Bapanas: Harga kedelai mahal di Jakarta bukan dari distributor resmi
Bapanas Klarifikasi Kenaikan Harga Kedelai di Pasar Menteng Pulo
Jakarta, Kamis — Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengklarifikasi kenaikan harga kedelai yang terjadi di Pasar Menteng Pulo. Menurutnya, harga mencapai Rp20.000 per kilogram tidak berasal dari distributor resmi, melainkan dari pedagang kecil yang memiliki stok terbatas, menyebabkan perbedaan harga di pasar.
Harga Kedelai Tetap Berlaku Sesuai Aturan
Dikutip dari Peraturan Bapanas Nomor 12 Tahun 2024, harga acuan kedelai (HAP) untuk konsumen atau perajin tahu dan tempe diberlakukan maksimal Rp11.400 per kg untuk lokal serta Rp12.000 per kg untuk impor. “Harga yang disebut Rp20.000 di Pasar Menteng Pulo adalah harga khusus dari pedagang kecil, bukan harga pasar umum,” jelas Ketut.
“Dari sisi kuantitas, stok yang tersedia memang sangat sedikit dalam sebulan. Karena itu, kami klarifikasi kebenaran berita,” beber Ketut.
Dalam sidak yang dilakukan Bapanas bersama Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta, Ketut menyebutkan pedagang dengan harga Rp20.000 per kg mengambil stok dari pembelian daring. Mereka hanya membeli dalam jumlah kecil dan mengalami kesulitan dalam menjual, sehingga barang terdapat di pasar memakan waktu lama untuk habis.
Pedagang Kedelai: Stok Terbatas Jadi Penyebab Harga Tinggi
Heni, salah satu pedagang kedelai di pasar tersebut, mengungkapkan pembelian stok dilakukan secara daring dengan harga Rp10.100 sampai Rp10.200 per kg. “Saya beli paling banyak 6 kg dengan tiga akun, masing-masing 2 kg. Pembeli saya bukan perajin, tapi pedagang bubur ayam atau konsumen seperti anak sekolah,” kata Heni.
“Kadang stok habis dalam sebulan, kadang lebih lama. Jadi harganya dinaikkan untuk menyesuaikan permintaan,” tambah Heni.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengatakan inspeksi tersebut bertujuan memberikan informasi jelas kepada masyarakat. “Setelah dicek, memang ada harga Rp20.000 per kg. Namun, penyebabnya adalah variasi stok dan kebutuhan pembeli yang berbeda,” ujar Hasudungan.
Bapanas berencana menindaklanjuti pemeriksaan lebih lanjut. Pihaknya akan menempatkan petugas untuk mengamati kondisi harga kedelai secara menyeluruh, termasuk ke perajin tahu dan tempe di Jakarta. “Tujuannya agar harga tetap stabil dan transparan,” kata Ketut.
