Facing Challenges: Edukasi gerak dorong cegah cedera dengan literasi lewat ResepGerak”

c43bfddc-b3ff-43f8-8bb2-48fcf120eab6-0

Edukasi Gerak Dorong Cegah Cedera dengan Literasi Lewat ResepGerak

Facing Challenges – Jakarta, 24 Mei – Di tengah perkembangan kebugaran fisik yang semakin pesat di Indonesia, seorang spesialis olahraga medis telah menciptakan solusi berbasis bukti untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai cara bergerak yang tepat. Platform ResepGerak, yang hadir di resepgerak.id, bertujuan menyediakan informasi edukasi yang membantu mencegah cedera serta memperbaiki kualitas latihan. Pendiri ResepGerak, dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO., Subsp., menjelaskan bahwa perangkat ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan setiap individu, baik yang ingin memulai olahraga maupun meningkatkan performa mereka.

Motivasi Pembuatan ResepGerak

Menurut dr. Antonius, kehadiran ResepGerak berasal dari pengamatan tentang tren kebugaran yang viral di media sosial. Ia menyoroti bagaimana popularitas gerakan olahraga tertentu sering kali memicu peningkatan kejadian cedera karena kurangnya edukasi yang mendalam. “Banyak orang belajar gerakan dari konten viral, tetapi mereka belum memahami risiko cedera atau teknik yang benar,” ujarnya. Fenomena ini terutama terjadi karena sebagian besar masyarakat mengandalkan informasi dari platform digital tanpa memverifikasi keakuratannya secara ilmiah.

“Resep Gerak ini untuk setiap tubuh Indonesia. Karena saya rasa setiap orang Indonesia berhak untuk bisa bergerak dengan benar, berhak untuk sembuh dari cedera, atau mungkin sembuh dari diabetes, atau mungkin prevent atau optimize atau dia ingin meningkatkan performanya,”

Dr. Antonius menambahkan bahwa ResepGerak berupaya menyediakan panduan yang konsisten dan sesuai dengan kondisi tubuh pengguna. “Setiap orang, tanpa memandang usia, kondisi medis, jenis olahraga, atau latar belakang, memiliki akses yang sama terhadap resep gerak yang benar untuk tubuhnya,” jelasnya. Ia menekankan bahwa kebutuhan untuk bergerak bervariasi, dan setiap individu memerlukan dosis latihan yang disesuaikan.

Risiko Gerakan Tanpa Edukasi Ilmiah

Pada kesempatan tersebut, dr. Antonius menyampaikan contoh nyata dari masalah yang dihadapi. Ia mengamati fenomena saat ini, seperti padel, yang menjadi populer karena video tutorialnya di media sosial. “Di praktek saya banyak banget yang cedera karena padel, entah upper extremity, lower extremity, lutut, siku, bahu,” terangnya. Selain itu, tren olahraga seperti Hyrox dan maraton yang viral di TikTok atau Instagram juga memberikan dampak serupa. Orang-orang cenderung meniru gerakan tanpa memahami cara melakukannya dengan aman.

Dr. Antonius menjelaskan bahwa kecenderungan masyarakat untuk mengikuti gerakan cepat tanpa memperhatikan risiko telah meningkat. “Ketika cedera dia pingin banget besok bisa lari, dua hari lagi bisa lari, gitu. Jadi dia pengin sesuatu yang instan,” tambahnya. Ia menyoroti bahwa keinginan untuk segera pulih sering kali membuat orang mengabaikan proses penyembuhan yang optimal. Meski tubuh terasa membaik, kondisi sebenarnya belum pasti benar-benar pulih.

Standar dan Protokol yang Dibuat oleh Ahli

Untuk mengatasi masalah tersebut, ResepGerak menghadirkan standar, panduan, dan protokol latihan yang disusun secara kolaboratif dengan para ahli. Dr. Antonius menyebutkan bahwa platform ini bertujuan menjadi sumber referensi yang dapat dipercaya bagi siapa pun yang ingin memperbaiki kualitas gerakan mereka. “Kami berusaha menyediakan langkah-langkah yang berbasis bukti, agar masyarakat bisa memahami cara bergerak yang sehat dan sesuai kebutuhan tubuh,” katanya.

Dengan adanya ResepGerak, dr. Antonius berharap masyarakat lebih sadar tentang pentingnya pendekatan ilmiah dalam kebugaran. Ia menambahkan bahwa kejadian cedera olahraga tidak hanya berkaitan dengan intensitas latihan, tetapi juga dengan pemahaman teknik dan perawatan yang tepat. “Kami ingin mengubah pola pikir bahwa olahraga bukan hanya tentang kecepatan, tetapi juga tentang keamanan dan konsistensi,” ujarnya.

Kebutuhan akan pemulihan cepat sering kali membuat masyarakat mengandalkan metode instan, seperti penggunaan obat-obatan, alat bantu, atau latihan intensif dalam waktu singkat. Namun, hal ini justru bisa memperburuk kondisi atau menyebabkan komplikasi. “Cedera yang terasa ringan bisa jadi memerlukan waktu lama untuk pulih, terutama jika teknik tidak diperbaiki secara benar,” imbuh dr. Antonius.

Menurutnya, latihan gerak tetap menjadi kunci utama dalam proses pemulihan. “Jika seseorang hanya mengandalkan langkah instan, mereka mungkin terlepas dari cedera yang tersembunyi,” jelasnya. Ia berharap platform ini mampu menjadi alat bantu yang membantu masyarakat merancang kegiatan fisik sesuai dengan kemampuan dan kondisi mereka.

Dengan adanya ResepGerak, dr. Antonius menilai masyarakat Indonesia memiliki kesempatan untuk memahami hubungan antara gerakan dan kesehatan secara lebih baik. “Kami ingin mengedukasi bahwa bergerak bukan sekadar aktivitas menyenangkan, tetapi juga proses yang perlu dipertimbangkan secara ilmiah,” tuturnya. Platform ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya literasi gerak dalam mencegah penyakit seperti diabetes atau mengoptimalkan kinerja tubuh.

Secara keseluruhan, ResepGerak menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat yang ingin bergerak dengan benar, aman, dan efektif. Dengan adanya panduan yang disusun oleh ahli, dr. Antonius yakin akan ada perubahan positif dalam cara orang Indonesia berolahraga dan menjaga kesehatan tubuh mereka.