Historic Moment: DPRD Jabar dorong pemda manfaatkan libur sekolah tingkatkan ekonomi

IMG_7934

DPRD Jabar Dorong Pemda Manfaatkan Libur Sekolah Tingkatkan Ekonomi

Historic Moment –

Bandung – Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, Ketua Komisi III DPRD Jawa Barat, Jajang Rohana, menyarankan pemerintah daerah untuk memanfaatkan libur sekolah sebagai peluang meningkatkan aktivitas usaha di berbagai destinasi wisata. Menurutnya, periode libur sekolah memiliki potensi besar untuk memperkuat sektor pariwisata, yang dianggap sebagai salah satu pendorong utama aktivitas ekonomi masyarakat. “Pariwisata bisa menjadi faktor penting dalam menggerakkan perekonomian daerah, terutama di kawasan yang memiliki daya tarik wisatawan,” ujar Jajang di Bandung, Senin.

Libur Sekolah Sebagai Momentum Peningkatan Ekonomi

Jajang menekankan bahwa kunjungan wisatawan selama masa libur sekolah tidak hanya meningkatkan perputaran uang, tetapi juga mendorong pemerataan pendapatan dari wilayah perkotaan ke daerah-daerah yang kurang berkembang. Ia menjelaskan, pelaku usaha seperti warung makan, penginapan, hingga jasa transportasi atau wisata alam akan merasakan manfaat secara langsung. “Dengan libur sekolah, ekonomi bisa lebih aktif, terutama di tempat-tempat yang biasanya tidak ramai,” tambahnya.

“Ya, tentunya sektor pariwisata menjadi salah satu penggerak peningkatan ekonomi daerah, khususnya di daerah tujuan wisata,” kata Jajang.

Ia juga menyoroti peran pengelolaan destinasi wisata yang lebih intensif selama libur sekolah. Menurutnya, perencanaan yang matang bisa memastikan kunjungan wisatawan berkelanjutan, baik dari dalam maupun luar negeri. “Jika infrastruktur dan promosi wisata ditingkatkan, maka peningkatan ekonomi bisa terus terjaga,” tuturnya.

Pengembangan Pariwisata Harus Berkelanjutan

Menurut Jajang, sektor pariwisata perlu dirancang dengan pertimbangan keberlanjutan. Ia menyarankan pemda untuk meningkatkan kualitas layanan, seperti kebersihan tempat wisata, keamanan bagi pengunjung, serta kejelasan informasi tentang fasilitas yang tersedia. “Ini penting agar wisatawan merasa nyaman dan kembali berulang kali,” jelasnya.

Di samping itu, Jajang menyoroti pentingnya pendekatan kolaboratif antara pemerintah daerah, pengusaha lokal, dan masyarakat. Ia mencontohkan bahwa masyarakat sekitar destinasi wisata bisa terlibat dalam pengelolaan, seperti menggali kebudayaan setempat atau menawarkan produk unggulan yang berbeda dari daerah lain. “Dengan begini, wisatawan tidak hanya menikmati fasilitas, tetapi juga memahami nilai-nilai lokal yang lebih dalam,” tegasnya.

“Dengan adanya aktivitas wisata, akan terjadi pemerataan ekonomi, terutama di kawasan-kawasan wisata. Warung, rumah makan, penginapan hingga berbagai jasa lainnya tentu akan mendapatkan berkah dari kedatangan wisatawan,” ujarnya.

Menurutnya, libur sekolah bisa menjadi momentum untuk memperkenalkan destinasi yang baru atau kurang dikenal. “Jika kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, atau Surabaya menjadi sumber daya utama, maka daerah-daerah lain juga perlu diangkat agar ekonomi bisa lebih merata,” lanjut Jajang.

Investasi Harus Terus Didukung untuk Pertumbuhan Ekonomi

Selain fokus pada pariwisata, Jajang juga meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk terus memperkuat kebijakan yang mendukung investasi. Ia menegaskan bahwa kondisi iklim investasi menjadi faktor kritis dalam menjaga pertumbuhan ekonomi pada 2026. “Kemudahan perizinan, kepastian hukum, dan fasilitas yang memadai adalah kunci agar investor tetap tertarik berinvestasi di Jawa Barat,” ujarnya.

Menurut Jajang, realisasi investasi di Jawa Barat pada 2025 telah mencapai target yang lebih tinggi dari Rp300 triliun. Momentum ini perlu dipertahankan dengan penguatan kebijakan yang terstruktur. “Nilainya sudah melebihi target, jadi kita harus menjaga agar pertumbuhan ekonomi tidak turun,” katanya.

“Supaya tidak turun, berarti nilai investasinya harus ditingkatkan, kemudahan, kepastian, iklim investasinya. Terus didukung juga infrastruktur supaya investor mau ke Jawa Barat,” katanya.

Ia menekankan bahwa penguatan infrastruktur, seperti jalan raya, bandara, atau akses ke tempat-tempat wisata, menjadi bagian penting dari strategi tersebut. “Jika infrastruktur membaik, maka kemudahan akses ke berbagai kawasan wisata akan meningkat, sehingga menarik lebih banyak wisatawan,” jelasnya.

Peran Pemda dalam Mendorong Keterlibatan Masyarakat

Menurut Jajang, peran pemerintah daerah juga melibatkan pengelolaan sumber daya manusia. Ia menyarankan adanya pelatihan untuk masyarakat lokal agar mereka bisa menjadi bagian dari industri wisata. “Misalnya, pelatihan menjadi pemandu wisata, pengelola restoran, atau penginapan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jajang menyoroti kebutuhan pengembangan promosi destinasi wisata secara digital. Ia menambahkan bahwa media sosial dan platform online bisa menjadi alat efektif untuk menjangkau pasar yang lebih luas. “Dengan promosi yang lebih baik, maka pengunjung dari luar negeri bisa lebih banyak,” katanya.

Di sisi lain, Jajang juga mengingatkan agar pengembangan pariwisata tidak merugikan lingkungan. Ia menyarankan adanya kebijakan yang menjaga ekosistem lokal agar pariwisata bisa berkelanjutan. “Kita tidak ingin keindahan alam daerah rusak hanya karena meningkatkan kunjungan wisatawan,” ujarnya.

Kesiapan Pemda Hadapi Tantangan di 2026

Menyikapi target pertumbuhan ekonomi pada 2026, Jajang berharap pemda bisa lebih proaktif dalam merencanakan kebijakan yang menghadapi tantangan. Ia mencontohkan bahwa permintaan wisatawan mungkin berubah akibat kondisi ekonomi global atau faktor lainnya. “Kita harus siap menghadapi perubahan dan tetap menjaga kualitas layanan,” jelasnya.

Menurutnya, pengelolaan libur sekolah secara optimal memerlukan koordinasi antara berbagai instansi, seperti dinas pariwisata, dinas pendidikan, dan dinas perhubungan. “Kerja sama yang baik antarlembaga bisa memastikan aktivitas wisata tidak terganggu oleh masalah seperti kemacetan atau kehabisan fasilitas,” tambahnya.

Jajang berharap, dengan memanfaatkan momentum libur sekolah dan memperkuat berbagai faktor ekonomi, Jawa Barat bisa mencapai pertumbuhan yang lebih stabil. Ia menilai bahwa kombinasi antara pariwisata dan investasi akan menjadi pondasi kuat bagi perekonomian daerah. “Dengan demikian, Jawa Barat tidak hanya menjadi pusat pertumbuhan, tetapi juga bisa mendorong keberlanjutan ekonomi yang lebih merata,” pungkasnya.