Rencana Khusus: Kementan-PU optimalkan pengelolaan air antisipasi kekeringan di Jateng
Kementan-PU optimalkan pengelolaan air antisipasi kekeringan di Jateng
Jakarta – Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sedang mempercepat pembangunan infrastruktur irigasi serta meningkatkan efisiensi penggunaan air untuk mendukung pertanian yang lebih produktif. Upaya ini bertujuan menghadapi krisis kekeringan, termasuk di wilayah Jawa Tengah. “Pemerintah terus memperkuat pengelolaan sumber daya air sebagai langkah strategis dalam meningkatkan indeks pertanaman dan produktivitas pertanian nasional,” jelas Sam Herodian, Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian, dalam pernyataan di Jakarta, Sabtu.
Optimisme terhadap pertanian 2026
Sam menyampaikan antusiasme terhadap pertanian di tahun 2026. Ia menegaskan bahwa sinergi antar daerah, khususnya di wilayah Jawa, menjadi fondasi penting dalam menjaga kestabilan produksi pangan. “Kami optimistis tahun ini akan lebih baik. Kerja sama yang terbangun saat ini sudah menuju model percontohan terintegrasi, mulai dari penyiapan air hingga benih. Ini perlu terus ditingkatkan dan diterapkan secara nasional,” tuturnya.
“Jika pengelolaan air dan pola tanam bisa disinkronkan, termasuk percepatan tanam pascapanen, maka siklus produksi akan lebih efisien dan hasilnya optimal,”
Dalam wawancara terpisah, Andi Nur Alam Syah, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, mengingatkan pentingnya menjaga semangat kerja sama untuk mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan. “Semangat kita tidak boleh berkurang saat menghadapi tantangan sektor pertanian ke depan, terutama menjelang April hingga Mei. Bulan tersebut menjadi periode kritis yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Alam juga menekankan bahwa program prioritas terus diperkuat untuk memastikan kelancaran produksi pertanian. Fokus utama ditempatkan pada penyelesaian infrastruktur seperti irigasi, ketersediaan pupuk, serta distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan).
Integrasi data untuk antisipasi kekeringan
Menurut Asmarhansyah, Direktur Konservasi dan Pengembangan Sumber Air Pertanian, potensi kekeringan tetap ada di 2026. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian mendorong percepatan pelaksanaan Program Irigasi, meliputi Irigasi Perpompaan, Perpipaan, Bangunan Konservasi, dan Jaringan Irigasi Tersier. “Program ini harus dipercepat agar musim kemarau dapat ditekan sejak awal. Penggunaan sarana yang sudah dibangun juga diperlukan, dengan dukungan aktif dari dinas dan penyuluh di lapangan,” katanya.
“Kementerian Pertanian juga meminta pemerintah daerah untuk memperkuat langkah antisipatif, mulai dari pemetaan wilayah hingga optimalisasi pemanfaatan sumber air yang ada.”
Di sisi lain, Juana Sudarto, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali, menyatakan bahwa pihaknya telah menyusun peta overlay berbasis spasial sebagai panduan kebijakan. “Kami mengintegrasikan data kekeringan dengan infrastruktur air seperti bendungan, embung, dan tempat penampungan lainnya. Ini menjadi dasar dalam memprediksi dan mengatasi krisis air secara tepat,” tambah Sudarto.
“Integrasi data tersebut dengan sektor pertanian menjadi kunci dalam memastikan intervensi yang tepat sasaran,”
