New Policy: BI Kalbar perkuat stabilitas ekonomi hadapi ketidakpastian global
Bank Indonesia Kalbar Optimalisasi Kebijakan Ekonomi untuk Menghadapi Tantangan Global
New Policy – Pontianak, Rabu – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Barat terus mengambil langkah strategis dalam memperkuat berbagai aspek kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan sektor keuangan. Tujuan utamanya adalah menjaga keseimbangan stabilitas ekonomi lokal meski di tengah meningkatnya volatilitas pasar global yang dipicu oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi internasional, tekanan inflasi, serta dinamika pergerakan nilai tukar mata uang asing. Hal ini diungkapkan oleh Kepala BI Kalbar, Doni Septadijaya, dalam wawancara di Pontianak, yang menekankan pentingnya kebijakan ekonomi yang adaptif dan komprehensif.
Pengaruh Ketidakpastian Global terhadap Pasar
Doni Septadijaya menyoroti bahwa kondisi ekonomi dunia saat ini masih terdampak oleh ketidakpastian yang cukup tinggi. Menurutnya, perlambatan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara utama dan kenaikan inflasi global menjadi faktor utama yang memengaruhi arus modal internasional. “Ketidakpastian global masih cukup tinggi. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatnya tekanan inflasi menjadi tantangan yang perlu diantisipasi karena berpengaruh terhadap arus modal, nilai tukar, hingga harga berbagai komoditas dunia,” tutur Doni.
Kebijakan BI untuk Meminimalkan Risiko Global
Untuk mengurangi dampak dari perubahan global, BI Kalbar melaksanakan sejumlah langkah preventif. Salah satu tindakan utamanya adalah meningkatkan intervensi di pasar valuta asing, memastikan kecukupan likuiditas perbankan, serta memperluas penggunaan transaksi berbasis mata uang lokal (LCT). Selain itu, BI juga melakukan pengawasan ketat terhadap transaksi valuta asing bernilai besar, agar tidak merusak keseimbangan sektor eksternal. Doni menambahkan bahwa langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari upaya untuk menjaga ketahanan perekonomian nasional.
Kebijakan Suku Bunga dan Inflasi
Sebagai bagian dari upaya stabilisasi ekonomi, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75 persen. Kebijakan ini bertujuan untuk mencegah tekanan inflasi yang meningkat, sekaligus menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil. “Kenaikan BI Rate menjadi langkah preventif untuk memastikan inflasi berada dalam target sebesar 2,5 persen plus minus satu persen,” jelas Doni. BI juga memperhatikan fluktuasi harga bahan pangan, yang dianggap cukup terkendali, sehingga memberikan ruang untuk pertumbuhan ekonomi.
Ekspansi Digitalisasi dalam Perekonomian
BI Kalbar mengakui peran penting dari sektor ekonomi digital dalam mendorong keberlanjutan perekonomian. “Nilai transaksi pembayaran digital dan mobile banking di Indonesia terus mencatat pertumbuhan dua digit, menunjukkan semakin tingginya adopsi layanan digital oleh masyarakat sekaligus menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Doni. Ia menekankan bahwa digitalisasi sistem pembayaran tidak hanya meningkatkan efisiensi transaksi, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi dalam menghadapi tantangan global.
Kebijakan Makroprudensial untuk Mendorong Pertumbuhan
Di samping stabilitas nilai tukar, BI Kalbar juga memperkuat dukungan terhadap sektor-sektor prioritas. Kebijakan makroprudensial, seperti insentif likuiditas, relaksasi instrumen kebijakan, serta percepatan digitalisasi sistem pembayaran, menjadi fokus utama. Doni menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk menumbuhkan sektor riil, termasuk UMKM, industri pengolahan, pangan, dan ekonomi syariah. “Penguatan finansial bagi sektor ini akan membantu meningkatkan daya beli masyarakat dan memperkuat pertumbuhan ekonomi lokal,” tambahnya.
Peran BI dalam Meningkatkan Literasi dan Inovasi
Sebagai bagian dari upaya menciptakan ekosistem ekonomi yang tangguh, BI Kalbar aktif dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Langkah ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan layanan keuangan, baik dalam bentuk transaksi digital maupun penanaman modal. “Kami juga mengadakan promosi investasi dan fasilitasi ekspor produk unggulan daerah seperti kopi Kalimantan Barat, yang mulai menembus pasar internasional melalui forum dagang,” kata Doni.
Persiapan Kalimantan Barat dalam Menghadapi Dinamika Ekonomi
Doni Septadijaya menekankan pentingnya sinergi antara BI Kalbar dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha. “Kami berupaya memperkuat digitalisasi pembayaran berbasis QRIS, yang diperkirakan akan meningkatkan efisiensi transaksi dan akses keuangan bagi masyarakat luas,” ujarnya. Ia juga memperkenalkan program peningkatan literasi keuangan yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar tentang manajemen keuangan, penghematan, dan investasi. “Selain itu, kami terus mengawasi dinamika pasar keuangan untuk memastikan tidak ada kejadian yang mengganggu keseimbangan ekonomi,” tambah Doni.
Potensi Kenaikan Harga dan Penyesuaian Strategi
Di sisi inflasi, BI
