Solution For: OJK ukur kesehatan bank di Bali pastikan tetap solid

OJK Evaluasi Kinerja Perbankan Bali, Pastikan Stabilitas Sektor Keuangan

Solution For – Denpasar, Kamis – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bali menggelar evaluasi kesehatan perbankan di Pulau Dewata per Februari 2026. Tujuan utamanya adalah memastikan stabilitas lembaga keuangan di daerah tersebut meskipun menghadapi tantangan eksternal seperti krisis geopolitik. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kualitas kredit di sektor perbankan Bali tetap stabil, bahkan menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan NPL dan LaR Tercatat di Bali

Menurut Kepala OJK Bali, Parjiman, rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan Bali mencapai 2,62 persen per Februari 2026. Angka ini lebih baik dibandingkan Februari 2025 yang mencapai 3,13 persen. Penurunan tersebut didorong oleh efektivitas penyelesaian kredit restrukturisasi dan diversifikasi penyaluran kredit ke sektor-sektor strategis.

Di sisi lain, rasio kredit berisiko (LaR) juga menurun menjadi 9,29 persen. Dibandingkan Februari 2025, angka ini berkurang 2,65 persen, mencerminkan pengendalian risiko yang lebih baik. Parjiman mengatakan, terobosan ini menunjukkan kemampuan bank Bali dalam menjaga kualitas aset meski menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

“Kualitas kredit di sektor perbankan Bali tetap stabil,” ujar Parjiman. Ia menambahkan, kemajuan tersebut adalah hasil dari upaya intensif OJK dalam memastikan kepatuhan lembaga keuangan terhadap standar kinerja yang ketat.

Berkaitan dengan penyaluran kredit, data terbaru menunjukkan bahwa total kredit yang diberikan perbankan Bali per Februari 2026 mencapai Rp119,75 triliun. Angka ini naik 6,47 persen dibandingkan Februari 2025 sebesar Rp112,45 triliun. Pertumbuhan kredit yang signifikan terutama didorong oleh kebutuhan sektor pariwisata, khususnya di bidang akomodasi dan layanan makan minum.

Perbankan Bali Mendukung Ekspansi Usaha Pariwisata

Parjiman menjelaskan bahwa kredit investasi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan kredit. Segmen ini tumbuh 17,81 persen dengan nilai mencapai Rp6,32 triliun. Kontribusi kredit investasi ini menunjukkan peran perbankan dalam memfasilitasi ekspansi bisnis, terutama di industri pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian Bali.

“Peningkatan pada kredit investasi menunjukkan kontribusi perbankan dalam mendukung pembiayaan ekspansi usaha untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” tambah Parjiman. Ia menekankan bahwa kebijakan penyaluran kredit ini berdampak positif pada stabilitas perekonomian daerah.

Menurut kategori debitur, sekitar 51,32 persen dari seluruh kredit yang disalurkan di Bali berupa pinjaman untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Jumlah ini naik 4,71 persen dibandingkan Februari 2025. Sebagian besar kredit UMKM terpusat pada usaha mikro, yang menyumbang 42,17 persen dari total, serta usaha kecil dengan kontribusi 37,43 persen.

Kinerja Permodalan dan Likuiditas Tetap Kuat

Dari sisi permodalan, Parjiman menyatakan bahwa rasio kecukupan modal (CAR) bank-bank Bali masih memadai. Rasio ini mencapai 28,31 persen, jauh di atas batas minimal 12 persen yang diatur dalam Peraturan OJK Nomor 28 Tahun 2023. CAR yang tinggi ini menjadi bantalan untuk menghadapi risiko krisis keuangan global yang sedang berlangsung.

Sementara itu, rasio likuiditas (CR) bank perekonomian rakyat (BPR) di Bali mencapai 14,74 persen. Angka ini melebihi ambang batas minimal delapan persen, bahkan dalam tiga bulan terakhir tidak ada BPR yang rasio likuiditasnya di bawah lima persen. Tingkat likuiditas yang baik ini menunjukkan kemampuan bank dalam memenuhi kebutuhan dana masyarakat.

“Perbankan Bali masih memiliki kapasitas kuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan,” kata Parjiman. Ia menegaskan bahwa meskipun situasi geopolitik di Timur Tengah semakin memanas, sektor perbankan di Bali tetap mampu mempertahankan kinerja yang sehat.

Berbagai bukti, bank-bank di Bali juga tetap aktif dalam menghimpun dana dari masyarakat (DPK). DPK mengalami pertumbuhan 6,05 persen hingga mencapai Rp204,59 triliun per Februari 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Februari 2025 yang mencapai Rp192,91 triliun. Fungsi intermediasi perbankan terus berjalan baik, membantu aliran dana dari tabungan masyarakat ke sektor produktif.

Namun, meski pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) tercatat positif, rasio simpanan terhadap total kredit (LDR) masih tergolong stabil. Rasio ini berkisar 58,53 persen sejak Februari 2025, tetap tidak mengalami perubahan signifikan. Angka ini sedikit di bawah batas ideal yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) sebesar 78-92 persen. Parjiman mengakui bahwa peningkatan LDR masih menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Kesehatan Sektor Keuangan Bali Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Analisis kesehatan perbankan Bali menggambarkan bahwa lembaga keuangan di sana mampu menjaga keseimbangan antara kualitas kredit dan likuiditas. Meski tekanan global meningkat, OJK terus memastikan bahwa perbankan tetap menjadi pilar stabilitas ekonomi. Parjiman menilai bahwa keberhasilan penurunan NPL dan LaR, serta pertumbuhan kredit yang sehat, memberi ruang untuk optimisme.

Kebijakan OJK dalam mengawasi kinerja perbankan juga membantu mengurangi risiko kredit yang berpotensi macet. Berbagai program pengawasan dan insentif diberikan kepada bank untuk meningkatkan kualitas manajemen risiko. Hasilnya, rasio kredit bermasalah mencapai angka terendah dalam beberapa tahun terakhir, terutama di sektor pariwisata yang menjadi andalan perekonomian Bali.

Parjiman menegaskan bahwa penurunan NPL dan LaR bukan hanya hasil dari kebijakan internal bank, tetapi juga didorong oleh kinerja OJK dalam memberikan arahan yang jelas. Pemantauan intensif