Pakai masker – kualitas udara Jakarta terburuk di dunia
Jakarta Terpilih sebagai Kota dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia
Pakai masker – Pada hari Kamis pagi, kualitas udara Jakarta mencatatkan kinerja yang memprihatinkan, dengan masuk ke dalam kategori tidak sehat. Menurut laporan dari situs pemantau kualitas udara IQAir, data yang diperoleh pada pukul 06.10 WIB menunjukkan indeks kualitas udara (AQI) mencapai angka 171. Angka ini termasuk dalam kategori polusi udara yang merugikan kesehatan masyarakat. PM2.5, salah satu partikel mikroskopis yang menjadi indikator utama, mencapai tingkat konsentrasi 84 mikrogram per meter kubik. Kondisi ini berdampak signifikan terhadap kelompok sensitif, baik manusia maupun hewan, serta dapat merusak tumbuhan dan nilai estetika lingkungan.
Peringkat Kualitas Udara Global
Dalam daftar kota dengan udara terburuk di dunia, Jakarta menduduki peringkat pertama. Situs pemantau kualitas udara IQAir memberikan peringkat ini berdasarkan pengukuran PM2.5 pada waktu tertentu. Kota kedua dalam daftar tersebut adalah Tashkent, Uzbekistan, dengan indeks 156. Lalu diikuti oleh Hanoi, Vietnam, yang mengisi posisi ketiga dengan angka 153, serta Lahore, Pakistan, juga berada di urutan keempat dengan PM2.5 sebesar 153. Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, menempati posisi kelima dengan indeks 139. Seluruh daftar ini mencerminkan tingkat polusi yang memadat di kota-kota besar di berbagai belahan dunia.
Kategori Kualitas Udara Berdasarkan PM2.5
Kualitas udara dikelompokkan dalam beberapa kategori berdasarkan tingkat PM2.5. Kategori baik dianggap sebagai kondisi yang tidak memberikan dampak negatif terhadap kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, bangunan, atau nilai estetika. Rentang PM2.5 dalam kategori ini berkisar antara 0 hingga 50 mikrogram per meter kubik. Kategori sedang menunjukkan kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia dan hewan, tetapi dapat menyebabkan efek pada tumbuhan yang rentan atau menurunkan nilai estetika. Rentang PM2.5 pada kategori ini sebesar 51 hingga 100 mikrogram per meter kubik.
Di tingkat berikutnya, kualitas udara dikategorikan sebagai “tidak sehat,” yang bisa memengaruhi kesehatan sejumlah kelompok sensitif. Jika nilai PM2.5 melebihi 100 mikrogram per meter kubik, risiko kesehatan meningkat, terutama bagi anak-anak, orang tua, dan individu dengan kondisi pernapasan. Kategori ini membawa dampak lebih luas, baik terhadap manusia maupun lingkungan, seperti penurunan visibilitas dan perubahan iklim lokal. Di tingkat yang lebih parah, kualitas udara dinyatakan “sangat tidak sehat” ketika PM2.5 berada dalam rentang 200 hingga 299 mikrogram per meter kubik. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kerusakan jangka panjang pada kesehatan masyarakat, termasuk penyakit paru-paru dan pernapasan. Di puncak skala, kategori “berbahaya” menunjukkan PM2.5 antara 300 hingga 500 mikrogram per meter kubik, yang secara umum membahayakan kesehatan populasi secara signifikan.
Kampanye #SatuLangkahDulu untuk Meningkatkan Kualitas Udara
Dalam upaya mengatasi masalah udara yang buruk, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup mengajak seluruh warga Jakarta untuk berpartisipasi dalam gerakan kolaboratif bernama #SatuLangkahDulu. Gerakan ini bertujuan membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kualitas udara melalui berbagai aksi kecil. “Melalui kampanye ini, kita ingin menumbuhkan semangat untuk mengubah pola hidup dengan satu langkah yang berdampak besar,” tutur Purwanti Suryandari, Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, pada 26 Mei 2026.
“Kampanye ini tidak hanya melibatkan media sosial, tetapi juga berbagai elemen masyarakat, seperti komunitas, dunia usaha, akademisi, media, dan warga biasa. Kami berharap melalui beragam inisiatif, seperti challenge dan aksi bersama, bisa mengurangi sumber emisi dan meningkatkan kesadaran tentang kebersihan udara,” ujarnya.
Gerakan #SatuLangkahDulu dibuat dalam forum Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Kluster Udara. Langkah-langkah yang dianjurkan mencakup penggunaan transportasi ramah lingkungan, seperti sepeda atau angkutan umum, serta pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Selain itu, masyarakat diharapkan menerapkan praktik baik dalam kehidupan sehari-hari, seperti menutup jendela saat udara luar tercemar atau mengurangi aktivitas yang memproduksi partikel berbahaya. Dinas Lingkungan Hidup juga mendorong penggunaan masker sebagai langkah pencegahan sehari-hari.
Langkah Nyata untuk Perbaikan Kualitas Udara
Gerakan ini menekankan pentingnya partisipasi aktif dari setiap individu dalam menjaga lingkungan. Menurut Purwanti Suryandari, partisipasi masyarakat tidak hanya terbatas pada pengurangan polusi, tetapi juga pada perubahan kebiasaan hidup. “Dengan mengajak seluruh elemen masyarakat, kita bisa menciptakan udara Jakarta yang lebih bersih dan sehat,” tambahnya.
Program ini diharapkan mampu menjadi solusi berkelanjutan dalam menghadapi tantangan polusi udara. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk terus mengawasi kualitas udara melalui aplikasi pemantau atau media sosial, agar dapat segera mengambil tindakan jika terjadi perubahan drastis. Pemantauan terus-menerus dan kolaborasi antar sektor menjadi kunci dalam mewujudkan lingkungan yang lebih baik.
Sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara, Jakarta berpotensi menjadi tempat dengan polusi udara yang menyebar ke berbagai wilayah. Namun, dengan partisipasi bersama, harapan terbuka untuk mengurangi dampak negatif dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi warga Jakarta. Kualitas udara yang baik tidak hanya meningkatkan kesehatan, tetapi juga memberikan kualitas hidup yang lebih nyaman dan produktif.
Perspektif Internasional terhadap Kualitas Udara Jakarta
Kondisi udara Jakarta menjadi perhatian internasional, karena memperlihatkan bagaimana polusi udara dapat mengganggu kesejahteraan masyarakat. Menurut data IQAir, tingkat PM2.5 yang tercatat pada hari Kamis pagi memperlihatkan bahwa Jakarta mengalami peningkatan polusi sepanjang tahun. Ini terjadi karena faktor-faktor seperti pertumbuhan kota, peningkatan kendaraan bermotor, dan kepadatan industri.
Sebagai kota yang padat penduduk dan
