IMO tolak usulan AS dan Iran soal tarif di Selat Hormuz

khrisna-edit-1784895855-b80a05b427

Organisasi Maritim Internasional Menolak Usulan Tarif di Selat Hormuz

Keputusan Berdasarkan Hukum Internasional

Bisadonasi.com – Tokyo — Organisasi Maritim Internasional (IMO) secara resmi menolak gagasan yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta Iran untuk menerapkan pungutan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Penolakan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mekanisme tarif tersebut tidak sejalan dengan ketentuan hukum internasional yang berlaku. Arsenio Dominguez, Sekretaris Jenderal IMO, menyampaikan pandangannya dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Kyodo News yang berlangsung di London pada hari Kamis, tanggal 23 Juli. Ia menegaskan bahwa setiap kebijakan baru harus memiliki landasan hukum yang kuat agar dapat diterapkan secara efektif.

Jika hal itu tidak sesuai dengan hukum internasional dan jika tidak memiliki dasar yang kuat untuk benar-benar diberlakukan; maka hal tersebut tidak dapat diterapkan,

pernyataan Dominguez yang menggarisbawahi prinsip-prinsip hukum maritim global.

Operasi Evakuasi dan Situasi Kapal yang Terjebak

Sejak bulan Juni, badan PBB ini telah memulai serangkaian operasi evakuasi untuk kapal-kapal yang terjebak di perairan Selat Hormuz. Namun, proses evakuasi tersebut harus dihentikan secara mendadak setelah terjadi serangan terhadap salah satu kapal dagang di kawasan tersebut. Hingga saat ini, diperkirakan sekitar lima ratus kapal masih berada dalam kondisi terjebak di wilayah strategis tersebut. Menurut Dominguez, kelanjutan operasi evakuasi sangat bergantung pada jaminan yang diberikan oleh Iran dan Amerika Serikat. Kedua negara tersebut harus memastikan bahwa kapal-kapal tidak akan menjadi sasaran serangan selama proses evakuasi berlangsung. Selain itu, telah terjadi pembahasan mengenai pembentukan kerangka kerja baru bagi IMO untuk memantau situasi di Selat Hormuz secara bersama-sama dengan Iran dan Oman. Meskipun demikian, hingga kini belum ada usulan resmi yang diajukan terkait mekanisme pengawasan tersebut.

Ketegangan Regional dan Dampaknya terhadap Perdagangan Global

Dominguez juga menyoroti meningkatnya ketegangan di Laut Merah. Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung oleh Iran, telah mengumumkan blokade maritim terhadap kapal-kapal yang berkaitan dengan Arab Saudi. Situasi ini menambah kompleksitas geopolitik di kawasan perairan penting dunia.

Transportasi laut tidak seharusnya dijadikan sandera dalam konflik geopolitik apa pun,

tegas Dominguez dalam menanggapi perkembangan terbaru. Ia menekankan bahwa pelayaran internasional tidak boleh dijadikan alat dalam konflik geopolitik yang sedang berlangsung.

Asia merupakan salah satu kawasan yang paling terdampak akibat ketidakstabilan di Selat Hormuz. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan tinggi negara-negara Asia terhadap impor minyak mentah dari Timur Tengah. Gangguan di jalur pelayaran ini dapat berdampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi regional dan global.

Peran Potensial Jepang dalam Meredakan Ketegangan

Dominguez menilai bahwa Jepang, sebagai negara maritim yang memiliki kepentingan besar dalam perdagangan laut, dapat memainkan peran yang sangat aktif. Negara tersebut memiliki kapasitas untuk membantu meredakan ketegangan dan memfasilitasi perundingan antara pihak-pihak yang bertikai. Dengan pengalaman dan posisinya dalam komunitas internasional, Jepang diharapkan dapat berkontribusi secara konstruktif dalam mencari solusi damai untuk konflik di kawasan perairan strategis tersebut.