Gaya hidup minim sampah butuh konsistensi dan dukungan lingkungan

Gaya hidup minim sampah butuh konsistensi dan dukungan lingkungan

Menurut para aktivis lingkungan, menerapkan gaya hidup rendah sampah tidak bisa dilakukan secara mendadak, tetapi memerlukan kebiasaan yang konsisten serta dukungan dari sekitar. Seorang pemimpin tim Urban People Power Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, menjelaskan bahwa perubahan ini bisa dimulai secara perlahan dengan bantuan komunitas. “Mulai dari hal kecil lalu cari lingkungan pertemanan atau komunitas yang juga mulai peduli lingkungan untuk saling mendukung serta bertukar pengalaman,” ujar Atha saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Kamis.

Direktur Climate Policy Initiative, Tiza Mafira, menambahkan bahwa kebiasaan kecil bisa menjadi dasar untuk mengubah pola hidup sehari-hari. “Mulai dari kebiasaan sederhana yang realistis agar dapat dilakukan secara berkelanjutan,” katanya. Contohnya, bawa tumbler dan kantong belanja. Jangan hanya ‘mengoleksi’ atau ‘menimbun’ botol dan kantong belanja di rumah karena ujungnya bisa menjadi sampah. Jadikan kebiasaan ini sebagai hal yang rutin, bukan sesuatu yang istimewa, sehingga kita tidak merasa sulit ketika sudah terbiasa,” ujarnya.

“Kurangi belanja online, kecuali kalau punya langganan vendor yang sudah mengurangi plastik. Kalau mau jajan, pilih tempat yang dekat-dekat saja. Bawa wadah atau rantang ke pedagang sate, bubur, bakmi dekat rumah. Hidupkan ekonomi hyperlokal, para pedagang UMKM di sekitar kita sedang butuh dukungan kita,”

Tiza juga menyarankan konsumen lebih aktif menyampaikan preferensi kemasan saat berbelanja daring. “Kalau mau belanja online, tinggalkan pesan kepada vendornya: cukup pakai kardus dan kertas bekas saja, tidak perlu plastik, tas spunbound, ataupun bubble-wrap berlapis-lapis. Ini akan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan UMKM,” katanya.

Selain itu, ia menekankan bahwa perusahaan juga harus ikut serta dalam mendorong gaya hidup minim sampah. “Zero waste ini juga harus berlaku untuk pelaku usaha karena konsumen mengikuti sistem transaksi yang disediakan. Misalnya kalau kita makan dine-in di restoran, sediakan alat makan guna ulang, tidak perlu sediakan sedotan plastik karena kita bisa langsung minum dari gelas,”