Meeting Results: Pemprov Sumut perkuat edukasi nelayan tak lintasi batas Indonesia
Pemprov Sumut Intensif Edukasi Nelayan untuk Hindari Melintasi Batas Wilayah
Meeting Results – Medan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) terus mendorong peningkatan kesadaran nelayan agar tidak melewati batas wilayah perairan Indonesia. Upaya ini bertujuan mencegah praktik penangkapan ikan di zona laut Malaysia yang kerap terjadi. Penjabat Sekretaris Daerah Sumut, Sulaiman Harahap, menjelaskan bahwa tiga strategi utama telah dipersiapkan untuk memperkuat komitmen pemerintah dalam menjaga integritas perairan nasional.
Langkah Strategis Pemprov Sumut
Sulaiman mengungkapkan, langkah pertama melibatkan penguatan pendidikan bagi para nelayan. Ia menekankan pentingnya penyuluhan tentang batas wilayah perairan dan konsekuensi hukum jika melanggarnya. “Edukasi ini harus tepat sasaran, baik melalui pelatihan teknis maupun sosialisasi kebijakan,” ujarnya. Ia juga meminta seluruh kabupaten/kota di daerah pesisir timur Sumut untuk bekerja sama dalam memastikan nelayan memahami batas laut secara jelas.
“Saya harap pemkab/pemkot, serta pemprov memperkuat edukasi ke nelayan atas batas wilayah, dan hukumannya ketika melanggar. Mereka juga perlu diedukasi teknologi GPS, koordinat, sehingga benar-benar akurat terkait batas,” jelas Sulaiman.
Langkah kedua, pihaknya berencana meningkatkan kualitas peralatan nelayan. Sulaiman menjelaskan bahwa armada dan alat tangkap yang lebih modern akan membantu para nelayan menangkap ikan dengan efisien tanpa perlu mendekati perbatasan. “Dengan kapasitas kapal yang lebih besar dan alat tangkap yang canggih, nelayan bisa memaksimalkan hasil tangkapan mereka di perairan Indonesia, bukan di wilayah Malaysia,” katanya.
Langkah ketiga adalah penguatan kerja sama hukum dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Penang, Malaysia. Sulaiman menekankan perlunya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, aparat penegak hukum, dan perwakilan Indonesia di luar negeri. “Koordinasi ini sangat kritis untuk menjamin perlindungan nelayan Sumut jika menghadapi masalah di wilayah perbatasan,” tuturnya.
Hasil Kolaborasi yang Signifikan
Konsul Jenderal RI di Penang, Malaysia, Wanton Saragih Sidauruk, menyampaikan bahwa tren penangkapan ikan oleh nelayan Sumut oleh aparat Malaysia menunjukkan penurunan drastis dalam beberapa tahun terakhir. “Pada 2023 tercatat 123 kasus, kemudian turun menjadi 24 kasus pada 2024, 19 kasus pada 2025, dan hingga pertengahan 2026 hanya lima kasus,” katanya.
“Setelah kita bersama-sama gencar melakukan edukasi dan sosialisasi kepada nelayan, hasilnya signifikan. Kami apresiasi Pemprov Sumut, pemkab, serta pemkot di pesisir timur. Kita berharap ini terus bisa kita lakukan,” ujar Wanton Saragih.
Wanton menambahkan bahwa penurunan jumlah kasus terjadi karena konsistensi pihak berwenang dalam memberikan informasi tentang batas wilayah. “Edukasi membuat nelayan lebih waspada dan memahami aturan,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa program ini memerlukan keterlibatan aktif dari berbagai pihak, termasuk lembaga lokal dan kebijakan nasional yang mendukung.
Pembangunan Rumpon sebagai Solusi Lokal
Selain edukasi, Pemprov Sumut juga fokus pada pengembangan rumpon (struktur yang menarik ikan berkumpul) sebagai upaya meningkatkan produktivitas nelayan. Sulaiman menyatakan bahwa rumpon bisa menjadi solusi alternatif agar nelayan tidak perlu melintasi batas untuk menangkap ikan. “Rumpon harus dibangun secara terukur agar tidak mengganggu ekosistem laut. Dengan ini, nelayan tidak perlu jauh-jauh ke perairan teritorial Malaysia,” ujarnya.
Sulaiman mengingatkan bahwa pembangunan rumpon harus disertai manajemen yang baik. “Kita tidak ingin rumpon berubah menjadi sampah di laut, yang justru merusak lingkungan. Maka, perlu ada standar khusus dalam pembuatan rumpon agar tetap bermanfaat dan ramah lingkungan,” tambahnya.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam membangun ketahanan ekonomi sektor perikanan. Sulaiman menjelaskan bahwa rumpon tidak hanya membantu peningkatan hasil tangkapan, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia nelayan melalui pelatihan teknik pembuatan dan perawatan rumpon. “Nelayan akan lebih terampil, sehingga mampu mengelola perairan secara lebih efektif,” katanya.
Pelatihan Teknologi dan Kesadaran Hukum
Pemprov Sumut juga memperkenalkan teknologi GPS sebagai alat bantu navigasi yang akurat. Sulaiman mengatakan bahwa GPS bisa membantu nelayan memantau posisi mereka secara real-time, sehingga mengurangi risiko kesalahan lintasan. “Teknologi ini sangat penting, terutama bagi nelayan pemula yang belum familiar dengan peta laut,” jelasnya.
Di sisi lain, penguatan kesadaran hukum menjadi bagian integral dari program edukasi. Sulaiman menekankan bahwa hukuman yang diberikan kepada nelayan yang melanggar batas harus konsisten dan adil. “Dengan hukuman yang jelas, nelayan akan lebih memahami konsekuensi dari tindakan mereka, baik secara administratif maupun sanksi lebih berat,” katanya.
Konsul Jenderal Wanton Saragih mengungkapkan bahwa edukasi hukum bersama dengan pihak Malaysia telah berdampak positif. “Nelayan Sumut kini lebih memah
