New Policy: Kemenpar: Indonesia harus garap pasar besar wisatawan muslim dunia

WhatsApp-Image-2026-06-27-at-18.50.57

Kemenpar: Indonesia Perlu Menggarap Pasar Wisatawan Muslim Dunia

New Policy – Jakarta – Dalam upaya meningkatkan sektor pariwisata, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengungkapkan pentingnya menggarap pasar wisatawan Muslim secara serius. Pasar ini dianggap sebagai salah satu segmen yang tumbuh pesat di dunia, didukung oleh peningkatan jumlah populasi Muslim global. Dalam acara Islamic Financial Dialogue di Jakarta, Rabu, Masruroh, Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata, menyampaikan bahwa data dari Global Muslim Travel Index (GMTI) menunjukkan potensi besar dalam menjangkau kelompok ini.

Potensi Pasar yang Masih Terbuka

Menurut Masruroh, 71 persen dari populasi Muslim di seluruh dunia berusia di bawah 40 tahun. Kelompok usia ini dikenal sebagai generasi produktif yang memiliki kemampuan membelanjakan tinggi dan berpotensi menjadi penggerak utama ekonomi di masa depan. “Kita harus memperhatikan bahwa populasi Muslim ini bukan hanya calon wisatawan, tapi juga pelaku konsumsi yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi,” jelasnya dalam pernyataan yang dikutip.

“Kalau kita tidak menggarap pasar ini dengan baik, kita akan kehilangan peluang besar yang bisa memberikan kontribusi signifikan bagi sektor pariwisata dan ekonomi Indonesia,” kata Masruroh.

Menambahkan, Masruroh menekankan bahwa wisatawan perempuan Muslim menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan kelompok lain. Dari data GMTI, jumlah mereka mencapai sekitar 90 juta orang, yang merupakan hampir 48 persen dari total wisatawan Muslim global. “Dari angka tersebut, kita bisa melihat bahwa perempuan Muslim menjadi salah satu komponen utama dalam menggerakkan perekonomian,” tambahnya.

Usia dan Minat Wisatawan Muslim

Populasi wisatawan Muslim ini didominasi oleh kelompok usia muda, dengan usia median sekitar 25 tahun. Kelompok ini menunjukkan keinginan kuat untuk menjelajah budaya lokal, berbelanja, serta mengikuti aktivitas wisata olahraga. Mereka juga lebih memperhatikan kenyamanan dan keamanan, terutama dalam mencari destinasi yang ramah terhadap kebutuhan religius.

Karakteristik tersebut, menurut Masruroh, membentuk perilaku wisatawan Muslim yang lebih aktif dan mandiri. Mereka cenderung menggunakan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk merencanakan perjalanan secara lebih efisien. “Ini menunjukkan bahwa kita perlu memperkuat infrastruktur digital dan layanan pariwisata yang sesuai dengan pola hidup mereka,” katanya.

Pertumbuhan Ekonomi dan Pengeluaran Halal

Dari sisi ekonomi, Masruroh menyebutkan bahwa konsumsi belanja halal secara global pada tahun 2024 telah mencapai 2,6 triliun dolar AS. Dalam hal ini, wisata ramah Muslim menjadi bagian penting, dengan kontribusi sekitar 11,2 persen dari total pengeluaran di pasar halal. “Data ini membuktikan bahwa gaya hidup halal tidak lagi sekadar ceruk pasar, tetapi sudah menjadi bagian dari arus utama pariwisata dan ekonomi global yang etis serta berkelanjutan,” jelasnya.

Kemenpar, lanjutnya, terus mengembangkan pedoman layanan dasar untuk memastikan pengalaman wisatawan Muslim tetap optimal. Upaya ini dilakukan meskipun Indonesia memiliki keberagaman budaya dan destinasi yang beragam. “Kita perlu memastikan setiap bagian dari industri pariwisata, mulai dari hotel, restoran, hingga atraksi wisata, dapat menyediakan layanan yang memenuhi kebutuhan mereka,” tambahnya.

Strategi untuk Membangun Ekosistem Halal

Masruroh menyoroti bahwa pengembangan ekosistem halal membutuhkan kolaborasi antar sektor. Salah satu fokus utama adalah meningkatkan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang terlibat dalam industri halal. “UMKM ini menjadi tulang punggung dalam memenuhi permintaan wisatawan Muslim, terutama dalam hal makanan, perhotelan, dan layanan kebersihan,” katanya.

Di sisi lain, pemerintah juga berupaya memperkuat ketersediaan tempat wisata yang memiliki nilai sejarah atau budaya Islam. Atraksi seperti masjid, pesantren, atau kawasan bersejarah dipercaya mampu menarik minat wisatawan Muslim yang ingin menggabungkan perjalanan dengan pengalaman spiritual. “Dengan memadukan ekonomi dan budaya, kita bisa menciptakan destinasi yang unik dan bernilai ekonomi tinggi,” ujar Masruroh.

Isu Pariwisata dan Peran Kementerian

Masruroh menjelaskan bahwa Kemenpar tidak hanya fokus pada pengembangan fisik destinasi, tetapi juga pada penguatan kapasitas industri untuk melayani wisatawan Muslim. “Kita perlu mengadakan pelatihan dan penguatan kapasitas tenaga kerja di sektor pariwisata,” katanya. Ia menambahkan bahwa Kemenpar juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dan pengusaha dalam memperluas akses layanan halal.

Dalam konteks ini, pemerintah menggandeng sejumlah lembaga untuk merumuskan standar layanan pariwisata yang ramah Muslim. Hal ini termasuk mengembangkan infrastruktur transportasi, penginapan, dan atraksi wisata yang memenuhi persyaratan kebersihan dan kenyamanan. “Kita perlu menciptakan ekosistem pariwisata yang bisa mengakomodasi kebutuhan wisatawan Muslim secara komprehensif,” tuturnya.

Masa Depan Pariwisata Indonesia

Dengan adanya tren wisatawan Muslim yang terus meningkat, Kemenpar berharap bisa memanfaatkan peluang ini untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi utama di Asia Tenggara. “Kita harus berpikir jangka panjang dan menggarap pasar ini secara berkelanjutan,” kata Masruroh. Ia menekankan bahwa keterlibatan pemerintah dan swasta sangat penting dalam mengubah paradigma pariwisata Indonesia menjadi lebih inklusif dan modern.

Menurut data, 90 juta wisatawan Muslim ini tidak hanya mengunjungi Indonesia, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan ekspor dan pembangunan lokal. “Dengan menggarap pasar ini, kita bisa mengembangkan pariwisata yang lebih seimbang dan berdampak sosial ekonomi yang luas,” ujarnya. Ia menutup pernyataannya dengan harapan bahwa langkah-langkah yang diambil dapat meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat internasional.

Pendekatan Kemenpar ini sejalan dengan visi pemerintah untuk memperluas pasar pariwisata Indonesia, terutama ke arah kawasan Asia Timur dan Afrika. “Dengan membangun hubungan yang baik dengan komunitas Muslim di luar negeri, kita bisa memperkuat ikatan perdagangan dan pariwisata,” katanya. Penekanan pada digitalisasi dan keberlanjutan dianggap sebagai kunci utama dalam mewujudkan target tersebut.

Sementara itu, Masruroh menegaskan bahwa keberagaman budaya Indonesia justru menjadi