IHSG jelang akhir pekan ditutup menguat ikuti bursa kawasan Asia

khrisna-edit-1783680482-89f404fefd

IHSG Menutup Menguat di Akhir Pekan, Ikuti Gerakan Bursa Asia

IHSG jelang akhir pekan ditutup menguat – Jakarta mencatatkan penutupan positif untuk Indeks Harga Saham Gabungan pada hari Jumat sore. Penurunan yang terjadi menunjukkan sentimen optimis pasar saham Indonesia mengikuti tren penguatan yang terjadi di berbagai bursa kawasan Asia. Penutupan IHSG mencatatkan kenaikan sebesar 11,92 poin atau setara dengan 0,20 persen dari posisi sebelumnya. Angka ini menempatkan indeks utama pada level 5.924,36.

Sementara itu, kelompok saham unggulan yang dikenal dengan indeks LQ45 juga menunjukkan performa positif. Indeks tersebut berhasil naik 1,88 poin atau 0,32 persen dan berakhir di posisi 589,25. Penguatan ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas pasar domestik di tengah dinamika global yang sedang berlangsung.

Faktor Pendorong Penguatan Pasar

Menurut analisis Maximilianus Nico Demus atau yang lebih dikenal dengan nama Nico, Associate Director of Research and Investment di Pilarmas Investindo Sekuritas, pergerakan IHSG dan bursa regional Asia didorong oleh perkembangan positif terkait negosiasi perdamaian. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Iran akan melanjutkan proses negosiasi mereka.

“Jelang akhir pekan, IHSG dan Bursa regional Asia bergerak menguat menyusul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran akan melanjutkan negosiasi perdamaian,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta pada hari Jumat.

Nico menjelaskan bahwa sinyal perdamaian antara kedua negara besar tersebut memberikan harapan baru bagi proses diplomasi lanjutan. Hal ini terjadi setelah AS dan Iran melakukan serangan militer di Teluk pada awal pekan ini. Ketegangan yang sempat muncul kemudian mereda seiring dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memberikan sinyal positif untuk tetap melanjutkan proses negosiasi dengan Iran.

Iran sendiri dilaporkan berupaya melakukan negosiasi untuk membantu meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan yang berkepanjangan serta tekanan inflasi yang mungkin terjadi. Perkembangan ini menjadi faktor eksternal yang mendukung sentimen pasar saham di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Perkembangan Dalam Negeri dan Proyeksi Ekonomi

Dari sisi domestik, pasar modal Indonesia mencatatkan aktivitas yang cukup dinamis. Sebanyak enam perusahaan telah melangsungkan Initial Public Offering (IPO) di pasar modal Indonesia sepanjang pekan ini. Hal ini menunjukkan minat investor terhadap penawaran saham baru di dalam negeri.

Laporan World Economic Outlook (WEO) Juli 2026 dari Dana Moneter Internasional (IMF) juga memberikan gambaran positif. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di angka 5,0 persen pada tahun 2026 dan 5,1 persen pada tahun 2027. Prediksi ini tidak mengalami perubahan dari laporan April 2026 sebelumnya.

“Proyeksi itu menunjukkan pertumbuhan yang realistis di saat perlambatan yang dialami sejumlah negara di kawasan Asia maupun ekonomi besar dunia,” ujar Nico menambahkan.

Kondisi Indonesia dinilai tangguh karena mampu bertahan di tengah tren perlambatan ekonomi global dan negara tetangga. Ketahanan ini menjadi indikator positif bagi stabilitas pasar saham domestik.

Performa Sektoral dan Saham Unggulan

IHSG dibuka dengan penguatan dan bertahan di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, indeks masih konsisten berada di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham secara keseluruhan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor berhasil mencatatkan penguatan. Sektor energi memimpin dengan kenaikan 0,97 persen. Sektor barang baku dan sektor barang properti mengikuti dengan kenaikan masing-masing sebesar 0,56 persen. Sementara itu, empat sektor lainnya mengalami pelemahan. Sektor industri turun 0,67 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor barang kesehatan yang masing-masing naik sebesar 0,58 persen dan 0,48 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar antara lain PRDL, RANS, BKPD, KONI, dan KOKA. Sebaliknya, saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni JELI, BAPA, JECX, SKBM, dan HATM.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.900.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 15,61 miliar lembar saham senilai Rp8,84 triliun. Sebanyak 383 saham naik, 252 saham menurun, dan 330 saham tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini juga menunjukkan pergerakan beragam. Indeks Nikkei menguat 1,58 persen ke level 68.814,00, sementara indeks Shanghai melemah 1,00 persen ke 3.911,16. Indeks Hang Seng menguat 0,60 persen ke 24.175,12, dan indeks Strait Times juga menguat 0,60 persen ke 5.466,31.