Facing Challenges: Presiden Lebanon kritik Iran dan pemimpin Hizbullah

CjkinzN000012_20260606_CBMFN0A001

Presiden Lebanon Kritik Iran dan Pemimpin Hizbullah

Facing Challenges – Beirut dan Yerusalem – Pada Jumat (5/6), Presiden Lebanon Joseph Aoun memberikan kritik tajam terhadap Iran dan Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem. Ia menyoroti ketidakpuasan rakyat Lebanon terhadap keadaan perang yang terus berlanjut, dengan menyatakan bahwa warga sipil sudah sangat lelah menghadapi dampak konflik yang menghancurkan kehidupan mereka. Pernyataan tersebut disampaikan Aoun dalam wawancara dengan Christiane Amanpour, seorang penyiar internasional dari CNN, yang diumumkan oleh Kepresidenan Lebanon. Dalam wawancara tersebut, Aoun mengungkapkan kekesalan terhadap peran Iran dalam memanfaatkan Lebanon sebagai mediasi politik.

Kritik terhadap Iran dan Hizbullah

Aoun menegaskan bahwa Iran menggunakan negara ini sebagai alat tawar-menawar dalam upayanya meraih kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. “Ini bukan negara Anda. Ini negara kami,” ujarnya dalam wawancara tersebut. Pernyataan ini menunjukkan ketegangan antara kekuatan regional dan kepentingan nasional Lebanon. Menurut Aoun, penggunaan Lebanon sebagai pihak ketiga dalam perundingan menciptakan kesan bahwa kekuatan luar sedang mengendalikan situasi internal negara ini.

Di hari yang sama, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan syarat utama untuk menerima gencatan senjata pada 8 April. Syarat tersebut mencakup keharusan gencatan senjata secara menyeluruh di seluruh front perang, termasuk wilayah Lebanon. Aoun merasa bahwa hal ini memperkuat kekhawatiran masyarakat Lebanon yang merasa tidak terlibat dalam keputusan penting yang menentukan nasib mereka.

Dalam wawancara, Aoun juga menyoroti peran Hizbullah sebagai organisasi yang secara aktif terlibat dalam konflik. Ia menegaskan bahwa negosiasi tetap menjadi jalan keluar yang paling layak untuk menyelesaikan ketegangan antara Lebanon dan Israel. Namun, menurut presiden tersebut, pemerintah Lebanon harus memastikan pengelolaan isu Hizbullah secara domestik, dengan mengejar akar masalah yang menyebabkan kehadiran kelompok bersenjata tersebut.

“Mereka adalah rakyat Lebanon, bukan rakyat Naim Qassem,” kata Aoun, merespons pernyataan Qassem yang menentang kesepakatan gencatan senjata dan mengancam akan memaksa pemerintah melalui aksi demonstrasi di jalan raya. Pernyataan ini menunjukkan ketegangan antara organisasi politik dan masyarakat umum yang terus berkembang.

Aoun mengingatkan bahwa dampak dari konflik tidak hanya terasa dalam bentuk korban jiwa, tetapi juga melalui kondisi pengungsian yang semakin memburuk dan kerusakan infrastruktur. Menurutnya, rakyat Lebanon dari berbagai kelompok dan wilayah telah terbiasa dengan pertumpahan darah yang telah berlangsung selama puluhan tahun. “Mereka adalah warga negara Lebanon, bukan milik siapa pun selain kami,” tegasnya, menegaskan kepentingan nasional sebagai prioritas utama.

Korban dari Serangan Israel

Di tengah kritik tersebut, serangan udara dan drone Israel kembali menyerang berbagai wilayah di Lebanon Selatan. Pada Jumat malam, Pusat Operasi Darurat Kesehatan Masyarakat Lebanon melaporkan bahwa serangan di Kota Zebdine menewaskan lima orang, termasuk seorang perempuan dan seorang tenaga medis, serta melukai dua warga lainnya. Menurut Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon, serangan udara terjadi di delapan kota, seperti Doueir, Habboush, dan Burj Qalaouiyah.

Dalam salah satu serangan di Distrik Tyre, pesawat tempur Israel menghantam bangunan yang menyimpan sebuah bank. Akibatnya, belasan warga sipil terluka. Hizbullah, di sisi lain, menyatakan bahwa para pejuang mereka menargetkan posisi pasukan dan kendaraan militer Israel di Kastel Shaqif (Beaufort) serta wilayah lainnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kelompok tersebut tetap aktif dalam menghadapi operasi militer Israel.

Menurut laporan dari Pusat Operasi Darurat Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, jumlah korban yang tercatat akibat serangan Israel sejak 2 Maret mencapai 3.558 warga tewas dan 10.870 orang terluka. Angka ini mencerminkan intensitas serangan yang berkelanjutan, serta dampaknya terhadap populasi sipil. Pada Jumat, pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa mereka menewaskan dua anggota Hizbullah di Lebanon Selatan.

Menurut militer Israel, kedua militan tersebut terlibat dalam bentrokan dengan unit pengintaian elit IDF, Sayeret Givati. Bentrokan tersebut menyebabkan seorang perwira Israel mengalami cedera serius, sementara komandan Sayeret Givati hanya terluka ringan. Setelah itu, IDF melakukan penyisiran di wilayah tersebut dan menemukan serta menewaskan dua militan Hizbullah yang terlibat dalam insiden tersebut. Sebagai tindak lanjut, pasukan Israel juga menggempur beberapa target infrastruktur Hizbullah.

Kritik Aoun terhadap Iran dan Hizbullah tidak hanya berfokus pada kebijakan luar negeri, tetapi juga pada dampak konflik terhadap kehidupan masyarakat Lebanon. Ia menekankan bahwa rakyat Lebanon tidak bisa lagi menunggu keputusan yang diambil oleh kekuatan luar tanpa menghiraukan kebutuhan mereka. Dalam konteks ini, presiden menegaskan bahwa Lebanon harus menjadi pusat perhatian utama, bukan sekadar alat bagi negosiasi internasional.

Dengan kejadian terbaru, jumlah korban terus meningkat, menunjukkan bahwa konflik antara Lebanon dan Israel belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Kritik dari Aoun mencerminkan keinginan untuk memperkuat kemandirian Lebanon dalam mengelola masalah keamanan, sekaligus menegaskan bahwa rakyat negara ini adalah penentu utama kebijakan yang diterapkan. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa politik luar negeri Iran dan Hizbullah kini sedang diuji coba oleh masyarakat Lebanon yang semakin tak sabar akan akhir dari pertikaian berkepanjangan ini.