Special Plan: Wamenko Pangan dorong penguatan konsumsi susu demi generasi Indonesia
Wamenko Pangan Dorong Penguatan Konsumsi Susu demi Generasi Indonesia
Special Plan – Jakarta, Minggu – Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menekankan pentingnya meningkatkan kebiasaan minum susu masyarakat Indonesia. Menurutnya, langkah ini menjadi bagian dari upaya menciptakan generasi unggul yang siap menghadapi tantangan global pada tahun 2045.
Peringatan Hari Susu Nusantara 2026 Sebagai Momentum
Sebagai pembicara dalam peringatan Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta, Hanif menyoroti kebutuhan akan promosi konsumsi susu yang lebih masif. Ia menekankan bahwa susu adalah makanan penting yang bisa mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otak, serta peningkatan kesehatan secara berkelanjutan.
“Mari kita selamatkan bangsa kita, dengan menyelamatkan generasi kita. Mari promosikan terus untuk minum susu setiap hari,” ujar Hanif. Ia juga menegaskan bahwa kebiasaan ini perlu dijaga karena mempengaruhi daya saing dan kesehatan bangsa.
Dalam paparannya, Hanif menyebutkan konsumsi susu di Indonesia masih rendah. Rata-rata, masyarakat hanya mengonsumsi sekitar satu sendok susu per hari. Angka ini dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi harian, terutama bagi anak-anak dan remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Kualitas Gizi sebagai Faktor Kunci
Menurut Hanif, susu mengandung berbagai zat nutrisi esensial seperti protein, kalsium, kalium, vitamin A, vitamin B12, dan vitamin D. Zat-zat ini sangat vital untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh, terutama dalam membentuk sistem imun, memperkuat tulang, dan mengoptimalkan fungsi otak.
Lebih lanjut, Hanif menyampaikan bahwa keberlanjutan kualitas sumber daya manusia bergantung pada ketersediaan gizi yang memadai. Ia mencontohkan bahwa dalam kondisi di mana konsumsi susu masih rendah, kesehatan masyarakat bisa terganggu. Selain itu, hal ini juga berdampak pada produktivitas generasi muda yang menjadi penopang pembangunan nasional.
Ia mengatakan bahwa meningkatkan konsumsi susu tidak bisa hanya dilakukan dalam peringatan hari raya, tetapi harus menjadi kebiasaan sehari-hari. “Segera gelorakan semangat minum susu. Wajib, karena sampai hari ini baru satu sendok (konsumsi susu), kita tidak mau kehilangan satu pun generasi kita setiap harinya,” tuturnya.
Kolaborasi dalam Meningkatkan Daya Saing
Menurut Hanif, peran pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan seluruh lapisan masyarakat sangat krusial dalam menyukseskan gerakan ini. Ia mengingatkan bahwa iklim konsumsi yang sehat perlu dibangun melalui keterlibatan semua pihak, termasuk dalam mengembangkan inovasi susu yang lebih mudah diakses dan diminati oleh berbagai kalangan.
Gerakan minum susu, menurutnya, harus dipandang sebagai bagian dari hilirisasi industri pertanian dan pangan. Dengan meningkatkan daya saing produk susu, Indonesia bisa memastikan bahwa masyarakat mendapatkan manfaat maksimal dari konsumsi susu tersebut. Selain itu, kebijakan pemerintah dalam memastikan ketersediaan susu dengan harga terjangkau juga menjadi prioritas.
Masa Depan yang Diarahkan ke Indonesia Emas 2045
Menurut Hanif, upaya peningkatan konsumsi susu tidak boleh berhenti pada peringatan Hari Susu Nusantara, melainkan harus diwujudkan dalam perubahan pola hidup sehari-hari. Ia menambahkan bahwa Indonesia sedang menikmati bonus demografi, yaitu pertumbuhan populasi usia produktif yang memungkinkan pertumbuhan ekonomi jika didukung oleh kualitas gizi yang baik.
Dalam konteks ini, Hanif menegaskan bahwa edukasi tentang pentingnya susu harus terus diperluas. Dengan memperkaya kesadaran masyarakat, ia berharap bahwa konsumsi susu bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang sehat. “Bangun iklim, hilirisasi,” kata Hanif saat mengakhiri pidatonya.
Selain itu, Hanif juga menekankan perlunya kerja sama lintas sektor untuk mengatasi hambatan dalam meningkatkan akses dan kebiasaan konsumsi susu. Ia menyinggung bahwa pemerintah perlu mendorong industri susu lokal agar mampu menghasilkan produk yang berkualitas tinggi, serta memastikan distribusi yang merata ke seluruh wilayah Indonesia.
Menurutnya, saat ini konsumsi susu nasional berkisar antara 16,2 hingga 16,8 liter per kapita per tahun. Angka ini, meskipun sudah cukup, tetap jauh dari target ideal yang bisa menciptakan tubuh sehat dan daya tahan yang optimal. Ia meminta masyarakat untuk lebih proaktif dalam memenuhi kebutuhan gizi, termasuk dengan memperkenalkan susu sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Dengan demikian, peringatan Hari Susu Nusantara 2026 dianggap sebagai momentum penting. Hanif berharap bahwa acara ini mendorong kolaborasi yang lebih kuat, serta meningkatkan kesadaran kolektif mengenai manfaat susu bagi kesehatan dan kualitas hidup generasi masa depan.
