Rencana Khusus: Bank Dunia: Lonjakan harga energi perlambat ekonomi Asia Timur-Pasifik

Bank Dunia: Lonjakan Harga Energi Memperlambat Ekonomi Asia Timur-Pasifik

Dalam laporan terbaru, Bank Dunia mengungkapkan bahwa kawasan Asia Timur dan Pasifik akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun mendatang. Proyeksi pertumbuhan wilayah tersebut turun menjadi 4,2 persen pada 2026, dibandingkan 5,0 persen di tahun sebelumnya, akibat dari tekanan geopolitik global yang mendorong kenaikan harga energi dunia.

Konflik di wilayah Timur Tengah menjadi faktor utama yang memicu kenaikan harga bahan bakar, menurut Aaditya Mattoo, kepala ekonom Bank Dunia untuk kawasan tersebut. Dalam taklimat media virtual dari Jakarta, Mattoo menjelaskan bahwa fluktuasi harga energi menyebabkan permasalahan ekonomi lokal, memperparah hambatan perdagangan, serta meningkatkan ketidakpastian dalam kebijakan internasional.

“Dukungan nyata bagi masyarakat dan bisnis dapat mempertahankan lapangan kerja saat ini, sementara mempercepat reformasi struktural yang tertunda bisa mendorong peningkatan ekonomi di masa depan,” ujar Mattoo.

Laporan tersebut menyoroti bahwa konflik Timur Tengah sejak 28 Februari menyebabkan gangguan signifikan terhadap harga energi global. Indeks harga gas alam melonjak hingga 90 persen, sedangkan minyak mentah naik lebih dari 30 persen. Wilayah ini juga merupakan produsen utama pupuk, aluminium, dan petrokimia, dengan Qatar serta Arab Saudi menyumbang lebih dari 10 persen ekspor pupuk nitrogen global.

Pengaruh kenaikan harga energi bervariasi tergantung pada tingkat ketergantungan negara-negara terhadap impor bahan bakar, kerentanan ekonomi, dan kebijakan responsif. Negara kepulauan seperti Fiji, Mikronesia, Tonga, dan Vanuatu dinilai lebih rentan, sementara importir besar seperti Thailand dan Mongolia menghadapi tekanan neraca perdagangan dan keterbatasan anggaran.

Sebaliknya, negara-negara dengan daya tahan ekonomi yang lebih kuat seperti Kamboja, Vietnam, dan Indonesia menunjukkan kemampuan menghadapi gangguan ini. Kekuatan mereka didukung oleh cadangan strategis, kapasitas produksi minyak dalam negeri, serta pendapatan ekspor komoditas yang berfungsi sebagai pengimbang.