Latest Program: Kapal Pertamina Pride tunggu perizinan untuk lintasi Selat Hormuz
Kapal Pertamina Pride Tunggu Perizinan untuk Melintasi Selat Hormuz
Latest Program – Jakarta – Dalam upaya mengamankan distribusi energi, Pertamina masih menghadapi tantangan dalam mengoperasikan kapal tanker Very Large Crude Carrier (VLCC) Pertamina Pride. Muhammad Baron, Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina, mengatakan bahwa pihaknya sedang memproses izin-izin yang diperlukan agar kapal tersebut bisa melewati Selat Hormuz. “Sampai saat ini, kami masih dalam proses memperoleh perizinan,” terang Baron saat diwawancara di acara Kick Off dan Coaching Clinic Apresiasi Jurnalistik Pertamina 2026 di Jakarta, Kamis (24/6). Pelaksanaan pengiriman minyak dari kapal tersebut masih terhambat karena kondisi Selat Hormuz yang kembali memanas, katanya.
“Kami mohon doanya agar situasi bisa mereda dan kapal tersebut bisa melintas,” ujar Baron. Ia menambahkan bahwa pengiriman energi yang dilakukan oleh Pertamina Pride akan ditujukan ke Kilang Cilacap, Jawa Tengah, setelah berhasil melewati selat tersebut.
Baron juga menyebutkan bahwa keberhasilan melintasi Selat Hormuz oleh kapal Pertamina Gamsunoro merupakan buah dari kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri. Gamsunoro sempat terjebak di daerah tersebut sejak perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memuncak. Namun, dengan koordinasi yang intens, kapal tersebut akhirnya berhasil mencapai jalur aman setelah bergerak selama empat jam setelah tiba di mulut Selat Hormuz.
Kapal Gamsunoro Berhasil Melintasi Selat Hormuz
Kapal Gamsunoro, yang merupakan salah satu armada Pertamina International Shipping (PIS), berangkat dari Teluk Arab pada Rabu (24/6) pukul 01.06 waktu Dubai, atau sekitar pukul 04.06 WIB. Kapal melaju dengan kecepatan 7,5 knot, mencapai mulut Selat Hormuz sekitar pukul 13.00 waktu setempat, atau 16.00 WIB. Setelah melalui proses yang memakan waktu empat jam, kapal tersebut dinyatakan telah melewati Selat Hormuz dan mencapai zona yang aman.
“Nanti apabila sudah melintas, itu adalah untuk di Cilacap. Kilang Cilacap,” tambah Baron. Ia menekankan bahwa keberhasilan ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengatasi hambatan geopolitik yang mengancam operasional pelayaran.
Upaya PIS Meminimalkan Dampak Geopolitik pada Pelayaran
Kapal Gamsunoro menjadi contoh nyata dari upaya Pertamina International Shipping (PIS) untuk menjaga kelancaran operasional armada di tengah ketidakpastian geopolitik global. Selat Hormuz, sebagai jalur distribusi energi paling strategis di dunia, seringkali menjadi titik rawan akibat konflik antar negara. Dalam situasi seperti ini, PIS mengambil langkah proaktif dengan melakukan koordinasi ketat dengan lembaga internasional maupun pemerintah untuk memastikan kapal dapat melewati wilayah tersebut tanpa hambatan.
Kapal Gamsunoro, yang merupakan bagian dari operasional PIS, membutuhkan waktu sekitar 16 jam untuk menyelesaikan perjalanan dari Teluk Arab ke wilayah penerima. Keberhasilannya melewati Selat Hormuz tidak hanya menunjukkan efektivitas pengelolaan operasional, tetapi juga pentingnya kesiapan logistik dan komunikasi dalam menghadapi tantangan global. Selat Hormuz menjadi pintu utama bagi sekitar 20 persen pasokan minyak mentah ke dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah ini dapat memengaruhi stabilitas pasokan energi di berbagai negara.
“Keberhasilan Gamsunoro melintasi Selat Hormuz menjadi bagian dari upaya PIS menjaga operasional pelayaran di tengah ketidakpastian geopolitik,” kata Baron. Ia menjelaskan bahwa perusahaan terus memantau dinamika politik dan militer di daerah tersebut untuk meminimalkan risiko yang mungkin terjadi.
Selat Hormuz seringkali menjadi perhatian utama bagi industri energi karena fungsi kritisnya sebagai jalur utama pengiriman minyak mentah ke pasar internasional. Konflik antara AS, Israel, dan Iran yang memanas pada beberapa waktu lalu telah menyebabkan peningkatan tekanan terhadap lalu lintas kapal di wilayah tersebut. Pertamina, sebagai perusahaan energi nasional, harus mengambil langkah-langkah ekstra untuk memastikan bahwa kapal-kapalnya bisa melewati selat tersebut dengan aman.
Baron menyebutkan bahwa selain Gamsunoro, Pertamina juga terus mempersiapkan proses perizinan untuk kapal VLCC lainnya, termasuk Pertamina Pride. Pemrosesan izin ini diperlukan untuk memastikan bahwa kapal bisa beroperasi secara optimal, terutama di tengah situasi politik yang tidak stabil. “Perizinan yang kami jalani bukan hanya prosedur formal, tetapi juga bagian dari riset terhadap kondisi terkini di Selat Hormuz,” jelas Baron.
“Kami berharap, dengan dukungan dari semua pihak, situasi di Selat Hormuz akan segera membaik,” imbuhnya. Ia menyoroti peran Pertamina dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional, terutama di tengah ketergantungan pada jalur internasional yang rentan terhadap gangguan.
Pertamina International Shipping, sebagai bagian dari Pertamina, memiliki tanggung jawab besar dalam mengirimkan bahan bakar dan minyak mentah ke berbagai pelabuhan di Indonesia dan luar negeri. Dengan adanya kapal-kapal VLCC, perusahaan mampu memenuhi kebutuhan energi yang tinggi, terutama di kawasan Jawa Tengah. Kilang Cilacap, sebagai satu dari tiga kilang utama di Indonesia, menjadi destinasi utama bagi pengiriman minyak dari Pertamina Pride.
Baron juga mengingatkan bahwa keberhasilan melewati Selat Hormuz tidak terlepas dari kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri serta pihak-pihak lain di tingkat internasional menjadi kunci dalam menghindari hambatan di wilayah strategis ini. “PIS terus memantau kondisi Selat Hormuz dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan keamanan dan kelancaran pengiriman,” tutur Baron.
Di sisi lain, keberhasilan Gamsunoro melewati Selat Hormuz membuktikan bahwa Pertamina memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi kritis. Dengan kemampuan ini, perusahaan tetap bisa menjalankan operasionalnya secara efektif meski terjadi gangguan di jalur distribusi energi global. “Kapal tersebut menjadi bukti bahwa kita mampu menyelesaikan tantangan melalui kerja sama dan kesiapan,” pungkas Baron.
Sebagai langkah pencegahan, Pertamina juga memperkuat keamanan armadanya dengan menerapkan protokol khusus di selat tersebut. Langkah-langkah ini diperlukan untuk mengurangi risiko penundaan atau kerusakan akibat keadaan yang tidak pasti. Pemrosesan izin yang terus berjalan untuk Pertamina Pride menunjukkan komitmen perusahaan dalam memastikan kelancaran distribusi energi, yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
