Historic Moment: Mendagri imbau daerah nobar Piala Dunia 2026 untuk gerakkan ekonomi

1000532898

Mendagri Dorong Daerah Manfaatkan Nobar Piala Dunia 2026 untuk Meningkatkan Ekonomi

Historic Moment – Jakarta, Jumat – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mendorong pemerintah daerah untuk mengadakan nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Dunia 2026 sebagai langkah untuk memacu pertumbuhan ekonomi lokal. Dalam sebuah pernyataan di Jakarta, Tito menekankan pentingnya kegiatan tersebut sebagai sarana hiburan yang juga berdampak positif pada sektor usaha. Selain memberikan kegembiraan bagi masyarakat, nobar ini diharapkan mampu menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi yang selama ini bisa terabaikan.

Pengalaman Mendagri di Papua

Dalam wawancara, Tito mengingatkan pengalaman masa lalunya saat menjabat Kapolda Papua. Ia menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia, terutama di wilayah timur, memiliki kecintaan luar biasa terhadap olahraga sepak bola, termasuk kompetisi tingkat internasional. Antusiasme mereka biasanya mencapai puncaknya saat Piala Dunia digelar, bahkan menjadi tradisi yang dihiasi dengan keramaian dan semangat kolaborasi. “Saya pernah dinas di Indonesia bagian timur, termasuk di Papua, dan melihat perayaan Piala Dunia di sana lebih meriah lagi,” kata Tito, seperti yang dilaporkan dalam keterangannya.

Pernyataan ini disampaikan setelah Mendagri menerima kunjungan dari Direktur Utama TVRI Tb. Fiki Chikara Satari di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Tito menjelaskan bahwa kegiatan nobar bukan hanya hiburan, tapi juga memiliki potensi untuk mengaktifkan berbagai sektor usaha. Ia menyoroti beberapa aktivitas yang muncul selama acara tersebut, seperti produksi atribut pendukung, penjualan jersey, serta penyelenggaraan acara nonton bersama. “Ini adalah peluang besar untuk menggerakkan ekonomi,” ujarnya.

Peluang Ekonomi bagi UMKM

Tito menambahkan bahwa perayaan Piala Dunia bisa menjadi sarana bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan pendapatan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan nobar, yang tersebar di berbagai daerah, bisa dijadikan momen yang memacu pertumbuhan usaha lokal. Selain itu, berbagai bentuk pesta olahraga yang dilakukan masyarakat selama mendukung tim favoritnya, seperti pesta kuliner atau pameran, juga berpotensi meningkatkan perputaran uang di masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Tito menyampaikan pesan penting kepada seluruh daerah untuk memperbanyak acara nobar, dengan tujuan memancing partisipasi UMKM dan memperkuat ekonomi daerah. Namun, ia juga menegaskan bahwa kegiatan tersebut harus tetap diawasi untuk menjaga ketersediaan sumber daya dan memastikan kondisi keamanan serta ketertiban di masyarakat. “Kita akan sampaikan kepada seluruh daerah agar memperbanyak nobar, memanfaatkan momen ini untuk memacu UMKM, dan tetap menjaga keamanan,” jelasnya.

Kemitraan dengan TVRI

Dalam kesempatan yang sama, Mendagri mengapresiasi kemitraan TVRI dengan pemerintah daerah dalam menyiarikan Piala Dunia 2026. Ia menilai capaian TVRI dalam memperoleh hak siar tersebut merupakan peluang besar untuk memperkuat branding sebagai media arus utama. Tito yakin, dengan memiliki hak siar, TVRI bisa berperan aktif dalam menciptakan suasana kehangatan sepanjang penyiaran pertandingan.

TVRI, yang akan menyiarkan Piala Dunia 2026, juga diharapkan menjadi penghubung antara pemerintah dan masyarakat. Kemitraan ini bisa menjembatani kebutuhan akan hiburan nasional dengan pembangunan ekonomi daerah. Tito menegaskan bahwa pertandingan tersebut akan berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Dengan jadwal yang terstruktur, pemerintah daerah bisa merancang rencana kegiatan yang terukur dan berdampak signifikan.

Menurut Tito, kegiatan nobar dan berbagai acara seputar Piala Dunia tidak hanya bisa memperkaya budaya olahraga nasional, tetapi juga mendorong ekonomi lokal. Ia mencontohkan bagaimana kegiatan seperti penjualan merchandise dan penyelenggaraan acara dianggap sebagai salah satu cara untuk menyalurkan minat masyarakat terhadap olahraga. “Selama pertandingan berlangsung, muncul berbagai aktivitas ekonomi, termasuk produksi atribut pendukung, kegiatan usaha kuliner, dan penyelenggaraan nonton bersama,” tambahnya.

Dalam rangka mendorong partisipasi masyarakat, Tito mengajak daerah-daerah untuk melakukan inovasi dalam menyajikan nobar. Hal ini bisa berupa penggunaan teknologi, kolaborasi dengan komunitas lokal, atau menyesuaikan acara dengan kebutuhan masyarakat setiap daerah. Ia menekankan bahwa inisiatif ini harus didukung oleh pemerintah daerah dan masyarakat secara bersama-sama untuk menciptakan dampak maksimal.

Peran Masyarakat dalam Perayaan

Tito juga meminta masyarakat untuk terlibat aktif dalam memperayaan Piala Dunia. Ia menyebutkan bahwa semangat dan antusiasme masyarakat saat mendukung tim nasional atau tim favorit mereka adalah faktor penting dalam menjadikan acara ini sebagai penggerak ekonomi. “Kami percaya bahwa perayaan Piala Dunia bisa menjadi titik awal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” kata Tito.

Dengan adanya Piala Dunia 2026, pemerintah daerah diimbau untuk menyelenggarakan acara yang menarik dan bisa menjangkau berbagai kalangan. Tito menyoroti bahwa Piala Dunia tidak hanya tentang olahraga, tetapi juga tentang kebersamaan dan semangat nasional. “Pertandingan ini akan memberikan ruang bagi daerah-daerah untuk membangun identitas lokal dengan cara yang inovatif,” jelasnya.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) berharap kerja sama yang dilakukan dengan TVRI bisa menjadi contoh yang baik dalam menggali potensi ekonomi melalui acara besar. Tito menambahkan bahwa momentum ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat, sekaligus mendorong pertumbuhan usaha yang berkelanjutan. “Kita perlu memperhatikan bagaimana kegiatan ini bisa berdampak pada perekonomian dan kehidupan sehari-hari masyarakat,” tutupnya.

“Kita akan sampaikan kepada seluruh daerah untuk memperbanyak nonton bareng memanfaatkan momen ini untuk memacu UMKM, tetapi tetap harus menjaga keamanan dan ketertiban,” jelas Mendagri Tito.

Dengan jadwal pertandingan yang dirancang mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026, pemerintah daerah diminta untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Tito menegaskan bahwa Piala Dunia 2026 adalah ajang yang tepat untuk melibatkan seluruh lapisan masyarakat dalam mendukung pembangunan ekonomi. Ia berharap, kegiatan ini bisa dijadikan sebagai inspirasi dalam menyelenggarakan acara serupa di masa depan.