Berita Penting: Bom! Houthi Yaman Ikut Perang AS-Israel vs Iran, Akan Rudal Laut Merah

Bom! Houthi Yaman Ikut Perang AS-Israel vs Iran, Akan Rudal Laut Merah

Jakarta, CNBC Indonesia – Tengah pekan ini, perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas, dengan Israel sebagai pihak terlibat. Menurut laporan terbaru dari AFP, Houthi, kelompok separatis di Yaman, mulai terlibat langsung dalam konflik tersebut, dengan ancaman serangan di wilayah Laut Merah. Pemimpin Houthi menyatakan siap bertindak kapan saja jika situasi membutuhkannya.

Perang AS-Israel ke Iran: NATO Terlibat

Sebelumnya, serangan militer AS dan Israel terhadap Iran telah dimulai sejak 28 Februari 2026. Tindakan ini memicu respons langsung dari Teheran, yang menargetkan Tel Aviv dan beberapa pangkalan militer Amerika di Timur Tengah, seperti di Qatar, Bahrain, Kuwait, UAE, serta Arab Saudi. “Mengenai eskalasi dan tindakan militer, jari kami berada di pelatuk,” tutur Abdul Malik al-Houthi, seperti yang diberitakan AFP. “Siap untuk merespons kapan saja jika perkembangan mengharuskannya.”

Dampak Ekonomi Global dari Rudal Houthi

Konflik yang semakin memanas ini menimbulkan risiko signifikan bagi perdagangan global. Laut Merah, yang menjadi jalur utama pengiriman barang, menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez. Wilayah ini menerima sekitar 10-15% dari total perdagangan maritim, dengan 30% kontainer dunia melewati rute tersebut. Houthi pun menegaskan rencana menyerang sejumlah kapal yang melintas, sebagai bentuk balasan terhadap serangan Israel dan AS.

Menurut Arab News, utusan Houthi di Iran, Mohammad Ramazani, mengatakan serangan tidak hanya terfokus pada Laut Merah, tapi juga Bab Al-Mandab. “Solidaritas dengan Republik Islam Iran dan rakyat Iran yang terkasih adalah kewajiban Islam dan moral bagi semua Muslim,” ujarnya. “Demi kepentingan dunia Islam, karena Iran sedang berperang melawan tirani Israel-Amerika yang biadab.”

“Kita bersiap sepenuhnya untuk menghadapi perkembangan apa pun yang diperlukan, dan tidak ada alasan untuk khawatir mengenai Republik Islam Iran dalam menghadapi agresi Amerika-Israel,” tambah al-Houthi. “Iran kuat, posisinya teguh, dan responsnya tegas.”

Perubahan kondisi di Laut Merah juga berdampak pada waktu tempuh dan biaya logistik. Banyak kapal terpaksa mengambil jalur alternatif, seperti melalui Tanjung Harapan, yang membuat perjalanan memakan waktu hingga dua minggu. Lalu lintas kapal kontainer turun drastis hingga 67%, sementara kapal pengangkut Gas Alam Cair (LNG) terhenti sejak awal 2024. Krisis ini menaikkan biaya pengiriman dan asuransi, dengan tarif peti kemas dari Shanghai ke Eropa meningkat tiga kali lipat.

Dalam konteks ini, China dilaporkan menjadi salah satu pihak yang mengirim mediator untuk mengurangi ketegangan. Namun, keterlibatan Houthi dalam konflik semakin memperumit skenario geopolitik, terutama karena posisi strategis Laut Merah yang sama pentingnya dengan Selat Hormuz, yang mengalirkan 20% minyak dan 25% gas dunia.

Add as a preferred source on Google [Gambas:Video CNBC] Next Article: Houthi Serbu Kantor dan Sandera Puluhan Pegawai PBB, Iran Terlibat?