New Policy: Khofifah sebut Munas-Konbes NU rumuskan solusi atas persoalan umat
Khofifah Sebut Munas-Konbes NU Rumuskan Solusi Atas Persoalan Umat
New Policy – Kediri, Jawa Timur – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 akan menjadi ajang penting untuk membahas visi keagamaan serta mencari jalan keluar dari berbagai tantangan yang menghadang umat, bangsa, dan negara. Sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Khofifah menekankan bahwa acara ini bukan hanya sekadar pertemuan rutin, tetapi juga wadah strategis untuk meningkatkan peran NU dalam menghadapi dinamika zaman. “Rais Aam mengingatkan kita bahwa menjaga martabat organisasi tidak cukup hanya melalui integritas dan moralitas, tetapi juga harus diwujudkan melalui kegiatan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima di Kediri, Minggu.
Forum untuk Memperkuat Peran NU
Khofifah mengatakan, panduan dari Rais Aam bisa menjadi arahan penting bagi seluruh anggota Nahdlatul Ulama dalam meningkatkan kontribusi organisasi terhadap pembangunan sosial. Ia berharap, hasil diskusi yang dihasilkan dari Munas-Konbes tersebut mampu memberikan solusi konkret bagi masalah-masalah kontemporer yang dihadapi masyarakat. “Kita berdoa agar Allah SWT memudahkan seluruh proses musyawaratan dan menghasilkan keputusan terbaik yang mendorong kemaslahatan umat, bangsa, serta negara,” tambahnya.
Dalam konteks itu, Khofifah juga menyoroti tanggung jawab Jawa Timur sebagai provinsi yang memiliki jumlah besar pesantren. Ia menyatakan, daerah ini memiliki peran kritis dalam mendorong pengembangan peran pesantren sebagai pilar kebangsaan. “Pesantren dan NU diyakini menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi yang cerdas, bermoral, serta peduli sosial,” jelas Khofifah. Ia menekankan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan pemimpin yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Peran Strategis Jamiyah NU
Sebagai Rais Aam PBNU, K.H. Miftachul Akhyar mengungkapkan bahwa Nahdlatul Ulama saat ini menghadapi tantangan peradaban yang semakin rumit. Ia menilai, organisasi ini perlu lompatan strategis dalam menjalankan tugas keagamaannya. “Jamiyah kita membutuhkan tiga hal utama untuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan,” ujarnya.
“Tiga kebutuhan mendesak tersebut adalah membangkitkan kesadaran sosial, memperkuat opini publik berbasis moral, serta meningkatkan kualitas kepemimpinan dengan semangat jihad dan ijtihad,” kata K.H. Miftachul Akhyar.
K.H. Miftachul Akhyar menjelaskan, kesadaran sosial (dhamir ijtima’i) harus ditingkatkan agar masyarakat mampu merespons isu-isu yang berkembang. Ia mencontohkan langkah nyata seperti penyuluhan agama, peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan, dan kolaborasi dengan lembaga-lembaga lain untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan. “Ini adalah langkah untuk melahirkan perubahan positif di tengah dinamika masyarakat yang terus bergerak,” ujarnya.
Sementara itu, dalam hal opini publik, K.H. Miftachul Akhyar berpendapat bahwa NU perlu menjadi pelopor dalam menciptakan kontrol sosial yang kuat. Ia menekankan pentingnya moralitas sebagai dasar perdebatan dan keputusan dalam masyarakat. “Dengan opini publik yang solid, kita bisa menghadirkan keadilan dan kebaikan di tengah tantangan modernisasi,” tambahnya.
Kepemimpinan yang diinginkan Rais Aam, menurut K.H. Miftachul Akhyar, harus memiliki kecerdasan, kemampuan analitis, serta komitmen tinggi untuk menjawab berbagai masalah. Ia mengungkapkan bahwa pemimpin jamiyah harus siap melakukan perjuangan panjang agar mampu menjaga kebenaran dan kebaikan di tengah kompleksitas zaman. “Kepemimpinan dalam NU adalah tanggung jawab besar yang membutuhkan ketekunan, ilmu yang luas, serta kemampuan beradaptasi dengan tuntutan peradaban saat ini,” ujarnya.
Jihad dan Ijtihad sebagai Kunci Solusi
K.H. Miftachul Akhyar juga memperjelas bahwa jihad dalam konteks NU tidak hanya sekadar usaha fisik, tetapi juga komitmen total untuk menegakkan ajaran agama. Ia menyebut bahwa jihad adalah upaya untuk memperkuat ketaatan terhadap Allah SWT dan menjalankan perintah-Nya. “Ini memerlukan perjuangan yang intens dan berat, terutama dalam menghadapi hal-hal yang mengganggu kebenaran agama,” katanya.
Menyusul pembahasan tentang ijtihad, K.H. Miftachul Akhyar menegaskan bahwa para pemimpin jamiyah harus memiliki kemampuan intelektual untuk memberikan solusi yang tepat. “Ijtihad berarti mampu mengambil keputusan berdasarkan pemahaman yang mendalam, serta mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman,” ujarnya. Ia menekankan bahwa kepemimpinan NU harus diimbangi dengan inisiatif baru, kemampuan berpikir kritis, dan kesungguhan dalam menjawab berbagai permasalahan sosial.
Munas-Konbes NU 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Al Falah, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, diharapkan menjadi momentum penting bagi pengembangan keagamaan di Indonesia. K.H. Miftachul Akhyar menyatakan bahwa keberhasilan acara ini bergantung pada partisipasi aktif seluruh elemen Nahdlatul Ulama, termasuk para kyai, santri, relawan, dan panitia penyelenggara. “Kita harus berusaha bersama agar hasilnya benar-benar membawa manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat,” imbuhnya.
Khofifah menambahkan bahwa Jawa Timur memiliki peran sentral dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan agama. Ia menyebut bahwa pesantren sebagai institusi pendidikan keagamaan harus tetap menjadi pusat pembentukan individu yang unggul dan bermoral. “Kita optimis bahwa keputusan yang dihasilkan dari acara ini akan menjadi pedoman untuk membangun masyarakat yang lebih baik,” pungkas Khofifah.
Sebagai penyelenggara, PBNU berharap Munas-Konbes 2026 menjadi sarana untuk memperjelas visi dan misi organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam persiapan acara tersebut. “Dengan kerja keras bersama, kita bisa mencapai tujuan yang lebih luas untuk kebaikan umat dan bangsa,” tutup Khofifah.
