BRI: UMKM topang ketahanan bisnis di tengah gejolak global
BRI: UMKM Topang Ketahanan Bisnis di Tengah Gejolak Global
BRI –
Sejumlah aspek kritis dalam operasional Bank Rakyat Indonesia (BRI) tetap diprioritaskan meski menghadapi tantangan eksternal seperti ketidakstabilan politik global. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyatakan bahwa perusahaan secara terus-menerus mengawasi risiko potensial dengan bijak, terutama terkait portofolio kredit yang saat ini terpengaruh oleh fluktuasi ekonomi internasional. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Taklimat Media Kinerja Keuangan BRI Kuartal I 2026, yang berlangsung secara daring di Jakarta, Kamis.
Ketahanan UMKM sebagai Penyokong Stabilitas
Menurut Hery, perusahaan memperhatikan struktur bisnis yang berfokus pada sektor usaha kecil dan menengah (UMKM) sebagai faktor penting dalam mengurangi dampak ketidakpastian global. Ia menjelaskan bahwa sifat UMKM yang tersebar di berbagai bidang ekonomi membuat mereka lebih tahan terhadap perubahan pasar yang tiba-tiba. “Kita juga mengukur kinerja melalui kemampuan bisnis UMKM yang terus berkembang, meskipun ekonomi dunia sedang mengalami guncangan,” ujarnya.
“Jumlah kredit yang diberikan kepada UMKM juga lebih terbatas, berbeda dengan perusahaan besar yang bisa mencapai triliunan rupiah. Ini membuat risiko yang dikelola lebih terukur dan terjaga,” kata Hery.
Hal ini berbeda dari sektor korporasi yang biasanya memiliki kredit dengan nilai besar, sehingga fluktuasi pasar bisa berdampak signifikan. Dengan pendekatan yang lebih granular, BRI melihat bahwa UMKM memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik dalam menghadapi gejolak global. “Karena sifat UMKM yang bersifat lokal dan kecil-kecil, mereka bisa lebih cepat merespons perubahan lingkungan bisnis,” tambahnya.
Perhatian pada Sektoral Sensitif
Di sisi lain, BRI tetap memantau beberapa sektor yang rentan terhadap volatilitas eksternal. Hery menyebutkan bahwa sektor-sektor seperti eksportir komoditas, industri energi, dan bisnis yang tergantung pada nilai tukar mata uang menjadi fokus pengawasan. “Ketiga sektor ini sangat mudah terganggu oleh perubahan kondisi pasar global, sehingga perlu diperhatikan secara intensif,” jelasnya.
Perusahaan juga mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengurangi risiko di bidang-bidang ini. Misalnya, dengan memperketat persyaratan pembiayaan dan menganalisis kebutuhan pemenuhan dana secara lebih teliti. “Manajemen risiko tidak hanya menghitung keuntungan, tetapi juga memprediksi kemungkinan kerugian yang bisa terjadi, terutama pada periode transisi ekonomi,” kata Hery.
Manajemen Risiko sebagai Kunci Kinerja
Kualitas aset BRI pada kuartal I 2026 tergolong stabil, berdasarkan rasio Non Performing Loan (NPL) yang menunjukkan tren peningkatan kecil. Hal ini mencerminkan efektivitas penerapan manajemen risiko yang disiplin, termasuk prinsip selektif dalam pertumbuhan bisnis. “Strategi selektif ini membantu memastikan bahwa kredit diberikan hanya pada segmen yang memiliki potensi peningkatan, dan bukan sekadar pada sektor yang populer tapi rentan,” ujar Hery.
Manajemen risiko juga dilakukan dengan memperkuat sistem early warning signal. Menurut Hery, sistem ini memberikan indikator awal jika ada gejala kemungkinan delikvensi atau kredit yang tak terpenuhi. “Dengan menetapkan RAC (Risk Acceptance Criteria) di awal, kita bisa memfilter bisnis yang layak dipertahankan dan yang perlu dihentikan,” jelasnya.
Dalam menjalankan risiko, BRI menempatkan manajemen risiko sebagai garda depan dalam pengambilan keputusan. “Setiap bisnis yang masuk keportofolio BRI harus memiliki parameter RAC yang jelas. Ini memastikan bahwa risiko dikelola secara terukur dan bertahap,” ujar Hery.
Kinerja Finansial yang Membaik
Kinerja keuangan BRI pada periode Kuartal I 2026 menunjukkan peningkatan signifikan, dengan laba bersih mencapai Rp15,5 triliun. Angka tersebut tumbuh 13,74 persen dibandingkan kuartal I 2025. “Kenaikan laba ini terutama didorong oleh peningkatan pendapatan bunga, yang mencapai Rp52,83 triliun,” ujar Hery.
Dari sisi pendapatan, BRI mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,94 persen year on year (yoy), sementara beban bunga turun 9,31 persen menjadi Rp12,68 triliun. Hal ini memperlebar margin bunga bersih, yang menjadi salah satu indikator kesehatan keuangan bank. “Ketahanan bisnis BRI diukur dari kemampuan mempertahankan margin yang baik, meski ada tekanan dari sisi biaya,” jelas Hery.
Lebih lanjut, Hery menyebutkan bahwa keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas aset tetap menjadi prioritas. “Kita tidak ingin hanya fokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan bahwa aset yang dihimpun tidak terlalu rentan,” ujarnya.
Pendekatan ini berdampak positif pada keberlanjutan bisnis BRI. Selain menjaga kualitas aset, bank juga terus mendorong prinsip kehati-hatian atau prudential banking. “Dengan prudential banking, kita bisa mengantisipasi berbagai ancaman, seperti inflasi, kenaikan suku bunga, atau keruntuhan pasar,” tambah Hery.
Peran UMKM dalam Ekonomi Nasional
UMKM tidak hanya menjadi penyokong ketahanan BRI, tetapi juga berkontribusi besar pada perekonomian Indonesia. Sebagai penggerak utama perekonomian,
