Rencana Khusus: Dukung petani hadapi iklim, RI-PBB luncurkan program ketahanan pangan
Dukung Petani Hadapi Iklim, RI-PBB Luncurkan Program Ketahanan Pangan
Jakarta – Pemerintah Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan komitmen bersama untuk memperkuat ketahanan pangan melalui inisiatif baru. Program bernama “UN Joint Programme: Leveraging Finance to Scale Up Climate Resilient Food Systems” diluncurkan di Jakarta pada Rabu (9/4), dengan tujuan utama mendukung petani kecil dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Berdasarkan pernyataan resmi UNIC Jakarta pada Jumat (10/4), program ini fokus pada pemberdayaan ekonomi pertanian berkelanjutan di Jawa Timur dan Lampung.
Pelatihan dan Teknologi Adaptif
Inisiatif ini menyasar 15 ribu petani di Jawa Timur, dengan memberikan pelatihan terkait praktik pertanian cerdas iklim. Metode yang digunakan mengintegrasikan teknologi adaptif sesuai konteks lokal, termasuk pengembangan padi hemat air. Program tersebut menekankan penerapan pertanian berkelanjutan yang mampu meningkatkan produktivitas, sekaligus mengurangi emisi karbon dan memperkuat daya tahan terhadap bencana cuaca.
“Program ini diharapkan dapat meningkatkan akses pembiayaan bagi petani serta mendorong penerapan Climate-Smart Agriculture, meningkatkan kesejahteraan petani, penguatan ketahanan pangan dan pengintegrasian dengan program prioritas lainnya seperti Makan Bergizi Gratis,” kata Leonardo A. A. Teguh Sambodo, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup di Bappenas.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, inisiatif ini menyalurkan mekanisme pembiayaan inovatif, seperti skema asuransi iklim Indonesia dan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Selain itu, program ini juga menargetkan pengembangan teknologi terkini, seperti irigasi bertenaga surya, guna mendukung praktek pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Investasi dan Kolaborasi Global
Dalam jangka dua tahun (2026-2027), program ini akan dipimpin oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) bekerja sama dengan Badan Internasional untuk Pendanaan Pembangunan Pertanian (IFAD), Program Pembangunan PBB (UNDP), serta Kantor Kepala Perwakilan PBB (UNRCO). Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Gita Sabharwal, menyatakan bahwa dari investasi awal 2 juta dolar AS (Rp34,2 miliar), pihaknya berharap mampu mengumpulkan 205 juta dolar AS (Rp3,5 triliun) dari sumber dana publik dan swasta.
“Melalui program ini, kami ingin membuka lebih banyak peluang investasi untuk petani kecil, perempuan, dan generasi muda,” tambah Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal.
Program ini didukung oleh Joint SDG Fund, UN Food Systems Coordination Hub, serta kontribusi dari berbagai negara, termasuk Uni Eropa, Pemerintah Belgia, Denmark, Jerman, Irlandia, Italia, Luksemburg, Monako, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Spanyol, Swedia, dan Swiss. Dana yang diperoleh akan digunakan untuk membiayai praktik berkelanjutan, terutama pada peningkatan kandungan gizi beras bagi 300 ribu petani kecil.
