Visit Agenda: Studi: Gen Z pilih musik dan konten andalkan nostalgia

khrisna-edit-1783847015-90c0634f03

Generasi Z Menemukan Kembali Masa Lalu Melalui Nostalgia Digital

Visit Agenda – Penelitian terkini menunjukkan bahwa generasi muda saat ini memiliki hubungan yang unik dengan masa lalu. Generasi Z, yang lahir antara tahun 1995 hingga 2010, ternyata menjadi kelompok yang paling kuat merasakan daya tarik nostalgia ketika memilih musik dan konten hiburan. Fenomena ini bukan sekadar kecenderungan biasa, melainkan sebuah tren budaya yang semakin signifikan dalam cara generasi muda mengonsumsi media.

Metodologi dan Lingkup Penelitian

Studi yang berjudul “Then is Now: A Study on Modern Nostalgia” ini dilakukan dengan metodologi yang komprehensif. Sebanyak 1.800 responden berpartisipasi dalam survei tersebut, dengan distribusi yang merata di tiga negara utama, yaitu Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Responden dibagi menjadi tiga kelompok generasi yang berbeda, yakni Gen X, Milenial, dan Gen Z. Penelitian ini ditugaskan oleh Vevo, sebuah platform streaming video musik yang merupakan milik bersama dari Sony Music dan Universal Music Group.

Platform Vevo memiliki keunggulan dalam hal katalog musik. Mereka menyimpan koleksi lagu-lagu dari era 1980-an, 1990-an, hingga 2000-an. Koleksi ini tidak hanya digunakan untuk pemutaran musik biasa, tetapi juga sering kali diintegrasikan ke dalam film maupun serial televisi, baik yang bergenre fiksi maupun nonfiksi. Hal ini menjadikan Vevo sebagai jembatan penting antara konten masa lalu dan penonton generasi baru.

Fenomena Nostalgia Pinjaman pada Generasi Z

Salah satu temuan paling menarik dari studi ini adalah konsep yang disebut sebagai “borrowed nostalgia” atau nostalgia pinjaman. Gen Z menunjukkan kerinduan yang kuat terhadap suasana dan budaya dari masa yang sebenarnya belum pernah mereka alami secara langsung. Mereka tidak memiliki memori pribadi tentang era tersebut, namun tetap merasa terhubung secara emosional dengan periode waktu yang berbeda dari kehidupan mereka.

Dalam temuan studi, sebanyak 64 persen responden Gen Z menyatakan bahwa nostalgia memiliki pengaruh besar terhadap konten yang mereka tonton sehari-hari. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah generasi muda ini secara sadar atau tidak sadar memilih konten berdasarkan elemen nostalgia. Bahkan, 88 persen Gen Z menyebut bahwa nostalgia membuat pengalaman emosional mereka terhadap konten terasa lebih mendalam dan bermakna.

Peran Konten Baru dalam Menghidupkan Kembali Masa Lalu

Rob Christensen, Executive Vice President of Global Sales Vevo, memberikan penjelasan penting mengenai fenomena ini. Ia menekankan bahwa konten dan musik bernuansa nostalgia memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi penonton modern. Christensen menjelaskan bahwa konten baru saat ini justru menjadi pintu masuk agar katalog lama dan konten nostalgia ditemukan kembali, baik oleh penonton baru maupun oleh para penggemar lama.

“Konten baru saat ini justru menjadi pintu masuk agar katalog lama dan konten nostalgia ditemukan kembali, baik oleh penonton baru maupun oleh para penggemar lama,” ujar Christensen.

Contoh nyata dari fenomena ini dapat dilihat dari serial-serial populer yang dirilis beberapa tahun terakhir. Ketika serial baru yang dipenuhi lagu-lagu lawas, seperti “Stranger Things” dari Netflix atau “Love Story: John F. Kennedy and Carolyn Bessette” dari FX dirilis, jumlah penayangan video musik terkait di Vevo ikut meningkat secara signifikan. Hal ini membuktikan bahwa konten visual modern dapat menggerakkan minat terhadap musik lama.

Perubahan Siklus Nostalgia Budaya Pop

Salah satu aspek yang menarik dari penelitian ini adalah perubahan dalam siklus nostalgia budaya pop. Sebelumnya, siklus nostalgia berlangsung sekitar 20 hingga 25 tahun. Namun, kini siklus tersebut semakin cepat, didorong oleh Gen Z dan Milenial muda yang sejak kecil telah tumbuh sebagai generasi digital. Perbedaan definisi generasi dalam penelitian ini adalah Gen X didefinisikan sebagai kelompok usia 46–61 tahun, Milenial 30–45 tahun, dan Gen Z 14–29 tahun.

Generasi digital ini merindukan pengalaman bersama yang pernah ada sebelum konten bisa diakses secara instan sesuai permintaan. Mereka mencari koneksi dengan masa lalu melalui cara-cara yang berbeda dari generasi sebelumnya. Konsumen yang datang ke Vevo karena dorongan nostalgia atau setelah menemukan lagu lama dari film maupun serial TV juga semakin terdorong untuk mencari lebih banyak konten serupa, menciptakan lingkaran konsumsi yang berkelanjutan.

Dampak Layanan Streaming terhadap Konektivitas Generasi

Laporan studi tersebut menyoroti bagaimana teknologi streaming telah mengubah lanskap budaya. Karena layanan streaming menghapus batas antargenerasi, audiens muda kini dapat dengan mudah mengakses konten-konten klasik dan membangun ikatan emosional yang kuat dengan momen budaya dari beberapa dekade sebelum mereka lahir. Ini menciptakan ruang dialog baru antara generasi yang berbeda, di mana musik dan konten menjadi bahasa universal yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada industri musik dan hiburan, tetapi juga pada cara kita memahami identitas budaya. Gen Z tidak lagi melihat masa lalu sebagai sesuatu yang jauh dan terpisah, melainkan sebagai sumber inspirasi yang relevan dengan kehidupan mereka saat ini. Melalui nostalgia pinjaman, mereka menemukan makna dan koneksi yang memperkaya pengalaman mereka terhadap dunia sekitar.