperti kelangkaan energi dan risiko perang bisa menjadi peluang untuk memperkuat ikatan antara Asia dan Eropa.
ASEM sebagai Forum Dialog yang Tetap Relevan
Dalam konteks globalisasi yang semakin dinamis, Rezasyah menilai bahwa ASEM masih memiliki relevansi yang tinggi, meskipun multilateralisme dunia sedang mengalami tekanan. “Kontroversi di Timur Tengah dan sikap Amerika Serikat yang sering mengubah kebijakan luar negeri memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan konsistensi dan keberlanjutan dalam kerja sama regional,” ujarnya. Ia menekankan bahwa ASEM perlu menjadi wadah untuk memperkuat hubungan bilateral, terutama di tengah ketidakstabilan politik global.
“ASEM harus sadar bahwa jika negara-negara Asia dan Eropa terlambat berkoordinasi, mereka akan kehilangan pengaruh di mata dunia. Indonesia, sebagai anggota aktif, wajib memastikan forum ini tetap menjadi platform yang efektif untuk dialog dan kolaborasi,” tambah Rezasyah.
Rezasyah juga mengingatkan bahwa dalam konteks keberhasilan ASEM, Indonesia perlu membangun kerja sama yang tidak hanya berbasis kepentingan ekonomi, tetapi juga nilai-nilai kebersamaan. “Kita harus menyadari bahwa isu keamanan dan pembangunan adalah dua hal yang saling melengkapi, dan Indonesia harus menjadi contoh nyata bagaimana kedua aspek ini bisa diintegrasikan,” katanya. Ia menilai bahwa dengan kerja sama yang terarah, Indonesia bisa menjadi kekuatan yang mendorong transformasi regional.
Contoh dari Turki: Model Optimisasi Konektivitas
Untuk memperkuat konektivitas Asia-Eropa di bidang perdagangan, investasi, dan teknologi, Rezasyah menyarankan bahwa Turki bisa menjadi referensi. “Turki mampu memanfaatkan posisi geografisnya sebagai jembatan antara Asia dan Eropa untuk menggerakkan kerja sama ekonomi yang lebih dinamis,” jelasnya. Ia menilai bahwa Indonesia juga perlu meniru strategi Turki dalam membangun jaringan hubungan yang lebih kuat dengan negara-negara Eropa.
“Indonesia harus memanfaatkan kekayaan sumber daya alam dan infrastruktur transportasi yang telah ada, serta mengembangkan strategi khusus agar menjadi pusat kegiatan ekonomi dan politik yang lebih relevan. Jika kita tidak proaktif, maka posisi kita akan semakin terpinggirkan oleh negara-negara lain,” kata Rezasyah.
Dalam rangka mewujudkan visi ini, Rezasyah menekankan perlunya kolaborasi yang lebih intensif antar pihak. “Kerja sama antara Asia dan Eropa tidak bisa terjadi tanpa peran aktif dari negara-negara anggota, termasuk Indonesia. Kita harus menjadi motor penggerak, bukan sekadar penonton,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kunci keberhasilan terletak pada kemampuan Indonesia dalam menyatukan kepentingan nasional dengan kebutuhan regional.
Rezasyah juga memprediksi bahwa di masa depan, ASEM akan menjadi p
