Program Terbaru: Indikator: Mudik dorong ekonomi daerah dengan pemudik berekreasi

Indikator: Mudik Dorong Ekonomi Daerah Melalui Aktivitas Pemudik

Jakarta – Peneliti dari Indikator Politik Indonesia, Hendro Prasetyo, menyoroti peran mudik Lebaran 2026 dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya melalui sektor pariwisata dan pengeluaran konsumsi. Menurutnya, sebanyak 32 persen dari pemudik memilih untuk melakukan aktivitas rekreasi di tempat tujuan, dibandingkan menghabiskan uang untuk makan di luar.

“Angka 32 persen ini menunjukkan potensi ekonomi yang signifikan,” ujar Hendro dalam laporan survei evaluasi publik pengelolaan mudik Lebaran 2026 yang diadakan secara daring di Jakarta, Selasa.

Sementara itu, sekitar 20 persen pemudik mengaku sering atau sangat sering menghabiskan uang untuk makan di luar, seperti di warung, rumah makan, atau restoran saat berada di kampung halaman. Dengan total sekitar 47 juta pemudik, angka tersebut berdampak besar terhadap sektor ekonomi makanan di daerah.

Temuan survei menunjukkan bahwa meskipun rekreasi menjadi aktivitas utama, tidak semua pemudik menghabiskan dana di sektor formal. Banyak dari mereka membawa bekal dari rumah, sehingga pengeluaran lebih terfokus pada kegiatan lokal.

Tren Pemudik Berada di Rumah Keluarga

Survei mencatat bahwa mayoritas pemudik memilih untuk tinggal di rumah orang tua atau keluarga besar. Tren ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, sementara penggunaan hotel masih tergolong rendah. Fenomena ini mengindikasikan bahwa perputaran uang selama masa mudik lebih dominan terjadi di sektor informal dan berbasis komunitas, seperti warung kecil serta destinasi wisata lokal.

Kelompok Usia dan Tingkat Pendidikan Pengaruh Aktivitas Belanja

Dalam survei, segmen milenial dan baby boomers tercatat sebagai kelompok yang paling sering melakukan konsumsi di luar. Sementara itu, tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih tinggi berkorelasi dengan peningkatan aktivitas belanja dan rekreasi.

“Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar kemungkinan pemudik menghabiskan uang untuk belanja dan rekreasi,” jelas Hendro.

Kombinasi antara 32 persen aktivitas rekreasi dan 20 persen konsumsi makanan selama mudik menegaskan bahwa peristiwa ini memiliki dampak ekonomi yang luas. “Mudik bukan hanya bagian dari ritual budaya, tetapi juga menjadi momen strategis untuk menggerakkan perekonomian daerah,” tegasnya.

Survei dilakukan pada periode 29 Maret hingga 4 April 2026, melibatkan 1.200 responden dengan metode pengambilan sampel acak bertahap. Margin of error survei sebesar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.