Hasil Pertemuan: Iran ingatkan AS agar tidak biarkan Netanyahu “membunuh diplomasi”
Iran Ingatkan AS untuk Tidak Biarkan Netanyahu Hancurkan Upaya Diplomatik
Pada Rabu (8/4), Iran dan AS mengumumkan kesepakatan gencatan senjata yang akan berlaku selama dua pekan. Pernyataan ini menyusul pertempuran berkepanjangan selama 40 hari di wilayah konflik. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, yang memberikan pernyataan pada Kamis (9/4), mengingatkan Amerika Serikat agar tidak membiarkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghancurkan diplomasi.
“Sidang pidana Netanyahu akan dilanjutkan pada Minggu (12/4). Gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat pemenjaraannya,” ujar Araghchi dalam unggahan media sosial X-nya.
Dalam pernyataannya, Araghchi juga menyebut bahwa jika AS membiarkan Netanyahu menekan jalur perundingan, akhirnya itu akan menjadi pilihan yang diambil oleh pihak AS. “Kami merasa pilihan tersebut kurang bijak, tapi kami siap menghadapinya,” tambahnya.
Peran Lebanon dalam Gencatan Senjata
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menulis di X bahwa “waktu semakin mendekat habis”. Ia menekankan bahwa Lebanon dan poros perlawanan merupakan bagian tak terpisahkan dari perjanjian gencatan senjata.
Kontak Diplomatik dengan Negara-Negara Lain
Pada hari yang sama, Araghchi mengadakan pembicaraan telepon dengan menteri luar negeri Rusia, Prancis, Spanyol, dan Jerman. Dalam diskusi tersebut, ia menjelaskan pendekatan Iran yang bertanggung jawab, serta menggarisbawahi komitmen untuk memberikan jalur aman melalui Selat Hormuz selama dua minggu gencatan senjata.
“Iran mengambil pendekatan yang bertanggung jawab, dan jalur aman melalui Selat Hormuz akan diberikan jika AS memenuhi komitmennya,” kata Araghchi kepada Sergei Lavrov, menteri luar negeri Rusia.
Menteri luar negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyambut baik gencatan senjata dan menekankan perlunya menghentikan serangan Israel terhadap Lebanon. Sementara itu, Jose Manuel Albares, menteri luar negeri Spanyol, menyebut serangan terhadap Iran sebagai “tidak sah” dan mendesak semua pihak untuk tetap berpegang pada jalur diplomatik.
Serangan Israel Setelah Gencatan Senjata Berlaku
Beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan, Israel melakukan serangan terbesar dalam sehari terhadap Lebanon. Serangan ini menyebabkan lebih dari 300 korban jiwa dan 1.100 luka-luka. Meski gencatan senjata dianggap mencakup pertarungan di Lebanon, Israel menegaskan bahwa perjanjian tersebut tidak menutupi konflik dengan Iran.
