Latest Program: Ekonom nilai hilirisasi jadi kunci capai target investasi

Ekonom Nilai Hilirisasi Jadi Kunci Capai Target Investasi

Latest Program – Jakarta – Dalam upaya memastikan pencapaian target investasi pada tahun depan, Esther Sri Astuti, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menekankan pentingnya strategi hilirisasi yang diintegrasikan dengan reformasi perizinan dan pembangunan infrastruktur. Menurutnya, langkah-langkah ini menjadi faktor kunci dalam memperkuat iklim usaha dan menjaga dinamika pertumbuhan investasi, terutama dalam kondisi global yang terus berubah.

Pencapaian Target Investasi di Tahun 2025

Esther menyoroti bahwa target investasi nasional untuk 2026, yang mencapai Rp2.041 triliun, tetap realistis. Namun, ia menekankan bahwa pemerintah harus lebih giat dalam membangun kerangka kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Untuk mencapai angka pertumbuhan tersebut, diperlukan investasi mencapai Rp13.000 triliun dengan rasio ICOR 4, yang menunjukkan efisiensi penggunaan modal dalam pembangunan ekonomi.

“Sebenarnya untuk bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen, diperlukan investasi sebesar Rp13.000 triliun dengan ICOR 4,” ujarnya.

Dalam tahun 2025, realisasi investasi di Indonesia mencapai Rp1.931,2 triliun, melebihi proyeksi pemerintah sebelumnya sebesar Rp1.905,6 triliun. Angka tersebut juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 12,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan kinerja yang lebih baik dari sektor-sektor utama.

Strategi Peningkatan Investasi Secara menyeluruh

Kebutuhan investasi nasional, menurut Esther, sangat kritis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan bahwa strategi peningkatan investasi harus berlangsung secara menyeluruh, baik di tingkat kebijakan makro maupun mikro. Pada level kebijakan pemerintah, fokusnya ditempatkan pada penguatan nilai tambah ekonomi melalui hilirisasi, digitalisasi, serta pengelolaan risiko yang lebih adaptif.

Dalam konteks ini, hilirisasi tidak hanya membantu meningkatkan produksi dalam negeri, tetapi juga memastikan keterlibatan lebih besar dari investor asing. Kebijakan hilirisasi bertujuan mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi sebelum diekspor, sehingga mendorong transformasi ekonomi secara bertahap.

Kebijakan Pemerintah dan Penyederhanaan Regulasi

Esther juga menyoroti pentingnya reformasi perizinan dan kepastian hukum sebagai langkah strategis untuk menarik investor. Ia mengatakan, pemerintah perlu terus menyederhanakan regulasi melalui sistem perizinan terintegrasi, termasuk debottlenecking untuk menghilangkan hambatan dalam proses investasi.

Selain itu, pembangunan infrastruktur dan pengembangan konektivitas kawasan ekonomi menjadi faktor pendukung yang signifikan. Dengan menekan biaya logistik dan meningkatkan efisiensi industri, infrastruktur yang memadai dapat mempercepat alur investasi di berbagai daerah. Tantangan utama, menurutnya, adalah memastikan aksesibilitas infrastruktur yang merata dan berkelanjutan.

Strategi Investor dalam Optimisasi Portofolio

Di sisi lain, Esther menjelaskan bahwa investor juga harus berperan aktif dalam menyusun strategi pengelolaan dana. Menurutnya, optimalisasi portofolio investasi bisa dicapai melalui diversifikasi aset dan pengelolaan risiko secara teratur. “Sebar investasi ke berbagai sektor atau kelas aset untuk meredam volatilitas pasar,” tambahnya.

Ia juga menyarankan agar investor memfokuskan alokasi dana pada sektor-sektor yang memiliki prospek tumbuh jangka panjang, seperti energi terbarukan, teknologi, dan digitalisasi. Kebijakan fiskal dan nonfiskal, seperti pengurangan bea masuk serta penyediaan lahan industri, diklaim dapat menjadi pendorong utama dalam menarik minat investasi baru.

Momentum Tahun 2026 dan Proyeksi Jangka Menengah

Target investasi 2026, yang ditetapkan sebesar Rp2.041,3 triliun sesuai Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026, merupakan bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi menuju 8 persen dalam periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Tantangan utamanya adalah mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah perubahan ekonomi global yang cepat.

Dalam triwulan I 2026, realisasi investasi telah mencapai Rp498,8 triliun, tumbuh 7,2 persen dibandingkan triwulan I tahun sebelumnya. Angka ini sekaligus menyerap 706.569 tenaga kerja, menunjukkan kontribusi investasi terhadap perekonomian dan lapangan pekerjaan. Esther mengatakan, pencapaian ini menjadi dasar untuk memastikan target 2026 bisa tercapai dengan optimal.

Kebutuhan Konsistensi dan Adaptasi dalam Investasi

Mengenai strategi jangka panjang, Esther menekankan pentingnya konsistensi dan adaptasi dalam membangun portofolio investasi. Ia menyarankan pendekatan dollar cost averaging, di mana investor melakukan alokasi dana secara rutin dengan nominal tetap, tanpa terpengaruh fluktuasi pasar. Cara ini membantu memperoleh harga rata-rata aset yang lebih stabil.

Dalam pandangan Esther, hilirisasi, digitalisasi, serta reformasi perizinan harus menjadi poros utama kebijakan pemerintah. Dengan menekankan transformasi ekonomi melalui hilirisasi, Indonesia bisa meningkatkan daya saing sektor manufaktur dan agroindustri, sementara digitalisasi membuka peluang ekosistem inovasi yang lebih luas. Seluruh elemen ini perlu diintegrasikan untuk menciptakan dampak berkelanjutan di berbagai sektor ekonomi.

Peran Pemerintah dalam Menjaga Momentum Pertumbuhan