Waspada gempa susulan – RSUD Torabelo Sigi tangani pasien di tenda

WASPADA-GEMPA-SUSULAN-RSUD-TORABELO-SIGI-TANGANI-PASIEN-DI-TENDA

RSUD Torabelo Sigi Berupaya Memulihkan Pelayanan Kesehatan di Tenda Darurat

Waspada gempa susulan – Satu minggu setelah gempa bumi berkekuatan 6,7 magnitudo mengguncang wilayah Sulawesi Tengah, RSUD Torabelo di Kabupaten Sigi masih berupaya menangani pasien menggunakan tenda darurat. Pada hari Selasa (23/6), situasi di rumah sakit tersebut belum membaik meski upaya pemulihan sedang berjalan. Gedung-gedung yang sebelumnya menjadi tempat perawatan kini berada dalam kondisi rusak, memaksa tim medis memindahkan pasien ke area terbuka. Dengan kondisi ini, RSUD Torabelo terus berupaya memastikan layanan kesehatan tetap berjalan meski dalam kondisi yang lebih sederhana.

Kondisi Pasca-Gempa Mempengaruhi Ketersediaan Fasilitas Medis

Para pekerja medis di RSUD Torabelo menghadapi tantangan tambahan karena ancaman gempa susulan yang masih mengintai. Setelah guncangan utama, beberapa bangunan di sekitar rumah sakit rusak parah, termasuk tempat tidur dan ruang perawatan. Akibatnya, tenaga medis terpaksa menyesuaikan diri dengan menggunakan tenda sebagai pengganti sementara. “Kita masih waspada karena gempa susulan bisa kapan saja terjadi,” ujar salah satu perawat di sana, seperti dikutip dalam laporan terkini.

“Kondisi tenda darurat saat ini memungkinkan kami memberikan perawatan dasar, tetapi kita perlu memperbaiki fasilitas secepat mungkin agar pasien bisa diperlakukan dengan lebih baik,” kata Suwanti, salah satu staf medis yang terlibat langsung dalam penanganan pasien.

Selama satu minggu terakhir, RSUD Torabelo menjadi salah satu dari beberapa pusat layanan kesehatan yang masih beroperasi di bawah kondisi darurat. Pasien yang terluka akibat gempa mengalami berbagai jenis cedera, mulai dari luka ringan hingga trauma parah. Meski alat-alat medis masih tersedia, lingkungan yang tidak stabil membuat prosedur pemeriksaan dan pengobatan harus dilakukan dengan hati-hati. Pemilik tenda darurat yang terdiri dari bahan tahan api dan pengamanan sederhana menjadi tempat sementara bagi pasien yang tidak bisa dirawat di ruangan permanen.

Langkah-Langkah untuk Menjaga Keamanan Pasien

Untuk mengurangi risiko cedera tambahan akibat gempa susulan, RSUD Torabelo mengambil langkah-langkah pencegahan. Setiap pasien yang berada di tenda diberi instruksi untuk tetap berada di posisi aman, seperti menjaga jarak dari bangunan yang retak atau beralih ke tempat tidur di area yang lebih stabil. “Kami juga memperketat protokol kebersihan untuk mencegah penyebaran infeksi di lingkungan tenda,” tambah Suwanti.

Pihak rumah sakit berupaya memaksimalkan sumber daya yang ada. Tim medis terus bekerja dengan komitmen tinggi, meski harus beradaptasi dengan kondisi yang tidak ideal. Pasien yang datang dari daerah terpencil atau terdampak parah diangkut menggunakan perahu atau truk darurat karena jalan raya yang rusak. “Kadang, kami harus menunggu beberapa jam agar bisa mengirim pasien ke RSUD Torabelo,” jelas M. Izfaldi, seorang dokter yang terlibat dalam penanganan darurat.

Penggunaan Tenda Darurat sebagai Solusi Sementara

Tenda darurat di RSUD Torabelo dirancang agar bisa menampung sekitar 50 pasien di satu waktu. Area tersebut dilengkapi dengan alat bantu perawatan sederhana, seperti kursi medis, perlengkapan pencahayaan, dan komunikasi terbatas. Namun, dibandingkan dengan ruangan permanen, tenaga medis mengakui bahwa keterbatasan fasilitas memengaruhi proses pengobatan. “Kita masih bisa melakukan pemeriksaan dasar, tetapi perawatan komplikasi membutuhkan waktu lebih lama,” kata Chairul Fajri, seorang perawat yang bertugas di area tenda.

Di sisi lain, RSUD Torabelo juga berupaya memperkuat sistem koordinasi dengan pihak lain. Beberapa tenda darurat ditempatkan di dekat fasilitas umum untuk memudahkan akses pasien. Selain itu, rumah sakit bekerja sama dengan organisasi penyelamatan dan kelompok bantuan masyarakat untuk menyalurkan perlengkapan medis tambahan. “Kolaborasi ini sangat penting karena kita tidak bisa memenuhi semua kebutuhan sendiri,” imbuh Suwanti.

Peluang dan Tantangan di Depan

Dengan keadaan yang masih tidak stabil, RSUD Torabelo tetap memperkirakan adanya dampak jangka panjang dari gempa susulan. Beberapa pasien yang mengalami cedera serius perlu rawatan intensif, tetapi ancaman guncangan tambahan membuat penyelesaian kasus terkendala. Tim medis mencoba menjadwalkan prosedur operasi yang paling mendesak, sementara pasien lain ditunggu hingga kondisi lebih aman.

Walau demikian, upaya penanganan pasien tetap berlangsung dengan semangat. Setiap hari, RSUD Torabelo menerima rata-rata 20 pasien baru yang terluka, dan sebagian besar di antaranya telah diberikan pertolongan pertama. “Kita sedang berusaha menyelesaikan kasus yang bisa diselesaikan di tenda sebelum memindahkan pasien ke ruangan yang lebih stabil,” jelas Suwanti. Keberhasilan ini menunjukkan ketahanan dan dedikasi tim medis dalam menghadapi krisis.

Pasca-gempa, RSUD Torabelo juga melakukan evaluasi terhadap kondisi bangunan. Berbagai area kritis seperti ruang operasi dan penyimpanan alat medis sedang diperiksa oleh insinyur khusus. “Jika kondisi memungkinkan, kita akan memulihkan ruangan utama dalam dua minggu ke depan,” tambah Suwanti. Namun, sampai saat ini, tenda darurat tetap menjadi tempat utama bagi pasien yang membutuhkan perawatan darurat.

Di tengah kesulitan, RSUD Torabelo berharap masyarakat tetap tenang dan konsisten mendukung upaya pemulihan. “Kepedulian masyarakat sangat berperan dalam mempercepat proses penanganan,” ujar Suwanti. Meski terus berupaya memperbaiki kondisi, RSUD Torabelo masih memerlukan bantuan tambahan agar bisa memberikan layanan kesehatan yang optimal bagi pasien dan komunitas sekitar.