Jembatan putus akibat banjir – 2 desa di Kulawi Sigi Sulteng terisolir
Jembatan Putus Akibat Banjir, 2 Desa di Kulawi Sigi Sulteng Terisolir
Peristiwa Banjir Menghambat Akses
Jembatan putus akibat banjir – Di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, sebuah kejadian banjir besar pada Minggu (17/5) dini hari mengakibatkan kerusakan signifikan di dua desa, yaitu Mataue dan Boladangko, Kecamatan Kulawi. Banjir tersebut menyebabkan satu jembatan yang menjadi penghubung antar dusun terputus, sehingga memutus akses transportasi bagi warga. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulteng, Asbudianto, mengungkapkan bahwa kondisi ini masih berlangsung hingga saat ini, menyebabkan isolasi wilayah tersebut.
“Akses yang bisa dilalui hanya dengan berjalan kaki dan aktivitas sebanyak 30 Kepala Keluarga (KK) di Dusun 2 terhambat akibat jembatan putus tersebut,”
Asbudianto mengatakan, di Desa Mataue, jembatan yang menghubungkan Dusun 1 (Bolapapu) dengan Dusun 2 (Mataue) mengalami kerusakan parah. Jembatan ini menjadi jalur utama bagi warga dusun yang berada di daerah terpencil. Dengan putusnya jembatan, kegiatan sehari-hari masyarakat terganggu, termasuk akses ke sumber daya dan layanan penting.
Di Desa Boladangko, banjir juga menyebabkan penghalang di jalur utama, khususnya menuju fasilitas umum seperti kantor desa, Sekolah Dasar (SD), Taman Kanak-Kanak (TK), dan gereja. Material banjir yang mengendap di permukaan jalan membuat perjalanan menjadi sulit. Meskipun tidak ada korban jiwa atau pengungsi yang tercatat, kebutuhan mendesak seperti alat berat untuk membersihkan sisa banjir, pembuatan jembatan darurat, serta bronjong masih menjadi prioritas.
Langkah Penanggulangan dan Kondisi Saat Ini
Menurut Asbudianto, akses jalan di Desa Boladangko kini sudah dapat dilalui kendaraan bermotor, asalkan kondisi arus sungai dalam keadaan normal. Namun, di Dusun 2 Desa Mataue, warga masih menghadapi kesulitan besar akibat putusnya jembatan penghubung. Ia menjelaskan bahwa untuk mencegah dampak lebih parah, tim BPBD dan Pekerjaan Umum (PU) sedang berupaya membersihkan material banjir yang menutupi jalur.
“Sudah saya minta alat berat untuk pembuatan jembatan darurat termasuk bronjong di Kulawi agar tidak terjadi banjir susulan di daerah tersebut,”
Kepala Daerah Sigi, Moh Rizal Intjenae, menegaskan bahwa pihatinya telah mengambil langkah cepat untuk menangani situasi ini. Ia memerintahkan Kepala Dinas PU dan BPBD setempat untuk melaksanakan pembersihan serta pembangunan infrastruktur darurat. “Dengan adanya jembatan darurat, akses ke daerah terisolir bisa dipulihkan secara lebih cepat,” tambah Rizal.
Saat ini, wilayah Desa Mataue masih menjadi fokus utama karena kelompok rentan tercatat sebanyak 16 orang, yang terdiri dari balita (4), lansia (9), dan disabilitas (3). Mereka memerlukan bantuan khusus untuk memenuhi kebutuhan harian, seperti akses ke pasar, pusat kesehatan, atau tempat ibadah. Selain itu, kebutuhan pangan, perbekalan, dan alat komunikasi juga menjadi concern utama bagi pihak berwenang.
Kondisi Warga dan Upaya Mandiri
Di sisi lain, masyarakat Desa Boladangko telah melakukan pembersihan material banjir secara mandiri. Tim desa berkolaborasi dengan warga setempat untuk mengangkat lumpur dan serpihan kayu yang menutupi jalan. Meski demikian, akses yang sempurna baru dapat tercapai setelah kerja sama dengan pemerintah daerah dan tim pemulihan.
Asbudianto menambahkan bahwa debit air sungai di dua desa tersebut meningkat drastis akibat hujan deras yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Curah hujan yang membanjiri wilayah sekitar membuat aliran air mengalir deras, sehingga merobek jembatan dan meluber ke permukiman warga. “Banjir ini terjadi karena kombinasi tingginya curah hujan dan kemiringan lereng daerah, yang mempercepat aliran air ke sungai,” ujarnya.
Dalam situasi darurat, pemerintah daerah juga mengupayakan komunikasi yang efektif dengan warga terdampak. Melalui koordinasi dengan BPBD, tim darurat mulai beroperasi untuk memantau kondisi dan memberikan bantuan kebutuhan mendesak. Rizal menegaskan bahwa langkah-langkah ini bertujuan untuk meminimalkan risiko lingkungan serta mempercepat pemulihan layanan penting.
Dampak Jangka Panjang dan Persiapan Mendatang
Kerusakan jembatan dan penutupan jalan yang terjadi tidak hanya memengaruhi mobilitas warga, tetapi juga mengganggu kegiatan ekonomi dan pendidikan. Dusun 2 Desa Mataue, misalnya, sebelumnya merupakan pusat pertumbuhan ekonomi lokal, dengan banyak warga yang bekerja sebagai petani atau pengrajin. Dengan terputusnya akses, kegiatan produktif mereka terhambat.
BPBD Sulteng juga melaporkan bahwa sisa-sisa banjir masih mengendap di daerah tersebut, menimbulkan risiko penyebaran penyakit dan gangguan pada infrastruktur. Dusun yang terisolir memerlukan perhatian khusus karena terbatasnya sumber daya lokal untuk menangani kondisi tersebut. “Kami sedang mengevaluasi tingkat kerusakan dan mengkoordinasikan logistik ke lokasi yang terkena dampak,” kata Asbudianto.
Sebagai upaya pencegahan, BPBD dan Dinas PU melakukan peninjauan rutin di sekitar daerah rawan banjir untuk memperkuat sistem drainase dan memperbaiki saluran air. Selain itu, mereka juga mempersiapkan alat berat seperti truk dump dan excavator untuk mempercepat pembersihan material yang menghambat akses. “Jika tidak segera diperbaiki, dampak banjir bisa berlanjut hingga minggu depan,” imbuhnya.
Bupati Sigi, Moh Rizal Intjenae, menyatakan bahwa kejadian ini menjadi pembelajaran penting bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapan menghadapi bencana alam. Ia menekankan perlunya kerja sama yang lebih intensif antara pemerintah, BPBD, dan masyarakat dalam membangun ketahanan bencana. “Kami juga melibatkan para pengurus desa untuk memastikan kebutuhan warga terpenuhi secara real-time,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, rencana pembangunan infrastruktur jembatan yang lebih tahan bantak dan saluran air yang efisien akan menjadi prioritas. Selain itu, pend
